
Kavin bersama teman temannya saat ini sedang asik menyantap makanan mereka dikantin.Tidak biasanya,meja yang selalu diisi oleh ocehan atau candaan itu terlihat tampak sepi.Semuannya sibuk dengan urusan dan pikirannya masing masing.Kavin sibuk dengan makanannya,Raka sibuk memutar mutar sedotan di minumannya,sedangkan Bisma sibuk dengan handphone yang ada di tangannya.Hal itu tentu membuat orang orang penasaran dan ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"Rak,lo kenapa sih daritadi diem mulu? Abis obat lo?".Tanya Bisma memastikan. Iapun menyimpan hp yang sedari tadi ia mainkan kedalam saku seragamnya.
"Nama gue Raka bukan Rak".Jawabnya lesu.
"Yaelah gitu aja sewot".Cibirnya
"Udahlah jangan ganggu gue,gue lagi males becanda nih".Raka pun menenggelamkan wajahnya diatas lengannya yang sudah terlipat diatas meja.
"Suer dah,gue ngeri kalau liat lo kayak gini. Gue lebih suka Raka yang gak bisa diam". Ucapnya dramatis lalu meneguk minumannya habis.
"Lo kenapa?".Tanya Kavin membuka suara. Awalnya ia juga tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan ini.Tapi ia juga penasaran dengan tingkah sahabatnya yang terlihat suram beberapa akhir ini.
"Giliran Raka aja lo perhatiin sedangkan gue, enggak sama sekali".Decak Bisma sambil mencibirkan mulutnya.Kavin pun hanya memandangnya datar.
Walaupun Kavin sudah bertanya,tetap saja tidak ada respon sama sekali yang keluar dari mulut Raka.Keadaan pun menjadi hening kembali setelahnya.Hingga,sebuah suara yang teramat keras pun terdengar hingga membuat seisi kantin menoleh ke asal suara itu.
"Uhuk,,,uhuk,,,".Batukan batukan kecil pun keluar dari mulut Bisma.Ia sangat terkejut sekali karena Raka tiba tiba saja menggebrak meja dengan teramat keras.Hingga akhirnya iapun tersedak oleh makanan yang hendak ia telan.Sedangkan Kavin,ia masih tetap saja sama yaitu da.ta.r.
"Gue minta nomor pacar hp pacar lo sekarang juga".Ucapnya dengan nada yang tidak dibilang kecil.Sontak saja hal itu membuat semua orang memandang kearahnya.Sudah banyak sekali pernyataan pernyataan aneh yang dilontarkan oleh orang orang disana dalam benaknya.Bisa bisanya seorang Raka meminta nomor hp pacar sahabatnya sendiri dengan cara seperti itu!Begitulah kurang lebih yang berada dibenak mereka.
Kavin menatap datar Raka.Jika saja ia tidak memiliki sifat dingin,datar dan irit bicara, sudah dipastikan saat ini dia akan marah.
"Gue gak bisa".Balasnya dan melenggang pergi.Dengan tangannya yang memegang mangkuk baso yang hanya berisi kuahnya saja.Kedua sahabatnya itupun mengekor dibelakang.Setelah membayar makanannya, Kavin melanjutkan perjalanannya kembali. Yaitu menuju kelasnya.
"Kenapa?Gue cuma minta nomor dia aja kok.Tenang aja,gue gak ada niatan buat rebut dia dari lo kok".Jelasnya disepanjang koridor.
"Gue bilang gak bisa,ya gak bisa".Tekannya
"Emangnya kenapa sih?Lagian cuma nomor hp doang".Decaknya sebal
"Karna gue gak punya nomornya".Sahutnya datar dan santai.
Kedua temannya itu melongo tak percaya. Mereka benar benar tak percaya,karena alasan ia tidak ingin memberikannya adalah karena dia sendiri juga tidak mempunyai nomor pacarnya itu.Mereka kira bahwa Kavin tidak mau berbagi dengan temannya itu.Keduannya mengerjapkan matanya beberapa kali.Langsung saja punggung tangan keduannya ia tempelkan diatas kening Kavin.
"Dia bodoh apa gimana sih?".
"Dia punya otak gak sih?".Gumam keduannya dalam hati.
"Lo yang bener aja dong.Lo itu udah berapa minggu pacaran sama dia?Sampe nomor Hp aja lo gak punya".Maki Raka dan segera melepaskan punggung tangannya.
"Lo juga kenapa sih?Kenapa lo ngotot banget minta nomor Hp si Kila?".Tanya Bisma sambil menatap penuh intimidasi pada Raka. Begitupun dengan Kavin.
"S--Sebenarnya gue mau minta nomor Hp sahabatnya lewat Kila".Jawabnya sambil mengedarkan pandangannya kesembarang arah.
"What?HAHAHAHA,,,,Lo serius?Yang bener aja dong!Lo itu playboy dan rayuan lo itu banyak.Kenapa lo gak minta langsung aja sama tuh cewek".Ejeknya dengan tawa terbahak bahak yang tak henti henti.Raka pun mendengus kesal.
"Sabar ya,mungkin ini karma buat lo". Ledek Bisma lagi.Tangannya pun segera merangkul pundak Raka dan Kavin.Mereka kembali berjalan beriringan kearah tujuan mereka saat ini.
"Tapi seriusan tuh si Kavin gak punya nomor si Kila?".Bisik Raka memastikan.
"Kayaknya sih iya".Balas Bisma.
"Kila,,,,Kila,,,,".Teriak Via diambang pintu kelas.Kila yang sedari tadi bergelut dengan alat lukisnya pun terpaksa menghentikan kegiatannya sejenak.Ia mendongkakkan kepalanya ke arah Via.Wajahnya ia gerakan keatas,seolah bertanya 'ada apa?'
"Anggota PMR disuruh kumpul di UKS,Lo cepetan deh pergi kesana".Ujarnya.Merasa mengerti,langsung saja Kila bangkit dari duduknya.Ia merapikan kembali barang barangnya kedalam tas sebelum akhirnya ia benar benar pergi dari kelas itu.
"Riris mana?".Tanya Kila selama dalam perjalanannya.
"Riris udah ada disana duluan,tapi maaf gue gak bisa nemenin lo sampe sana ya". Ucap Via,karena Via bukanlah anggota PMR.
"Gak apa,lagian gue udah hapal kali seluk beluk nih sekolah".Balas Kila.Sesampainya di persimpangan jalan,Via pun berbelok ke arah kanan.Karena tujuannya saat ini adalah perpustakaan.
Kila berjalan menyusuri koridor dengan banyak pasang mata yang menatapnya jengah dan tak suka.Tetapi ia terus saja tak mempedulikan tatapan tatapan itu dan malah semakin mantap melangkahkan kakinya.Tatapan tatapan itu bukan membuat Kila takut ataupun kesal,tetapi tatapan itu membuat Kila semakin gugup saja di sepanjang perjalanan.
"Kila lo kenapa?".Tanya seseorang yang melihat gelagat aneh dari Kila.Sedari tadi ia terus saja memperhatikan Kila yang berjalan cepat dengan wajah tertunduk disepanjang koridor.
"AAAAAA!!!".Kagetnya karena tiba tiba saja sesosok lelaki berdiri disampingnya dan hanya tersisa beberapa jarak saja antara wajah keduannya.
"Biasa aja napah!Gue bukan hantu".Gerutu lelaki itu.Dia adalah Azki,lelaki yang menjabat sebagai ketua PMR disekolah.Hubungan mereka bisa dibilang cukup dekat karena rumah keduannya berada di komplek yang sama.
"Yamaaf kali Kak,lagian lo sendiri yang ngagetin gue duluan".Cibirnya tak kalah kesal. Merasa gemas,Azki menarik pipi Kila dengan cukup keras hingga membuatnya sedikit meringis.Langsung saja ia menepis tangan yang menarik pipinya itu.
"Dasar mata empat".Ejeknya dan langsung saja berlari dengan sekencang mungkin. Sudah pasti Kakak kelasnya yang bernama Azki itu tidak akan melepaskannya karena disebut mata empat.Bukan tanpa alasan, karena lelaki itu memang mempunyai mata empat.Yaitu tambahan dari kacamatanya.
"Awas aja lo Kila,bakal gue bales".Teriaknya dan langsung berlari mengejar Kila yang sudah mulai menjauh.Pada dasarnya, percuma saja Kila berlari.Nantinya ia juga akan bertemu lagi dengan Kakak kelasnya itu nanti di UKS.
Candaan yang begitu mengasikkan itupun tetap tak luput dari pandangan banyak orang. Begitupun dengan ketiga lelaki yang menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kok lo biasa aja sih liat mereka?".Tanya Raka sambil menyenggol lengan Kavin.
"Memang kenapa?Lagipula gak ada yang salahkan?!".Jawabnya enteng
"Apa lo gak marah sama sekali kalau si Kila lebih deket sama orang lain?".Ujar Bisma
"Kenapa gue harus marah?Lagipula suka suka dialah mau deket sama siapa aja".Selepas mengatakan itu,Kavin langsung saja pergi menjauh dari tempat itu.
"Hatinya belum dia instal kali".Celetuk Raka
"Kali ini,gue setuju sama pendapat lo. Walaupun tetep aja gak masuk akal".Balas Bisma.Lagi lagi,keduannya pun mengekor di belakang.Mengikuti langkah Kavin yang entah akan pergi kemana.