
" Saya hanya seorang pelayan yang mulia, semua orang hanya akan memandang rendah saya!"
" aku akan memenggal kepala mereka jika mereka berani berkata seperti itu. "
" Sekarang istirahatlah aku akan memanggil beberapa pelayan untuk mu" dia mencium kening, pipi, dan bibir lily sebelum bangkit dari ranjang.
Kaisar pun keluar dari kamar lalu muncul beberapa pelayan yang memang sudah lily kenal sendiri dulu.
" Leni, Athena" dia memeluk kedua orang itu lalu menangis, dia tidak tahu harus mengadu ke siapa. Karena pada dasarnya dia hanya seseorang yang di jual kepada istana untuk menjadi pelayan.
Dia sama sekali tidak mengingat nama panjangnya, keluarganya. Yang dia ketahui adalah tanggal lahirnya yang terukir di sebuah kalung yang dia simpan di lemari. Itulah satu-satunya barang yang dia miliki sebagai kenangan.
" Lily jangan menangis" Athena mencoba menenangkan lily sedemikian rupa cara yang dia gunakan namun lily masih saja menangis.
" Ayo mandi dulu lily" kini Lena ikut mencoba mencairkan suasana yang sedih ini. Dia dan Athena sudah menganggap lily sebagai adiknya sendiri dan melihat apa yang di lakukan yang mulia kaisar membuat kesal dan juga marah namun, dia tidak bisa melakukan apapun terhadap pria itu.
Mereka membantu lily memasuki area kamar mandi di mana di sana ada kolam yang di sediakan sebagai tempat mandi. Keduanya shock saat melihat jejak-jejak yang di tinggalkan oleh Maximilian di tubuh lily, begitu brutalnya hingga tanda-tanda itu berwarna ungu ini seperti bukan karena gigitan melainkan pukulan.
" Lily ayo coba pakai baju ini" mereka mencoba menghiburnya dengan sebuah gaun yang indah.
" Lily tunggulah di sini aku akan datang membawakan mu makanan" Athena berkata lalu berjalan pergi meninggalkan lena dan lily.
Pintu terbuka kembali berselang beberapa menit saat Athena menodong troli makanan. Ada banyak hidangan terutama makanan yang dapat mengembangkan energi.
" Makanlah kami harus pergi kerja."
" Bisakah kian tinggal lebih lama. Di sini? "
" Maaf lily kami memiliki pekerjaan yang harus kami selesaikan "
Lily berdiam diri tanpa mau keluar dari kamar sang kaisar, dia terlalu takut untuk menghadapi gosip-gosip yang beredar tentang dirinya. Dia hanya duduk merenung menatap pemandangan yang indah dari kamar.
" Lily" sebuah suara lembut terdengar, tangan terbalut sarung tangan berwarna putih itu memeluk tubuhnya dari belakang.
Dia sudah tidak kaget lagi untuk apa dia kaget bukankah dia tahu hanya satu pria yang mampu melakukan ini kepadanya dan mampu memasuki kamar pribadi milik sang kaisar kecuali sang kaisar sendiri.
" Ku belikan coklat kesuksesan mu." Dia tersenyum dengan mengeluarkan sebungkus coklat mahal yang sering dia berikan saat lily berulang tahun.
" Cobalah"
" Yang mulia kenapa anda memilih saya, saya hanya pelayan rendahan" ucapnya tanpa mau menoleh sedikitpun ke Maximilian.
" Jangan panggil aku yang mulia panggil aku Maximilian"
" Yan--"
" Maximilian, kenapa kamu memilih ku? Kenapa?"
" Aku mencintaimu " jawabannya sangat singkat namun penuh dengan kesungguhan dan ketulusan di matanya. Dia memang seorang tiran yang tak memiliki hati bagi lawannya namun dia juga seorang manusia yang bisa jatuh cinta kepada manusia lain. Bukankah itu wajar?
" Anda seorang kaisar tidak pantas anda bersama saya, anda harus menikah bersama wanita suci atau seorang wanita bangsawan "
" Kau akan menjadi selir kesayangan ku, lily dan akan ku pastikan penerus ku hanya terlahir dari mu, itu janjiku kepadamu lily. " Dia mencium tangan lily.
Maximilian akui dia bukan pria yang romantis tapi demi lily dia mau melakukannya merubah sikap dingin, licik, manipulatif, dan seorang tiran hanya untuk lily seorang. Pelayan ini mampu menculik hatinya sedari dia remaja.
"Lily ayo coba coklatnya"
Tangan lentik itu mengambil satu coklat dalam kotak itu lalu memakannya. Selalu sama rasanya seperti dahulu tidak ada yang berubah namun salah semua itu masih sama seperti yang lalu.
" Terimakasih yang mulia."
" Jika saja status mu bukan seorang pelayan aku pasti akan menjadikanmu satu-satunya permaisuri dan istriku lily" dia menghela nafas sudah berbagai cara dia lakukan untuk mengoreksi tentang keluarga lily namun pria yang menjual lily dahulu ke istananya sudah meninggal jadi cukup sulit untuk mengakses tentangnya.
" Apa kau menginginkan sesuatu lily? Katakan saja" Maximilian masih terus berusaha membuat lily kembali berbicara dengannya walau dia seiring di diamkan namun ia tak ingin menyerah.
Bukankah cinta perlu perjuangan? Dan dia melakukanya Sekarang memperjuangkan lily menjadi miliknya, wanitanya dan ibu dari anak-anaknya kelak.
" Lily ayo makan"
" Aku tidak lapar yang mulia"
" Tidak ayo makan"
Maximilian menarik lembut tubuh wanitanya dengan lembut lalu menggenggam erat tangannya membawanya makan bersama bersama dirinya dan juga rosalyn.
" Yang mulia" rosalyn berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampirinya namun pandangannya beralih ke lily dia menatap sinis mantan pelayannya itu.
Dia merasa cinta dan kasih sayang dari yang mulia telah lily renggut darinya.
" Yang mulia kenapa pelayan rendah ini berada di sini!"
" Tutup mulutmu rosalyn dia adalah wanitaku! Hormatilah dia karena sebentar lagi statusnya akan lebih tinggi darimu! "
" Lily ayo duduk" dia menarik lily duduk di kursi sebelah kanannya di mana kursi itu hanya di peruntukan bagi calon permaisuri.
" Yang mulia... Anda membiarkan pelayan itu ikut makan dengan kita? Dia saja tidak memiliki etika saat makan!'
" Sial kenapa alurnya jadi rusak! Tapi hey nona rosalyn yang terhormat saya ini mantan Putri dari pembisnis kaya raya! Tentu saja saya memiliki etika yang baik! " Dai ingin berteriak namun dia urungkan.