Ice Boy

Ice Boy
#Nama?



Keesokan harinya saat Kila baru sama memijakkan kakinya di pintu masuk kelas, tiba tiba saja sebuah tangan menariknya dengan cepat hingga gadis itu sedikit kewalahan karena tarikan itu.Langsung saja orang yang menariknya itu langsung menyuruh Kila duduk ditempatnya.


"Lo seriusan pacaran sama si Kavin?Si ketos datar itu?".Tanya Riris tak percaya. Kila pun merasa kesal karena lagi lagi pertanyaan yang sahabatnya lontarkan itu adalah pertanyaan yang sama sejak semalam.


Kila pun mengangguk tanda mengiyakan hingga membuat beberapa siswi lainnya yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka pun langsung berkumpul membentuk sebuah lingkaran di meja Kila.


"Seriusan lo pacaran sama Kak Kavin?".


"Demi apa lo pacaran sama dia?".


"Masa sih kalian berdua pacaran?".


"Kok gue gak percaya sama omongan lo itu ya".


Dan masih banyak lagi pertanyaan dan ucapan dari teman teman sekelasnya. Sampai sampai sudah membuat dirinya pusing sebelum pelajaran pertamanya dimulai.Entahlah bagaimana kehidupan Kaila nanti.Karna dari teman teman sekelasnya saja,sudah banyak orang yang tidak menyukai hubungannya bersama Kavin.Kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang mendapat gelas most wanted disekolahnya.


"Gak perlu mikirin yang jauh jauh.Tenang aja ada sahabat lo yang cantik ini bakal nemenin lo dalam suka maupun duka". Ucap Via yang sudah seperti pembaca pikiran.Karena gadis itu bisa menjawab apa yang dipikirkan oleh Kila.


Kila pun melontarkan senyuman manisnya. Karena ia tidak ingin pembicaraan ini terus berlanjut.Ia tidak mau jika nanti dirinya dihukum karena ketahuan mengobrol bersama temannya.Untunglah Riris berada dikelas yang berbeda,kalau tidak mungkin habis sudah dirinya sejak jam pelajaran pertama tadi.


Jam pelajaran terus diikuti oleh Kila dengan khidmat.Walaupun telinganya sedikit panas karena ejekan dari beberapa temannya yang mengatai kejelekan Kila.Tapi untunglah ia selalu sabar.Ia hanya harus bisa menulikan pendengarannya itu.


Memang Kila akui bahwa dirinya tidak semenarik teman temannya.Ia hanyalah seorang gadis dengan penampilan yang bisa dibilang biasa biasa saja.Walaupun kedua orang tuannya selalu mengiriminya uang dibatas wajar,ia lebih suka menabungkan uang itu daripada


menghambur hamburkannya tak jelas.


"Kita ke kantin yuk".Ajak Via yang terus saja berusaha membujuk sahabatnya yang tergeletak lesu diatas meja.


"Udahlah jangan terlalu dipikirin.Lagipula emang ini kan konsekuensi dari perbuatan lo". Sambungnya lagi.Dengan lesu,Kila bangkit dari duduknya dengan sangat terpaksa.


Mereka pun berjalan meninggalkan kelas yang sudah tak ada orang sama sekali. Setidaknya Kila masih sedikit lega karena belum satu sekolah yang mengetahui tentang hubungannya itu.


Sesampainya disana,mereka langsung duduk di meja yang berada di pojokan kantin. Saat itu sudah ada Riris dengan seorang lelaki yang duduk disampingnya.Mereka berdua sedang berbincang bincang dengan asiknya.Bahkan kedatangan Kila dan Via pun tidak ia rasakan sama sekali.


"Terus aja mojok sampe sukses".Ejek Via karena merasa geram.Bisa bisanya Riris tidak menyadari kehadiran sahabatnya sendiri.Ia malah bercanda ria dengan kekasihnya,Egi.


"Syirik aja lo,mangkanya cepetan cari pacar biar gak jomblo terus".Timpalnya yang langsung membuat Via mendengus kesal.


"Jangan malu gitu dong.Tenang,cuma kita kita aja kok yang tau kalau lo itu masih jomblo".Ejek Riris lagi saat melihat wajah Via yang sudah sangat merah seperti kepiting rebus.Tetapi itu sama sekali bukan pertanda malu,melainkan pertanda kesal.


"Terus aja ejek sampe sukses".Dengusnya dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah penjual kantin dan memesan makanan untuk dirinya dan Kila. Kalau Riris,ia sudah makan sejak tadi.


Kila langsung saja menyambar makanan dan minuman yang dibawa oleh Via.Jujur saja dirinya saat ini sudah teramat lapar.Dengan lahap,iapun menyantap basonya sampai habis.Hingga saat ia akan meneguk minumannya,sebuah suara yang sudah tidak asing lagi hinggap ditelinganya hingga membuat ia tersedak seketika.


"Lo yang makan dipojok sana".Teriak suara itu.Semuannya pun menatap ke arah pojokan saat suara yang cukup menggelegar itu menggema siseluruh kantin.


"Siapa?Gue?".Ucap Riris karena dirinyalah yang duduk dipaling pojok.


"Bukan,lo bukan orang yang gue cari". Balasnya datar.Iapun berjalan ke arah meja Kila agar bisa menemukan siapa orang yang ia cari.


"Dia?atau Dia?".Ucap Riris lagi sambil menunjuk bergantian ke arah Via lalu Kila.


"Iya,itu yang lo tunjuk barusan".Balasnya datar saat melihat ada seorang lelaki yang memandang sengit kearahnya ditempat itu.


Hancur sudah permohonan Kila.Padahal sedari tadi dirinya terus saja diam agar tidak dikenali oleh orang yang sudah ia ketahui sedang memanggilnya itu.Dengan berat hati,Kila bangkit dariduduknya.Membalikan tubuhnya ke arah belakang sampai dirinya berhadapan dengan orang yang tadi memanggilnya.Ia tersenyum canggung saat lelaki didepannya itu menatapnya datar. Entah kesalahan apa yang ia perbuat sampai laki laki didepannya itu bertingkah seperti tidak suka padanya.


"Nama lo siapa?Kemarin gue lupa buat nanya siapa nama lo".Tanyanya pada inti pembicaraan.


"Oke kalau gitu.Tapi gue gak perlu ngenalin nama kan?Secara,lo pasti udah tahu siapa nama gue".Ucapnya yang lagi lagi dingin. Kila hanya bisa mengangguk pasrah,karena rasanya ia ingin sekali cepat cepat pergi dari tempatnya itu.


"Kalau gitu gue duluan".Pamitnya dan langsung saja melenggang pergi."Sore nanti, lo pulang sama gue".Sambungnya hingga berhasil membuat jantung Kila berdegup dengan kencang.


"Seriusan?Lo berdua udah jadian tapi dia sama sekali belum tau nama lo".Ucap Riris tak percaya.


Via pun memelototi Riris agar gadis itu


diam dan tak membuat Kila merasa sedih.Dan benar saja,Kila akhirnya terduduk lemas dengan wajah tertekuk.Sedangkan sedari tadi,lelaki yang duduk disebelah Riris yang juga merupakan pacarnya hanya diam dengan seringaian di sudut bibirnya.Sambil memandang remeh ke arah Kila.


"Untuk selanjutnya,salahkan pacarmu itu Shakila".Gumamnya dengan jari jemarinya yang bergerak di layar handphone hitam miliknya.


"Egi,kamu kenapa sih daritadi diem mulu?". Tanya Riris karena merasa aneh dengan gelagat pacarnya itu.


"Ehh maaf maaf,soalnya aku lagi main game nih".Elaknya dengan cengiran kuda yang menampilkan deretan giginya.


"Yaudah sekarang kamu simpen dulu hpnya terus habisin tuh makanannya".Ujar Riris dengan dagu yang ia arahkan pada nasi goreng yang masih utuh di atas piring.


"Iya bawel,,,".Egi pun mencubit gemas pipi Riris hingga membuat gadis sedikit meringis dibuatnya.


"Tunggu gue punya pacar,bakal gue pamerin deh keromantisan kita".Gumam Via tetapi masih bisa didengar oleh sahabat sahabatnya.Membuat mereka terkikik geli melihat Via yang terus saja kesal.


Flashback On


"Vin,lo serius pacaran sama adik kelas?". Tanya Raka saat baru saja berkumpul dengan kedua sahabatnya itu di lapangan basket.


"Hmm".Hanya sebuah gumaman yang terlontar dari mulut Kavin.


"Plis deh sekarang lo hilangin dulu sifat dingin lo itu.Sekarang gue nanya,apa bener lo pacaran sama adik kelas?".Tanyanya karena masih tidak percaya.Karena yang ia tahu sahabatnya itu adalah tipe cowok yang selalu berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak.


"Iya gue pacaran sama adik kelas.Emangnya kenapa sih?".Jengahnya.


"Wah hebat juga ya,seorang Kavin yang dingin tak tersentuh udah punya pacar aja". Pujinya dengan sangat berbinar.


"Kenap lo?Sirik?Mangkanya cari pacar yang bener.Jangan gonta ganti mulu".Ledek Bisma sambil menepuk bahu Raka.Merasa tersinggung,iapun menatap sengit ke arah Bisma.


Memang disekolah ini Raka juga termasuk kedalam jajaran most wanted dengan ketampanan yang hampir sama dengan Kavin.Tapi sebagai pembeda adalah namanya yang terkenal di para kalangan perempuan sebagai seorang 'playboy'.


"Udahlah basi,nasihatin gue mulu.Terus gimana sama lo?Lo mau jomblo seumur hidup?".Ejeknya balik karena Raka juga tahu bahwa sahabatnya yang satu ini tidak pernah sekalipun merasa yang namanya pacaran.


"Eh,,,iya Vin emangnya siapa nama pacar lo?".Tanya Bisma yang langsung mengalihkan pembicaraan.Raka yang tadinya kesal karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, akhirnya iapun kembali berbinar dan menunggu jawaban dari Kavin.


"Em,,,,Gue gak tau".Jawabnya enteng dan juga datar tanpa ada rasa salah sedikit pun. Keduanya menganga atas jawaban yang diberikan oleh Kavin.Raka lalu bangkit dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Kavin lalu menatap dengan menirukan gaya Kavin saat itu.


"Lo pacaran niat gak?".Tanyanya dengan wajah datar dan nada dingin yang ia buat buat.


"Hallo bro,ini tuh jaman apa?Masa lo pacaran gak tau nama cewek lo sendiri sih!".Ledeknya lagi dengan nada biasa.


Kavin pun berdiam diri ditempatnya.Ia meminang minang ucapan dari temannya itu. Betapa bodohnya ia tidak mengetahui sama sekali nama gadis yang sekarang menjadi pacarnya itu.Dengan tergesa gesa Kavin keluar meninggalkan lapangan basket. Berusaha tak mempedulikan teriakan teman temannya yang terus saja memanggil manggil namanya walau jarak mereka sudah tidak bisa dikatakan dekat.


Karena tujuan yang ingin ia capai sekarang ini adalah kantin.Tempat dimana ia bisa menemukan orang yang sedang ia cari. Atau lebih tepatnya lagi,untuk menanyakan siapa nama dari pacarnya itu.


Flashback Off