
Sejak kejadian itu lily tidak di izinkan untuk pergi jauh jika tanpa ada seseorang yang menemaninya. Kaisar benar-benar protektif ke lily hingga dia meyuruh 5 orang prajurit bayangan untuk mengikuti lily saat keluar dari istana agar tidak ada lagi aksi penculikan.
Dan kejadian itu sudah berlalu 3 tahun yang lalu dan kini lily telah tumbuh menjadi gadis cantik yang begitu banyak orang menyukainya. Bahkan setelah usianya menginjak 17 tahun banyak surat lamaran yang dia terima dari kalangan kesatria namun, dia menolak semuanya.
" Lily kemarilah" ucap sang kaisar
Gadis muda itu berjalan mendekati kaisar yang tengah duduk di meja kerjanya. Dia mengangkat tubuh ringan lily untuk duduk dalam pangkuannya.
" Yang mulia" dia tergagap-gagap saat yang mulia memeluknya dari belakang.
" Kenapa hmm? " Yang mulia bertanya kepada kucing kecil yang manis ini.
Lily mengelengkan kepalanya untuk apa dia bersusah payah menghentikan perbuatan Maximilian karena pada akhirnya dialah yang kalah.
" Pejamkan matamu"
Lily memejamkan matanya sesuai keinginan sang kaisar, dia merasa dingin di sekitar area lehernya seperti sebuah kalung?
" Buka matamu"
" Yang mulia ini kalung? "
" Itu sangat cocok dengan mu kucing kecil."
" Yang mulia aku sudah dewasa bukan kucing kecil anda lagi" dia memalingkan wajahnya berpura-pura untuk marah
" Owh, kucing kecil ku ini sedang marah rupanya" dia memeluk tubuh lily dengan erat.
" Eh, yang mulia! " Pekik lily saat tubuhnya di tidurkan di atas meja
" Sudah dewasa hmm?" Dia terkikik geli dengan senyum culas di bibirnya.
Mendekatkan wajahnya ke wajah lily mengikis jarak antara keduanya, begitu dekat hingga dapat merasakan nafas satu sama lain. Lily terpana akan karisma yang di miliki Maximilian sungguh indah ciptaan author ini.
"Lily~ " ujarnya lembut dengan mencium bibir lily hanya sebuah ciuman biasa tidak lebih dari itu.
Mata Ruby milik lily melotot kaget dengan situasi ini dia dengan tegas mendorong tubuh sang kaisar hingga mundur beberapa langkah dia pun bangkit dan berlari keluar dari ruangan itu dengan wajah memerah akibat aksi intens itu.
"Lily kau milikku! " Ucap sang kaisar Maximilian dengan mata penuh ke obsession dan posesif kepada wanitanya.
" Aku sudah bersabar untuk tidak menyerang mu Sendari dahulu, dan kini usia mu akan beranjak 18 tahun kau akan ku angkat sebagai selir milikku, hanya milikku tidak ada yang lain! "
Sedangkan di tempat lain lily tengah menatap pantulan dirinya di kamarnya, menyentuh bibirnya yang sudah terjamah itu. Hatinya berdebar kencang serta wajahnya yang memerah padam.
" Tunggu kenapa ceritanya berubah " ucapnya dengan lemah.
Dia masih shock akan ciuman dari sang kaisar bukankah harusnya rosalyn yang berbeda di sini kenapa harus dirinya?
" Lily apa kau di dalam " suara Duke muda terdengar
" Tunggu sebentar yang mulia" jawabnya
Dengan cepat dia menyembunyikan kalung itu di balik bajunya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
" Ada apa tuan Duke? " Ucapnya.
"Ayo kita pergi ke kotaku dengar ada sebuah festival musik panen"
Keduanya pun berangkat menuju kota, di sana sungguh ramai akan pertunjukan yang meriah. Semua orang tertawa bersama dan berterimakasih kepada yang mulia kaisar karena kekuatannya dia mengendalikan awan hujan ke arah barat di mana itu semua adalah ladang milik para petani. Mereka berterimakasih atas keberhasilan panen mereka.
"Lily ayo masuk kedalam" keduanya pun memasuki sebuah cafe yang terlihat indah dengan oleh hiasan.
Mereka ah, bukan mereka lebih tepatnya Rafael yang memesan seluruh cake di hidangkan di hadapan mereka.
"Makanlah ku dengar kau menyukai kue atau cake yang manis."
" Terimakasih Duke" dia tersenyum menyuap cake tersebut kedalam mulutnya, rasa manis yang lumer di mulutnya membuat lily tersenyum lebar, ini ada kue paling enak menurutnya.
" Ini sangat lezat, Duke juga harus mencobanya"
" Tentu. Lily panggil aku Rafael saja jika kita hanya berdua saja, okey. "
" Itu tidak sopan Duke"
" Lily ini adalah perintah"
" kenapa kalian kakak beradik suka sekali memanfaatkan kekuasaan yang kalian miliki untuk mengancam ku"
" Karena jika tidak mengancam mu kau tidak akan mau. Kau keras kepala"
Rafael terkikis geli saat melihat ekspresi lily yang imut menurutnya dia seperti seekor kucing yang sedang mengamuk.
" Du...Rafael " lily berkata dengan gugup
" Itu lebih baik " jawabnya
" Apa tidak akan masalah, Rafael?"
" Tidak akan ada percayalah kepadaku" pria itu tersenyum manis.
Mereka pergi dari cafe itu menuju lokasi para pedagang sovenir yang indah-indah. Seperti sebuah jepit rambut, pita, dan sepatu.
" Lily coba lihat jepit rambut ini sepertinya cocok untuk mu" Rafael mengambil sebuah jepit rambut berwarna merah dan emas.
" Rafael ini terlalu mahal" tolaknya secara halus.
" Itu murah bagiku." Dia tersenyum lebar.
Ayolah untuk sekelas Duke itu adalah barang yang murah baginya yang memiliki begitu banyak uang.
" Kumohon terimalah"
" Jangan memohon kepadaku Rafael, a..aku hanya seorang pelayan"
" Tapi kau bukan pelayan di hatiku"
" Bagaimana ini kenapa kisah cinta ini berputar di sekitar ku, seharunya rosalyn lah sang pemeran utama. " Innernya
" Lily, hey kenapa kamu melamun? "
" Tidak aku tidak melamun"
" Lebih baik kita pulang sebelum kakak mengetahui kau keluar dengan ku"