
"Lo pulang bareng gue".Ucap Kavin to the poin.
"Apa!!?".Teriak kedua sahabat Kila dengan mata mereka yang membulat sempurna. Mereka berdua pun berpindah menatap Kila dengan tatapan penuh amarah.
"Ayo!!Nanti aja jelasinnya".Ajaknya yang langsung menarik paksa Kila.Kila pun hanya bisa diam dan menuruti pergerakan Kavin. Ia tak berani untuk membalikkan tubuhnya karena sahabat sahabatnya itu sudah pasti akan marah dan melontarkan banyak sekali pertanyaan padanya.
Setelah cukup lama menggenggam,atau lebih tepatnya menarik tangan Kila,Kavin pun lekas melepaskannya setelah keduannya sampai di parkiran.
Kavin merogoh sebuah kunci didalam saku celananya yang langsung ia gunakan untuk menyalakan motor hitam miliknya.Sebelum itu,ia terlebih dahulu memakai helm full face nya dan memberikan satu helm lagi untuk Kila.
Kila pun nampak bertanya tanya darimana cowok didepannya itu mendapatkan helm ini. Setahunya,selama ia memperhatikan Kavin setiap harinya ia hanya melihat bahwa Kavin hanya membawa satu helm saja.Dan yang ia bawa juga helm yang selalu ia kenakan.
Tetapi Kila langsung saja menghilangkan segala pertanyaan pertanyaan dibenaknya itu. Ia langsung saja naik di motor Kavin karena cowok itu sudah memintanya untuk segera naik.Sebelum Kavin benar benar menjalankan motornya,iapun bertanya terlebih dahulu dimana alamat rumah Kila.
"Ternyata bener tuh si Kavin pinjem helm gue buat pacarnya".Ucap Raka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bener,itu si Kavin boncengin ceweknya?". Tanya Bisma,balik.
"Ya benerlah,kenapa lo kayak gak percaya gitu sih?".Sahut Raka dengan mata yang memicing.
"Ya jelas gue gak percaya lah,masa seorang Kavin bisa punya pacar sih".Ujarnya
"Iya juga sih,tapi semoga aja beneran lah. Udahlah jangan dipikirin lagi,nanti kita tanya lagi sama dia".Bisma pun mengangguk menanggapi ucapan temannya.Mereka pun langsung saja menaikki motor mereka yang terparkir tak jauh dari tempat parkir Kavin tadi.
Setelah setengah jam lamanya,Kila pun akhirnya sampai didepan rumahnya.Ia merasa gugup sekali karena selama perjalanan ia sangat kaku sekali.Apalagi keduannya tidak ada yang berniat untuk membuka suara.
Turun dari motor,Kila langsung saja menyerahkan helm yang tadi ia kenakan. Tetapi saat ia hendak membuka suaranya untuk mengucapkan terima kasih,motor Kavin melesat begitu saja.Lelaki itu tak berbicara sepatah kata pun pada Kila. Kila hanya bisa menatap kepergian Kavin dari tempatnya dengan tatapan nanar.
Hingga akhirnya iapun membalikkan tubuhnya.Ia membuka pintu gerbangnya dengan lesu.Walaupun rumahnya itu memiliki lantai dua sekaligus dengan pemandangan yang cukup indah,tetapi hanya satu kata yang terucap jika orang orang yang berlalu lalang atau para tetangga yang melihatnya dari luar yaitu,sepi.
Tetapi bagi Kila itu sudah biasa dalam kesehariannya.Dirumahnya yang sebesar ini, ia hanya tinggal sendiri dengan dua orang asisten rumah tangga yang selalu datang di pagi hari dan pulang di sore harinya.Untuk malamnya,Kila selalu berada dirumahnya itu sendirian.Tetapi sesekali sahabatnya itu selalu datang dan menemaninya.Walaupun rasa takut tetap saja menghantuinya setiap malam.
Dengan malas,Kila membuka pintu rumahnya lebar lebar.Ia menghela nafas gusar.Lagi lagi tidak ada yang menemaninya.Untuk kedua orang tuannya,mereka selalu saja sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Mereka berdua hanya pulang sebulan sekali. Bahkan jikalau mereka pulang pun,tetap saja mereka gunaka waktunya itu untuk bekerja. Kila bahkan iri atas perlakuan kedua orang tua teman temannya.Walaupun kedua orang tua mereka sibuk kerja,tetapi mereka selalu memberikan kasih sayang yang lebih pada anak anaknya.Bedahalnya dengan dirinya. Hingga iapun sempat berfikir,apakah memang benar dia adalah anak kandung dari kedua orang tuannya saat ini?!
Tangannya bergerak menggeser ke atas
dan kebawah.Hanya beberapa pesan yang
ia anggap tak penting untuk ia jawab. Apalagi pertanyaan pertanyaan dari teman temannya yang sudah melebihi seratus pesan itu.Kila berusaha tak mempedulikan pesan pesan yang masuk itu.Pikirannya pun kembali melayang pada kejadian tadi siang yang ia alami.Benar benar tidak ia percaya, tapi memang itulah yang terjadi.
"Apakah semua ini benar adanya?". Gumamnya terus menerus hingga kelopak mata yang sedari terus mengerjap pun kian berubah menjadi tertutup rapat.Gadis itu langsung saja tertidur pulas dengan wajah damainya.
>>>>>>
Malamnya setelah membersihkan tubuhnya yang lengket,Kila pun turun dari lantai atas menuju ke lantai bawah untuk makan malam. Perlu kalian ketahui,bahwa sarapan dan makan malamnya itu selalu sudah berada di atas meja yang sudah disiapkan oleh pembantunya.Rumah kedua pembantunya juga tak jauh dari rumah Kila sendiri,jadi ia tidak terlalu khawatir jika ia membutuhkan pertolongan.
Tangan mungilnya bergerak membuka beberapa lemari dapur yang berada di
atas kepalanya.Ia menatap tak suka pada makanan makanan yang berada di pandangannya itu.Iapun menutup kembali pintu itu dan bergerak menarik kulkas yang berada disampingnya untuk mengambil beberapa camilan.Setidaknya sekarang ia bisa bersantai dengan bebas karena pr untuk besok sudah ia kerjakan.
Matanya pun menatap kesal karena tidak ada satupun camilan didalam kulkasnya itu. Hanya ada beberapa bumbu dan bahan masak yang harus ia olah dulu sebelum menjadi makanan yang bisa membuat perutnya kekenyangan.Sebuah ide pun muncul dibenaknya,daripada ia harus cape cape untuk memasak,lebih baik ia membeli makanan saja diluar.Lagipula hari ini tidaklah terlalu malam untuk dirinya pergi keluar.
Selesai mengganti pakaiannya dengan sebuah sweater tebal berwarna kuning dan celana jeans putih,Kila pun mengeluarkan sebuah sepeda mini dari dalam garasinya. Karena memang kedua orang tuannya melarang dirinya untuk menaiki mobil sendiri.Untuk perjalanan jauh,kedua orang tuannya itu lebih setuju kalau putrinya memesan taksi atau ojol saja untuk bepergian.Sedangkan sepeda,Kila membeli kendaraan itu dengan uangan jajannya yang ia kumpulkan sejak dulu.Setidaknya ia mempunyai kendaraan walau hanya sebatas berkeliling di sekitar kompleknya.
"Lo sekarang ada dimana?".Ucap sebuah suara disebrang sana dari sambungan telfon Kila.
"Aku masih ada dirumah,sebentar lagi berangkat".Balasnya.
"Kamu yakin mau naik sepeda?Gak mau aku jemput aja nih?".Tawarnya mencoba memastikan dan jawaban yang akan hinggap ditelinganya itu adalah sebuah penolakan.
"Gak usah,lagian sekitar sepuluh menit lagi juga sampai kok".Jawabnya mantap.Orang yang ada disana pun hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Yasudah cepatlah,dan hati hati selama kau dijalan".Keduannya pun langsung memutuskan sambungan mereka.
Dengan tenaga yang sudah benar benar ia kumpulkan,Kila mengayuh pedal sepedanya dengan sangat girang.Membelah jalanan malam yang saat itu masih banyak dilalui oleh banyak orang.