Ice Boy

Ice Boy
#Perdebatan



Kiran menyusuri koridor dengan banyak sekali buku paket yang berada di genggamannya.Ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati agar buku buku yang ia pegang itu tidak terjatuh dan menyentuh lantai nantinya.Saat ini ia benar benar kesal sekali,padahal sudah tahu bahwa hari ini bukan jadwal piketnya tetapi teman temannya itu menunjuk dirinya untuk pergi ke perpustakaan mengembalikan buku buku itu.Untuk Via,gadis itupun diberi tugas tetapi ia ditugaskan untuk membawa buku latihan teman temannya keruang guru. Karena ruangan yang dituju mereka berbeda, tentu saja jalurnya pun berbeda.Semakin jauh dari kelasnya,semakin memuncak pula amarahnya.Karena ia tahu betul,teman teman sekelasnya itu pasti mempunyai maksud terselubung.Mereka pasti masih dendam atas perihal hubungannya dengan Kavin.Tetapi Kila hanya bisa menerima perlakuan itu dengan lapang dada tanpa adanya niatan untuk membalas.Percuma dia membalas, karena teman temannya itu pasti punya seribu cara lagi untuk membalas lagi dan lagi.


Baru saja tangannya telulur hendak mendorong knop pintu,pintu itu malah lebih dulu terbuka.Lelaki bertubuh tinggi itupun menghalangi pintu masuk bagi Kila.Mata Kila membulat sempurna saat mengetahui orang yang ada didepannya.Dengan salah satu alisnya yang ia tautkan,lelaki itupun menutup pintu perpustakaan perlahan. Tanpa memberikan jalan untuk Kila,lelaki itu malah berjalan semakin mendekat ke arah Kila.Membuat Kila cemas sendiri akhirnya iapun berjalan mundur.Berusaha tetap menjaga jarak amannya.


Ia tidak ingin berada diposisi seperti ini. Lebih baik ia berlari keliling lapangan sebanyak mungkin daripada harus berhadapan dengan lelaki di depannya. Dia Gilang,lelaki yang harus Kila hindari secepat mungkin sebelum dirinya terkena masalah.Walaupun Gilang juga merupakan most wanted disekolah,karena ketampanannya yang sama besarnya seperti Kavin,tetapi tetap saja Kila tidak menyukai lelaki didepannya itu.Karena Gilang adalah sesosok lelaki yang selalu saja berbuat onar disekolahnya.Tawuran,merokok,dan keluar masuk ruang BK sudah menjadi kesehariannya.Apalagi hukuman pagi yang selalu ia terima,sudah seperti sarapan untuk menemani hari harinya.


Setiap harinya,lelaki yang bernama Gilang itu selalu saja membuat masalah.Entah itu masalah kecil,ataupun masalah besar.Karena masalah yang tadinya kecil,selalu saja ia besar besarkan nantinya.Tak sedikit pula para guru pun sudah kewalahan untuk menangani kelakuannya.Bahkan sekolah pun ingin sekali mengeluarkan dirinya dari sekolah,tetapi mereka tidak bisa berbuat apa apa.Karena keluarganya adalah penyumbang donasi terbesar disekolah itu.


Satu hal lagi yang harus kalian ketahui. Bahwa,lelaki yang bernama Gilang itu paling anti jika berurusan dengan Kavin.Begitupun sebaliknya.Sehingga seluruh siswa yang ada disekolah ini,sudah tak asing lagi akan permusuhan keduannya.


"Maaf Kak,saya mau masuk".Ucap Kila sesopan mungkin agar lawan bicaranya itu memberikan jalan untuknya.Tetapi nihil,lelaki itu malah sama sekali tak bergerak dari tempatnya.Merasa lelah dengan posisi yang sedari tadi sama,Kila pun memberanikan langkahnya dengan bergerak ke kiri.Tetapi, Gilang pun melakukan hal yang sama dengan kegiatannya.


Bayu menyeringai,lalu memandangi penampilan Kila dari atas sampai bawah. Bahkan iapun berjalan memutari tubuh Kila dengan senyuman yang benar benar membuat Kila muak dibuatnya.Ia ingin sekali cepat pergi dari tempat itu.Tetapi kakinya benar benar tidak bisa ia gerakan sedikit pun karena tatapan Gilang itu.


"Jadi,ini cewek dari seorang Kavin".Ujarnya dengan nada yang sedikit meledek.Matanya pun tak henti henti memandangi tubuh Kila.


Tanpa diketahui oleh Kila,tangan Gilang pun menjulur dan mengangkat dagu Kila keatas.Tentu hal itu membuat Kila semakin takut bahkan tubuhnya pun sangat bergetar hebat.Apalagi keringat dingin yang sudah bercucuran ditubuhnya.


Saat semuannya baru saja berlangsung,tiba tiba saja Gilang pun tersungkur diatas lantai dengan posisi miring.Lelaki itu terjatuh karena sebuah dorongan yang cukup keras. Merasa sudah terbebas dari posisi sebelumnya,Kila pun bernafas lega.Sampai sampai iapun tersungkur dibawah dengan buku bukunya yang sudah berserakan.Tanpa berniat melihat siapa orang yang menolongnya,ia malah memilih diam tak berkutik.


Gilang menyeringai setelah mengetahui siapa yang mendorongnya.Ia juga tidak perlu menebak lagi siapa dia.Karena orang yang bisa melakukan hal ini padanya hanyalah satu orang.Siapa lagi kalau bukan Kavin.


"Lo mau jadi jagoan?Kalo bener,bukan begini caranya".Ejeknya sambil menatap sinis ke arah Kavin.


Meras kesal,langsung saja Kavin menarik kerah seragam yang dikenakan Gilang dengan sangat kasar.Sehingga keduannya berdiri dengan posisi berhadapan dan pandangan sengit yang mereka berikan.Untung saja kegiatan pelajaran masih berlangsung kalau tidak,sudah pasti mereka akan menjadi bahan tontonan.


"Tenyata selera lo boleh juga.Gak nyangka gue kalau lo bisa dapetin yang model kayak gini".Bisiknya dikalimat terakhir hingga berhasil membuat amarah Kavin semakin memuncak.Tanpa berfikir lagi,iapun melemparkan sebuah bogeman diwajah Gilang.Membuat lelaki itu terhuyung huyung kebelakang.Gilang menyeka cairan kental berwarna merah yang keluar dari sudut bibirnya.Ia tertawa sinis dengan pandangan meremehkan.


"Percuma jadi jagoan kalau beraninya cuma main tangan doang".Ledeknya.Kavin pun berusaha untuk membendung emosinya. Karena ia tak ingin membuat masalah yang lebih besar.Apalagi gelar Ketua OSIS yang ia pegang saat ini.Ia harus menjaga baik baik namanya.


"Dasar penggila image".Ledek Gilang,lagi.


Memang bukan hal baru lagi jika perihal yang menyangkut seorang Kavin dan Gilang. Keduannya selalu saja terlibat perkelahian setiap mereka bertemu.Mereka berdua tidak pernah ada kata akur semasa hidupnya disekolah.Entah siapa yang memulai perkelahian diantara keduannya,tetapi para murid sudah bisa menyimpulkan bahwa Gilang lah yang selalu memulai perkelahian itu.Pasalnya ia selalu saja melontarkan kata kata mengejek dan pedasnya setiap kali ia bertemu Kavin.Siapa juga yang akan tahan jika setiap hari akan mendapatkan semburan kata kata pedas dari orang yang dikabarkan pernah menjadi sahabat itu.Agar tidak membuat masalah ini terus terjadi,akhirnya para guru pun sepakat untuk menempatkan kelas Kavin dan kelas Gilang dengan posisi sejauh mungkin.


"Siapa yang cari masalah sama cewek lo? Jangan selalu ambil kesimpulan sendiri deh lo.Karena setiap kesimpulan lo itu selalu aja salah".Ujarnya dengan kata kata yang sama sekali tidak Kila mengerti.Memang berita pertentangan Kavin dan Gilang sudah tak asing ditelinganya.Tapi jujur,ia tak pernah menyaksikan langsung perdebatan mereka. Karena Kila sudah pasti,yang selalu mencari masalah lebih dulu adalah Gilang.


"Jangan mengira kalau gue gak tau akal busuk lo,Gilang Hardika".Tekannya.Merasa malas,Gilang pun lebih memilih pergi dari tempat itu.


"Terserah!".Ujarnya tanpa membalikkan tubuhnya lagi.Merasa sudah mulai jauh dari pandangannya,Kavin langsung saja berjalan mendekat ke arah Kila.Tangannya bergerak memunguti buku buku yang berserakan.


"Lupain masalah ini,dan jangan pernah kamu berhubungan dengan lelaki bernama Gilang itu".Kila pun hanya mengangguk pasrah. Karena ia sendiri juga tidak tahu masalah apa yang terjadi pada keduannya.


"Sekarang cepet lo masuk,gue bakal tunggu lo disini".Ujarnya yang langsung membuat Kila bertanya tanya.Tetapi dalam hati.Tidak mungkin ia menanyakan hal seperti itu dengan suasana yang terbilang canggung itu.


"Gue cuma gak mau dia gangguin lo lagi". Jawabnya atas pertanyaan yang berada di benak Kila.Kila pun dibuat salah tingkah atas ucapan yang ia dengar.Walaupun percuma Kavin melakukan hal itu,karena tidak setiap saat juga dirinya akan berada disisi Kila.


Dengan langkah cepat dan kekuatan yang telah terkumpul,Kila segera melesat menuju perpustakaan.Menjalankan tugasnya dengan waktu yang tidak terbilang lama.Selesai itu, sesuai dengan ucapan Kavin keduannya pun berjalan beriringan sampai Kavin sendirilah yang mengantarkan Kila sampai di depan pintu kelasnya.


"*Tau gini,biar gue ajalah yang tadi anterin tuh buku".


"Bener tuh!Gue juga pengen kali deket sama Kak Kavin".


"Udah gak kuat gue nahan rasa ini".


"Huh beruntung banget sih tuh si Kila*".


Dan banyak sekali ucapan iri dan tak suka yang terlontar dari mulut teman temannya itu. Mendengar hal itu,Kavin langsung saja melontarkan tatapan tajam dan dinginnya hingga membuat orang orang yang tadi mengeluarkan kata kata pedas itupun gelagapan dibuatnya.Kila pun hanya bisa tawanya saat itu.


"Gue pergi dulu".Pamitnya yang langsung saja pergi.Kila menghela nafas lega karena kegugupan selama dalam perjalanan bisa ia keluarkan dengan tenang.