Ice Boy

Ice Boy
#Tatapan tajam



Keduannya pun masih diselimuti oleh keheninga.Tak ada niat apapun untuk membuka mulutnya masing masing. Saling memberikan tatapannya masing masing.Hingga akhirnya sebuah suara yang terdengar cukup keras dari dalam sana pun menyadarkan keduannya.


Kila pun menggeserkan tubuhnya segera. Mempersilahkan orang sekaligus lelaki yang ia idam idamkan itu untuk masuk kedalam. Tapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, sebuah suara pun hinggap kembali di dalam indra pendengarannya.Terpaksa ia masuk kembali kedalam ruangan itu.


Kila mencari cari orang yang memanggil namanya tadi.Dan matanya pun melotot


saat orang yang sedari tadi ia cari sedang mengobrol santai dengan orang yang ingin sekali ia hindari saat itu.Memang ia tak pernah mengharapkan bertemu dengannya disaat seperti ini.Karena itu akan membuat dirinya lebih gugup.


"Ada apalagi ya Pak?".Tanya Kila sesopan mungkin dengan degup jantungnya yang kini sudah tak karuan.Untunglah dirinya tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.Jika ia, habis sudah hidupnya.


"Saya lupa,kamu nantinya tolong ambilin buku paket yang ada di perpustakaan ya. Bilang aja atas nama pak Darwin".Pintanya yang segera diangguki oleh Kila.


"Kalau begitu Kavin,kamu tolong adik kelas kamu ini ya.Soalnya buku buku yang disana banyak banget.Lagian jalannya juga satu arah sama tujuan kamu".Sekarang giliran Kavin yang mengangguki ucapan guru yang ada di depannya.Sedangkab Kila,ia masih tak percaya dengan yang ia dengar saat ini.


Keduannya pun berpamitan dan mulai berjalan menuju ke arah perpustakaan. Sebenarnya saat ini Kavin akan pergi ke ruangan koperasi,kebetulan karena jalannya satu arah dengan perpustakaan dan kelas Kila,jadi ia bersedia menyanggupi ucapan gurunya itu.


Setelah keduannya membawa beberapa tumpuk buku yang sudah dibagi dua,walaupun sebenarnya Kavin lah yang membawa buku paling banyak.Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan Kila yang mengekor di belakangnya.Karena kepalanya yang terus ia tundukan saat berjalan,iapun tidak menyadari bahwa laki laki yang sedari tadi berjalan di depannya itu menghentikan langkahnya hingga membuat Kila menubruk punggungnya.Untunglah ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga buku buku itu tidak terjatuh menyentuh lantai.


"Kenapa lo selalu liatin gue?".Tanya Kavin langsung dengan nada dingin khas miliknya. Kila pun mendongkakkan kepalanya berusaha menatap lawan bicaranya itu.Tetapi nyalinya langsung saja ciut saat Kavin memberikan tatapan dingin dan tajam ke arahnya.Kila meneguk ludahnya dengan susah payah.Ia berdiri seperti patung dengan tubuhnya yang sudah diselimuti oleh keringat dingin.


Mulutnya tiba tiba saja tertutup rapat tak berani membuka suara.Seperti ada sebuah lakban yang melarang mulutnya itu berucap. Pikirannya tiba tiba saja kosong,iapun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan selanjutnya terjadi.Entah itu olokan atau sebuah ejekan.


"Elo enggak bosen?Merhatiin gue dari dulu". Sambungnya.Kila tetap pada posisinya,diam tak berkutik sambil menatap kosong pada buku buku yang berada di tangannya.


"M--Maaf".Kata itulah yang hanya keluar dari bibir mungilnya.Ia sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Kalau gitu mulai sekarang lo jadi pacar gue". Ucapnya.Mungkin bukan sebagai ucapan, tetapi dari nada bicaranya ini sudah sebagai perintah bagi Kila.


"Tap___".


"Gak ada penolakan atau bantahan.Mulai sekarang lo jadi pacar gue".Ucapnya paten. Kila pun seketika syok hingga menjatuhkan semua barang bawaan miliknya membuat lelaki didepannya berdecak sebal.Iapun terpaksa berjongkok dan memunguti satu persatu buku yang Kila jatuhkan dengan buku yang ia bawa ia simpan terlebih dahulu di sampingnya.


Selesai mengembalikan buku itu di dalam pegangan Kila kembali,Kavin pun melanjutkan perjalanannya.Meninggalkan Kila sendiri yang masih berdiri mematung tak percaya akan apa yang didengarnya barusan.


Beberapa menit kemudian,setelah Kavin mulai hilang dari pandangannya Kila pun akhirnya tersadar.Ia melanjutkan perjalanannya kembali menuju kelasnya. Walaupun saat ini pikirannya sedang tak menentu bahkan berkecamuk.Ia tidak tahu apakah ucapan yang keluar dari Kavin adalah benar adanya atau hanya kebohongan belaka.


Setibanya dikelas,ia meletakan barang bawaannya di samoing buku yang mungkin diletakkan oleh Kavin tadi.Iapun berjalan dengan lesu menuju ke arah Via,teman sebangkunya.Baru saja ia duduk dan mengambil nafas dalam dalam,tiba tiba sahabatnya itu langsung saja membuka suaranya.


"Kok lo bisa bawa buku bareng ka Kavin sih?".Tanyanya yang langsung membuat


satu yang ia lewatkan,ia tidak menceritakan bahwa Kavin mengklaim dirinya sebagai pacarnya sekarang ini.


Via pun tak sepenuhnya percaya akan ucapan yang dilontarkan Kila.Karena sejak Kila kembali ke kelasnya,jelas ada perubahan yang terjadi pada dirinya.Apalagi ia selalu melihat Kila selalu tak konsen dalam mengikuti pelajaran.Bahkan beberapa kali ia memanggil nama sahabatnya itu,ia sama sekali tidak menggubrisnya.


"Ada yang aneh".Selidik Via sambil memicingkan matanya.Menatap Kila dari tempat duduknya.Berusaha mencari kebohongan yang disembunyikan oleh sahabatnya.Tetap saja,sebesar apapun usaha untuk membongkar kebohongan sahabatnya itu ia sama sekali tidak menemukan celah sedikit pun.


>>>>>


Bel sekolah pun sudah berbunyi dengan teramat kencang.Menyudahi kegiatan belajar mengajar setelah hampir seharian penuh. Semuannya pun langsung membereskan barang barang mereka kedalam tas masing masing.Meninggalkan kelasnya satu persatu hingga membuat kelas mereha benar bebar hening seketika.Hanya barang barang kelas yang menghiasi saat itu.


Kila dan Via pun berjalan beriringan dengan beberapa topik pembicaraan yang mereka keluarkan.Hingga akhirnya aktivitas keduanya pun terhenti saat sebuah suara memanggil nama keduannya dari arah belakang.Terlihat seorang gadis berambut bergelombang panjang itu berjalan mendekat ke arah keduannya.Dengan senyuman lebar yang terpatri di wajahnya.Dengan pipi chubby dan mata sipit yang berada di wajah putihnya.


"Hai semuanya,,,,gimana hari kalian?". Tanyanya dengan nada yang cukup melengking.Ia adalah Riris.


"Yang pasti hari aku baik baik aja.Tapi gak tau tuh sama hari Kila".Balas Kia dengan dagunya yang ia arahkan pada gadis yang berada disamping kanannya.Gadis itu terus saja berjalan dengan tatapan kosong kedepan.


"Kenapa emangnya sama Kila?Gak diperhatiin lagi sama Kak Kavinnya?".Tanyanya dengan nada serendah mungkin.Walaupun mereka berdua dengan nada keras pun,tetap saja ucapan mereka tidak akan hinggap ditelinga Kila karena sedari tadi ia sedang melamun.


"Yeehh,,,itumah udah biasa kali.Tapi hari ini dia bener bener aneh deh".Balasnya.


"Terus lo gak ada niatan buat nanya apah di kenapa?".


"Udah berapa kali gue tanya tapi dia terus terusan jawab gak apa apa.Ya gue cape sendirilah,akhirnya gue biarin aja deh dia kayak gitu".Sahutnya dengan nada yang sudah tidak rendah lagi karena merasa kesal.


Karena terus sibuk dengan pembicaraan mereka,hingga akhirnya mereka berdua tak sadar bahwa Kila sudah mematung di tempatnya berdiri.Membuat keduannya berdecak kesal karena menubruk Kila. Walaupun yang merasakan sakit bukan hanya mereka berdua saja.


"Kila lo apa apaan sih?Kalo mau berhen____ ehh!".Umpatan Riris pun akhirnya terhenti saat matanya tiba tiba saja menangkap seorang laki laki bertubuh tegap berdiri berhadapan dengan Kila.Mereka berdua pun bertatapan cukup lama,seolah tak mempedulikan keberadaan Via dan Riris yang menatap penuh tanya ke arah keduannya.


"*Ada apa ini?".Batin Via


"Kaya kolosal India aja tatap tatapan".Kekeh Riris."Tapi aneh!".


"Kenapa dia bisa ada disini".Gumam Kila dalam hati.


"Ck*".