Ice Boy

Ice Boy
#Makasih



Dengan bosan,Kila menelungkupkan wajahnya diatas meja.Dengan bantuin tas sekolahnya yang menutupi wajahnya.Saat ini tidak ada siapun lagi selain dirinya yang ada dikelas.Teman temannya sudah berhamburan keluar sedari tadi.Entah apa yang mereka lakukan sampai sampai setiap bel istirahat mereka akan antusias pergi keluar.Padahal yang ia tahu,teman temannya itu pasti akan melakukan hal yang sama setiap harinya.Dan tidak jauh dari tempat yang bernama 'kantin'. Begitu halnya dengan Via.Gadis yang selalu menemaninya saat itu sudah pergi meninggalkan Kila sendirian dikelasnya.


Karena tempat Kila yang berada tepat di samping tembok,jadi ai lebih leluasa untuk bersantai.Bahkan ia juga beberapa kali tertidur di waktu jam pelajaran sedang berlangsung jika dirinya benar benar kantuk. Untunglah ada Via yang nantinya akan menjelaskan ulang pelajaran pada dirinya.


Baru saja matanya akan terpejam pulas. Kila mengurungkan niatnya itu saat sebuah benda menghantam mejanya dengan cukup keras.Langsung saja ia mendongkakkan kepalanya.Matanya melebar saat Kavin sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.Lelaki itu berdiri dengan tatapan datarnya.Kedua tangannya pun ia masukkan kedalam saku celananya.


"Ini sekolah,bukan tempat tidur".Ujarnya yang langsung membuat Kila merasa malu. Iapun tersenyum canggung.Matanya pun bergerak turun dan bertanya tanya pada benda yang terbungkus paper bag yang berada diatas meja.Ia tidak tahu apa yang berada didalamnya,tetapi ia tahu yang membawanya itu adalah Kavin.


"Buat lo".Ujarnya karena wajah Kila yang tampak bertanya tanya.


Tanpa mengeluarkan suara apapun lagi, Kavin lekas melenggang pergi ke arah pintu keluar."Kalo lo gak suka,lo bisa ngomong langsung".Sahutnya.Tapi bagi Kila,itu bukanlah sebuah ucapan.Tetapi sebuah peringatan lebih tepatnya lagi mungkin sindiran.Akhirnya Kila pun mengingat kejadian yang lalu saat dirinya memakan makanan yang tidak ia suka.


Kila pun nampak termenung dan mengaku salah.Setelah Kavin benar benar pergi, tangannya telulur meraih paper bag itu. Tangannya pun meraba raba kedalam dan menarik sebuah benda yang berukuran cukup besar berbentuk persegi panjang keluar. Matanya berbinar saat melihat sketch book dan perlengkapan lainnya.Iapun langsung bergegas keluar dan mendapati Kavin yang masih berdiri tak jauh dari kelasnya.Dengan cepat,Kila berlari kearahnya dengan senyuman lebar.


"Makasih,dan maaf".Ujar Kila saat dirinya sudah berdiri bersisian dengan Kavin.


"Hmm,,,,".Gumam lelaki itu,menanggapi ucapan Kila.Walaupun hanya jawaban


singkat yang Kila dengar,ia merasa senang setidaknya ia mendapatkan sebuah jawaban. Daripada ia tidak mengucapkannya sama sekali.


Selesai mengucapkan itu,Kila membalikkan tubuhnya kembali menuju kelas.Karena Kavin sendiri berjalan menuju sebuah lorong yang ia ketahui itu jalan ke arah tangga yang akan tembus kelantai tiga.Lantai kelas 12 berada.


"Kila lo abis darimana?Terus ini punya siapa?".Tanya Riris yang sudah berada di dalam kelas.


"I--Itu punya aku kok.Tadi Kak Kavin yang kasih".Balasnya sedikit gugup karena kelasnya sudah diisi oleh beberapa temamnya yang lain.Langsung saja mereka menatap horor ke arah Kila setelah mendengar nama Kavin.


Merasa keadaan kelas yang tidak bersahabat lagi,Via langsung saja memasukan kembali barang barang yang sempat ia lihat itu ke tempatnya semula.Dan langsung ia simpan kedalam tas Kila.


"Udah ayo sini".Panggil Via sambil menepuk nepuk kursi sahabatnya agar ia duduk disana. Dengan senang hati,Kila pun menurut dan duduk ditempat itu.Setelahnya keadaan kelas pun semakin hening,dengan bisikan demi bisikan yang terlontar dari mulut mulut pedas gadis gadis yang tidak menyukai hubungan Kila.


>>>>>>


"Semuannya cepet kelapangan,ada tontonan seru!!".Teriak salah seorang siswa di pintu masuk kantin.Merasa penasaran,semua orang yang menempati kantin pun segera berhamburan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Ada apa sih?".Tanya Riris yang saat itu baru saja menyantap makanannya.Sedangkan kedua sahabatnya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.Mereka pun melakukan hal yang sama,yaitu berjalan berbondong bondong menuju lapangan.


"*Udah lama mereka gak berantem.Sekarang masalah apa lagi ya?".


"Iya,gue juga penasaran!".


"Kayaknya Kak Kavin udah emosi banget deh".


"Betul tuh,sampe sampe Kak Bayu babak belur kayak gituh*".


"Kak Kavin?".Gumam Kila saat orang orang yang berkumpul itu menyebut nama Kavin. Dengan susah payah,Kila pun menerobos kerumunan agar bisa melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi.Setelah usahanya berhasil,matanya pun ia tujukan kearah depan dengan sedikit menyipit.


Mata yang semula menyipit itupun kini membuka lebar lebar saat sudah mengenali orang yang saat ini berada dalam pergelutan adu tangan dan mulut itu.Keduannya sudah sama sama dipenuhi oleh luka lebam dan memar.Tetapi keduannya tidak berniat untuk sedikit pun menghentikan aktivitas berbahaya itu.Walaupun sudah banyak orang yang hendak memisahkan,tetap saja usaha mereka sia sia karena pada akhirnya mereka sendirilah yang akan mendapatkan pukulan nantinya.


Kila bernafas lega akhirnya kedua lelaki yang tadi beradu tangan dan mulut itupun menghentikan kegiatan buruk mereka.Teman temannya langsung saja menarik keduannya agar perkelahian itu tidak terjadi lagi. Semuannya pun digiring ke UKS untuk mengobati luka luka keduannya.


Kila mengambil kotak obat P3K dari dalam lemari yang berada di UKS.Dengan beberapa bantuan para PMR lain,mereka bergerak membersihkan luka luka yang berada di wajah Kavin dan Gilang.


"Kila,lo aja deh yang obatin luka yang ada di wajah Kak Kavin.Kita gak pada berani".Bisik Amara,salah satu anggota PMR sekaligus teman Kila.


Kila yang tadinya sedang menyiapkan obat, terpaksa menghentikan sebentar aktivitasnya dan menatap ke arah sekitar.Benar saja,tidak ada satupun yang berani untuk mengobati luka Kavin karena lelaki itu memancarkan aura yang menyeramkan.Bahkan bulu kuduk Kila pun sampai terangkat dibuatnya.


Dengan berususaha payah,Kila pun berjalan mendekat.Dengan membawa botol alkohol dan kapas ditangannya.Kila meneteskan alkohol pada kapas ditangannya itu dan langsung ia arahkan pada luka yang berada disudut bibir Kavin.Lelaki itupun meringis karena rasa pedih yang ia rasakan pada kulitnya.


"K--alau Kakak sakit,biar Kakak aja yang pegang kapasnya sendiri".Gagapnya. Sedangkan Kavin hanya mengangguk dan memegang kapas yang ada disudut bibirnya dengan tangannya sendiri.Kila pun berpindah mengobati luka Kavin yang berada di kening dan pipinya dengan sangat hati hati.


"Iiisshhh,,,,".Ringis Kila karena melihat luka Kavin yang tidak sedikit itu.Ia benar benar tidak kuat melihat pemandangan yang ada didepannya itu.


"Gak apa apa,gak sakit kok".Balasnya saat mendengar ringisan yang keluar dari mulut Kila.Kavin sendiri merasa terheran heran, padahal dirinyalah yang terluka tetapi kenapa yang merasa kesakitan adalah gadis yang mengobatinya.


Mendengar hal itu,Kila pun langsung tersadar. Nafasnya tiba tiba saja terasa berhenti setelah ia sadar bahwa jarak keduannya sangatlah dekat sekali.Merasa linglung,ia sampai tidak menyadari bahwa tangannya


itu masih berada di atas luka Kavin.Ia malah menekan luka itu hingga membuat Kavin seketika meringis.


"Eh,,,,M--Maaf Kak".Gagapnya lagi. Kavin pun hanya bisa menampakan wajah datarnya.


"Gilang,kamu bisa gak sehari aja gak buat onar?Bapak bener bener pusing kalau tiap hari harus ngurusin kamu terus!".Ujar Pak Farid, selaku guru BK.


"Siapa suruh Bapak urusin saya?Kan saya gak minta!".Balasnya enteng hingga membuat orang orang yang ada disana menganga tak percaya.Bisa bisanya Gilang memberikan jawaban sendiri pada gurunya!Apalagi dia adalah Pak Farid,guru BK terkiler di sekolah. Pak Farid hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Sekarang masalah apa lagi?".Tanyanya.


"Tanya apa sama si Ketos itu!Lagipula dia duluan kok yang mulai".Tunjuknya dengan menggerakan dagunya ke arah Kavin.


Pak Farid menatap Kavin sejenak."Yasudah setelah ini kalian berdua datang ke ruangan kepala sekolah".Pak Farid pun lekas pergi dari UKS setelah mengatakan hal itu.


"Vin kok lo diem aja sih?Lo kok gak langsung ngomong aja kalau si Gilang yang salah". Bisik Raka.Tetapi tetap saja bisikannya itu hingga ditelinga Gilang.


"Kali ini emang gue yang salah. Udahlah jangan diperpanjang lagi".Sahut Kavin.Raka pun hanya mengangguk pasrah akan sifat keras kepala Kavin.


"Ngaku juga lo!".Maki Gilang dengan tatapan sinisnya.Semua orang pun langsung bungkam hingga membuat ruangan UKS menjadi hening.Merasa tak nyaman dengan keadaan sekarang,satu persatu murid pun keluar dari dalam ruangan.Dan hanya meninggalkan Kavin,Raka,Gilang,Kila dan Amara.


Saat itu Kila dan Amara sedang membereskan kembali kotak obat pada tempatnya.Gilang pun sedari tadi mengarahkan pandangannya pada gadis yang tengah berkutat dengan barang barang ditangannya itu.


"Jangan pernah gangguin dia.Atau lo akan tau akibatnya!".Perintah Kavin saat menyadari Gilang yang terus memperhatikan gadis yang menyandang status kekasihnya itu.


Gilang pun tertawa sinis."Maaf,gue gak bisa janji sama lo".Ujarnya dan langsung saja melenggang pergi.Mendengar hal itu,Kavin merasa geram sekali hingga ia mengepalkan kedua tangannya.Ia terus menatap tajam ke arah Gilang yang terus menjauh dari pandangannya.