I Became A Maid In A Novel

I Became A Maid In A Novel
8.



Mencapai istana saat matahari mulai menghilang di gantikan oleh bulan yang dengan malu-malu keluar dari sarangnya. Lily memasuki kamarnya dengan tersenyum melihat jepit rambut itu dengan bahagia.


" Pergi kemana dirimu. " Sebuah suara familiar terdengar di telinganya.


" Y..yang mulia! " Dia kaget melihat pria itu kini duduk di atas ranjangnya dengan pandangan tajam serta lihatlah kamarnya yang berantakan.


" Aku sedang bertanya kucing kecil"


" Sa..saya baru saja pulang dari festival yang di adakan di kota." Ucapnya dengan gugup, jujur saja aura di ruangan ini sangat dingin terlebih saat dia menatap mata biru itu.


" Bukankah ku katakan kau bisa pergi jika mendapat izinku apa kau tidak paham, HAH!! " Bentaknya


" Yang mulia " dia kaget mendengar suara bentakan dari sang kaisar Maximilian.


Pria itu berdiri berjalan mendekat ke arah gadis yang tengah menunduk takut. Lily berjalan mundur hingga tubuhnya menabrak pintu di belakangnya, tidak ada jalan keluar sama sekali saat tubuhnya di hampir oleh tubuh besar Maximilian.


" Maafkan saya yang mulia, saya salah" ucapnya lirih. Sungguh dia sangat takut entah mengapa dia tidak ada ke beranian untuk menatap mata biru safir itu.


" Pelayan yang tidak menuruti keinginan tuanya pantas untuk di hukum lily" tangan berbalut sarung tangan berwarna hitam itu mengelus wajah lily dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah indahnya.


" Malam ini tidur di kamarku. " Perintahnya


" Ta..tapi yang mulia. "


" Tidak ada bantahan atau penolakan pelayan! "


Lily semakin menunduk mendengar teriakan kembali, dia takut sungguh sangat takut saat melihat tingkah sang kaisar yang begitu posesif terhadap dirinya. Dia hanya ingin hidup bebas di pedesaan bersama seseorang yang dia cintai bukan dengan paksaan.


Malam harinya beberapa pelayan datang membawa bak mandi untuknya, membuat lily kaget dengan ini semuanya.


" Ada apa ini? " Tanya penuh kebingungan


" Yang mulia kaisar meyuruh kami untuk mendandani mu sebelum dirimu ke kamarnya."


" Oh tuhan, dewa, dan seluruh pemilik alam ini apa yang di pikirkan kaisar Tiran itu. Dia ingin membuat gosip kembali dengan dirinya tidak cukupkah dengan seluruh gosip yang simpang siur tentang mereka selama ini"


Lily ingin marah namun apa kuasanya? Dia hanya pelayan rendah yang mungkin saja menarik antensi dari yang mulia kaisar.



Sumber foto printerest


Gaun tidur berwarna putih di kenakan lily, para pelayan berdiri saat mereka selesai merias tipis wajah lily lalu mereka mengantarkan lily ke kamar yang mulia kaisar yang di jaga ketat oleh para prajurit.


" Yang mulia pelayan lily sudah datang." Teriak salah satu dari keempat pelayan itu.


" Biarkan dia masuk! Kalian pergilah tinggalkan kami berdua! " Tintahnya kepada seluruh pelayan dan juga untuk kesatria.


Lily menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu dengan ukiran naga yang begitu indah.


" Salam kepada matahari kerajaan dan raja bagi para raja"


Dia mengendong lily membawanya ke ranjang lalu mendudukkan tubuh kecil itu dalam pangkuannya.


" Kau selalu cantik" ucapnya


"....." Lily diam tidak tahu harus merespon apa, apakah dia perlu berterima kasih? Atau bagaimana.


"Aku berencana untuk menjadikan dirimu wanita ku lily, hanya milikku selamanya." ucapnya


" Aku menolaknya yang mulia! " Dia mencoba untuk memberontak


" Berani sekali kau melawan perintahku, lily! " Dia menjatuhkan tubuh lily di atas kasur mencengkram erat tangan gadis itu di atas kepalanya.


" Kamu adalah milikku lily sendari dulu kau milikku"


" Bagaimana dengan nona rosalyn yang mulia! "


" Aku hanya membutuhkan kekuatannya bukan dirinya! "


" Aku tidak ingin bersama anda yang mulia! " Dia memberontak dengan menendang- nendang tubuh besar itu.


" Usahamu sia-sia saja lily."


Maximilian mendekatkan wajahnya mencium bibir tipis itu dengan lembut, tangan satunya mulai nakal menelusup mengelus paha mulus lily dari lututnya hingga pinggulnya.


Tubuh lily seketika mendengan dia tidak pernah terbayangkan akan berakhir begini. Tidak dia tidak ingin menjadi wanita tiran seperti Maximilian.


" Yang mulia lepaskan saya" dia menangis, liquid bening itu turun dengan deras dari mata Rubynya.


" Sutt kamu tidak akan bisa menolakku lily" bibirnya menarik sebuah pita yang terpasang di antara dada gadis muda itu memperlihatkan aset berharganya.


" Yang mulia! " Teriaknya


Tangan besar itu meremas salah satu dari gundukan kenyal itu dengan sensual. Di malam itu keduanya menyatukan diri dalam tangisan dan ******* yang begitu memilukan dari lily. Gadis kecil itu kini telah resmi menjadi wanita bukan gadis lagi.


" Tidurlah. " Maximilian memeluk tubuh lily dalam dekapannya membuat lily tertidur akibat kelelahan.


Keesokan harinya lily bangun terlebih dahulu lebih dari Maximilian, dia meraung menangis, menangisi takdirnya yang begitu tragis, kenapa harus dia itulah yang dia pikirkan saat ini. Tubuhnya sakit terutama selangkangannya yang begitu sakit.


" Sutt tidak boleh menangis, lily. " Suara serak khas seseorang Bagun tidur terdengar di telinganya.


Sebuah pelukan hangat melingkar di pinggangnya, dengan wajah Maximilian di pundak kanannya.


" Saya membenci anda yang mulia! "


" Apa yang kau katakan, lily! " Tangan itu mencengkram pipi lily dengan kuat memaksanya untuk menghadap kepada sang tiran.


" Kau milikku mulai sekarang! Pernikahan kita akan terjadi satu Minggu lagi! Jangan coba-coba untuk melarikan diri karena aku akan selalu menemukan dirimu di manapun kamu bersembunyi! Camkan itu baik-baik. " Dia mengancam lily antar menuruti keinginannya