
"Kil,pulang bareng ya.Soalnya si Riris mau jalan sama pacarnya".Pinta Via sambil membereskan buku buku pelajarannya ke dalam tas.
Kila pun mengangguk perlahan.Lagipula ini sudah hampir sore.Langit yang tadinya berwarna biru pun berangsur berwarna oranye.Lagipula jalan pulang kerumahnya dan rumah Via satu arah.
Keduannya pun berjalan berdampingan dengan tangan Via yang menarik tangan Kila dengan cepat.Baru saja ia melangkahkan kakinya didepan pintu keluar kelas,tiba tiba mata keduannya langsung tertuju pada sosok laki laki yang berdiri tegap disana.
"Yah,,,gak jadi lagi deh gue pulang sama lo". Sesal Via.
"Yaudah deh kalau gitu,gue duluan ya.Lo hati hati".Sambungnya yang langsung saja berlari lari kecil menjauhi Kila.Sedangkan Kila hanya membalasnya dengan senyuman canggung.
"Ayo".Ujar lelaki itu yang langsung diikuti oleh Kila.Siapa lagi kalau bukan Kavin. Awalnya ia tidak percaya bahwa Kavin akan pulang bersamanya karena sebelumnya ia tidak memberitahukan hal ini terlebih dahulu.Biasanya,lelaki itu akan memberitahu Kila terlebih dahulu entah saat mereka bertemu ataupun Kavin sendiri yang sengaja menemuinya.
Laju motor sport milik Kavin pun mulai berangsur menurun hingga motornya itu benar benar berhenti.Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan diantara keduannya. Hingga saat turun dari motor pun,Kavin masih tetap tak berbicara sepatah kata pun. Ia malah langsung saja melenggang pergi menuju kedalam mall,meninggalkan Kila yang masih berdiri.Dengan sebal,Kila pun melangkahkan kakinya.Mengekor tepat dibelakang tubuh Kavin.Entah apa yang membuat Kavin mengajaknya kesini,tapi jujur Kila saat ini sangat tidak mood.Ia hanya ingin cepat cepat pulang kerumah dan beristirahat di kasur empuknya.Apalagi perutnya yang sudah minta diisi,membuat nya berjalan dengan gontai.
Kavin berjalan dengan sangat cepat hingga membuat Kila sendiri kewalahan dibuatnya. Walaupun mereka datang bersama,Kavin seolah olah tak mempedulikan keberadaan Kila sama sekali.Bahkan sedari tadi,lelaki itu sama sekali tidak menengok hanya untuk melihat keberadaan Kila.Ia malah terus saja berjalan dan sekarang ia lebih dulu menaikki eskalator dan meninggalkan Kila yang masih berada dibawah sana.
Sesampainya diatas,Kila mencari cari sosok lelaki yang datang bersamanya itu.Setelah menemukan titik terang,langsung saja ia berdiri menuju toko buku yang ada disebrang. Keduannya berjalan berlawanan arah. Mencari kesenangannya masing masing di dalam toko yang tidak terbilang kecil itu. Kedua bola mata Kila berbinar seketika saat menemukan Sketch book yang ia anggap sangat indah itu.Apalagi dengan gambar sampulnya yang bisa dibilang menarik. Mungkin jika orang lain yang melihatnya mereka akan menganggap itu biasa saja. Beda halnya dengan Kila.
Tangan Kila bergerak membolak balik buku itu.Bibirnya tersenyum sangat lebar sekali. Membuatnya lebih manis dari biasanya. Saking senangnya,ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada Kavin yang memperhatikan
nya.Lelaki bertubuh jangkung itu sudah berdiri bersisian dengan Kila.
"Ehh,,!".Kaget Kila setelah menyadarinya. Dirinya sangat tak percaya bahwa ia berdiri dengan sangat dekat dengan Kavin.Bahkan sekarang,hidungnya itu sudah terisi penuh oleh aroma maskulin milik Kavin.Benar benar sangat memabukkan!Gumamnya dalam hati.
"Kenapa gak diambil?".Tanyanya saat Kila menyimpan kembali buku itu pada tempat semula.
"S--Soalnya dirumah masih ada banyak. Belum kepake".Elaknya dengan nada canggung.Kavin hanya mengangguk tanda mengerti.
Kavin melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar belanjaannya.Selepas itu, mereka pun kembali melangkahkan kaki menuju pintu keluar.Cukup lama mereka berdua hanya berkeliling.Sampai membuat Kila merasa pusing karena berjalan tak tentu arah.Apalagi dengan banyaknya orang yang berlalu lalang.Membuat pandangannya lagi lagi tak tentu arah.
"Dimana Kak Kavin?".Tanyanya pada diri sendiri saat ia menyadari bahwa lelaki itu benar benar sudah menghilang.Perlahan, dirinya pun menyusuri setiap toko yang ada disana.Ia yakin bahwa Kavin tidak akan pergi jauh.
Mata Kila terbelak kaget dengan mulut menganga.Ia benar benar sangat tak percaya bahwa lelaki yang selama ia cari kini telah dengan santainya menyantap makanannya disalah satu kursi yang berada di dalam foodcurt.Dengan kesal,Kila langsung saja berjalan menghampiri Kavin.Ia langsung mendaratkan pantatnya di meja yang sama dengan Kavin.
Kavin mendongkakkan kepalanya saat melihat orang yang selama ini ia tunggu sudah duduk didepannya.Dengan mulut yang masih mengunyah makanannya, Kavin menyodorkan sepiring makanan kearah Kila yang diatasnya berisi Spaghetti dengan porsi yang menurut Kila sendiri sangat berlebihan.
"Cepat makan".Ucapnya datar.Tetapi Kila tidak menggubris ucapannya itu.Ia malah tetap diam sambil memperhatikan makananya.Kila tidak tahu harus berkata apa.Sedari tadi dirinya memang sudah lapar.Tetapi ia benar benar tidak menyukai makanan yang ada didepannya itu.Entahlah, setelah Kavin menawari makanan itu,tiba tiba rasa laparnya itu hilang seketika.
"Kenapa masih diem?".Kila sedikit terkejut karena nada bicara Kavin yang tidak mengenakan hatinya itu.
"Aku gak suka makanan ini".Cicit Kila dengan sangat kecil.Tetapi indra pendengaran Kavin sangatlah tajam sekali.Jadi ia masih bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh Kila.
"Cepet makan atau kita gak akan pulang". Ucapnya telak.Dengan Kesal,Kila terpaksa memakan makanannya.Walaupun disuapan pertama,dirinya sangat mual sekali saat rasa yang benar benar tidak enak itu memenuhi penuh mulutnya.Ingin sekali ia berlari meninggalkan tempat itu dan memuntahkan semuannya.Tapi ia sadar diri,ia tidak ingin menyakiti perasaan Kavin.
Selama Kila menghabiskan makanannya, Kavin sendiri pun sibuk dengan urusannya. Yaitu memainkan ponsel yang berada di tangannya.Tanpa sedikit pun menatap ke arah Kila walau sekali saja.
"Pinjem ponsel lo".Pintanya saat berada diparkiran.Tanpa mengucapkan apa apa lagi,dengan senang hati Kila pun menyerahkan Hp nya.Terlihat,Kavin menggerakan jari jemarinya dengan sangat lihai diatas layar.Selesai itu,sebuah deringan pun terdengar dari dalam saku celana Kavin. Kila menatap kearah suara tersebut.Iapun menyadari bahwa lelaki didepannya itu sedang menyimpan nomornya di Hp Kila.
Selesai itu,keduannya pun pergi membelah jalanan Kota Jakarta yang sudah mulai gelap. Sesampainya di depan rumah Kila,lelaki yang mengantarnya itu malah langsung saja melaju pergi tanpa berkata apapun lagi.
"Mimpi apa gue bisa suka sama cowok yang modelnya kayak gitu".Gumam Kila sambil memperhatikan Kavin yang sudah mulai menjauh.Dengan kesal,Kila memasuki pekarangan rumahnya dan langsung saja membanting pintu dengan sangat keras setelah ia berada didalam.
>>>>>
Terlihat seorang gadis berkucir dua itu tengah sibuk dengan handphone dan barang belanjaan yang berada ditangannya.Gadis itu menggerutu kesal karena tidak tahu apa yang harus ia beli.Hingga sebuah suara terdengar dari arah belakang.Gadis itu membalikkan badannya dan mendapati orang yang tak asing dimatanya sedang tersenyum kearahnya.
"Riris ya?".Tanya lelaki itu dengan sebuah senyuman manis.Riris pun mengangguk kikuk karena mendapat perlakuan hal itu dari Kakak kelasnya.Perlahan ia menganggukkan kepalanya.
"Udah malem,kamu lagi belanja apa?".Tanya lelaki itu.Belum sempat menjawab,seorang lelaki pun datang dari belakang lelaki itu.
"Ini Kak Bisma,aku mau beli obat.Tapi aku gak tau obat apa namanya".Balas Riris dengan wajah sedikit tertunduk.
"Siapa emangnya yang sakit?".Tanya Bisma dengan kedua alisnya yang tertaut ke atas.
"T--Temen aku Kila.Katanya dari tadi sore, perutnya sakit".Jawabnya gagap.Merasa nama orang yang ia kenal pun terpanggil, lelaki yang berdiri di samping Bisma membuka suaranya.
"Kenapa bisa?".Sahutnya hingga membuat semua pasang mata menatap kearahnya. Siapa lagi kalau bukan Kavin.
"A--Aku gak tau Kak.Tapi kalau dia sakit perut,pasti dia salah makan.Apalagi kalau makan yang namanya keju".Balas Riris.Ia sangat tidak nyaman sekali akan tatapan Kavin.
Kavin pun termenung mencerna kata kata gadis didepannya itu.Akhirnya iapun teringat, itulah alasan mengapa Kila tidak menyukai makanan yang ia tawarkan.Dengan cepat, Kavin langsung saja menarik pergelangan tangan Riris.Membuat gadis itu kewalahan. Untunglah Bisma saat itu langsung menggenggam tangan Riris yang satunya. Sehingga gadis itu tidak terjatuh karena kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Tanpa banyak bicara,Kavin menyebutkan sebuah merek obat pada kasir.Ia langsung menyerahkan obat itu pada Riris.Merasa mengerti,Riris pun menerimanya dengan senang hati.Lagipula Riris tahu bahwa Kavin adalah kekasih sahabatnya.Jadi ia tidak perlu sungkan.Setelah selesai,ketiganya pun keluar bersamaan.
"Mau kita anter gak?Lagian udah malem juga".Tawar Bisma yang langsung dijawab oleh gelengan.
"Aku kesini bareng Via ko".Balasnya. Mereka pun mencari cari gadis yang bernama Via itu.Tetapi hasilnya nihil.
"Ehh,,,itu si Raka lagi sama siapa?".Tanya Bisma saat melihat sahabatnya yang satu itu sedang beradu mulut dengan seseorang. Tetapi mereka tidak mengetahui siapa yang sedang berdebat dengannya karena ia berdiri membelakangi.
"Rak lo lagi ngapain?".Tanya Bisma sambil menepuk pundak orang yang bernama Raka. Raka pun segera menoleh kebelakang dan melihat kedua sahabatnya dengan keningnya yang menyerngit.
"Ris ayo,,,".Tarik gadis yang tadi berdebat dengan Raka.Yaitu Via.
"Eh,,,,kalau gitu makasih ya Kak".Teriak Riris sambil terus menyamai langkah sahabatnya yang terlihat kesal itu.Kedua Kakak kelasnya pun mengangguk.
"Jadi dia ceweknya".Goda Bisma sambil merangkulkan tangannya dipundak Raka.
"Udahlah,cepetan cabut".Balasnya kesal dan berjalan lebih dulu meninggalkan kedua sahabatnya.