
Javir tengah menikmati angin malam di halaman belakang rumahnya di temani dengan secangkir coklat panas untuk sekedar menghangatkan tubuhnya.
Pandangannya tertuju pada sebuah bintang yang bersebelahan, matanya mengerjap seolah meminta sebuah harapan.
Sebuah tangan terulur memegang bahunya, senyumnya terpancar ketika melihat sosok yang kini berada disampingnya.
“Muka kamu serius sekali, lagi memikirkan hutang negara ya?” tanyanya dengan tawa mengejek.
“Apasih Ayah, buat apa Javir memikirkan hutang negara, lebih baik Javir memikirkan hutang perusahaan Ayah” Jawabnya.
“Sembarangan kamu bicaranya. Perusahaan Ayah bebas hutang ya, Javir” sahutnya dengan kesal.
“Oh ya? Bukannya hampir bangkrut ya?” tanya Javir yang terus meledek ayahnya.
“Hampir bukan berarti beneran bangkrut. Untung saja ada perusahaan yang mau bekerja sama tepat waktu, jadi sekarang kondisinya sudah kembali stabil,” jelasnya sembari menyeruput coklat panas milik Javir.
“Benarkah, siapa?” tanya Javir penasaran.
“Alenxia grub,” jawab ayah Javir dengan tenang.
Javir terkejut dengan jawaban yang diberikan ayahnya, tidak menyangka jika perusahaan besar yang terkenal sulit untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan lain mau bekerja sama dengan perusahaan ayahnya yang nyatanya saat itu justru hampir bangkrut.
“Kamu tidak menyangka, kan?” tanya ayahnya.
Javir mengangguk.
“Sama, Ayah juga tidak menyangka jika Alenxia mau bekerja sama. Awalnya ayah ragu ingin bekerja sama dengan mereka, tapi demi perusahaan ayah memberanikan diri walau awalnya ayah yakin pasti akan ditolak, tapi ternyata justru mereka menyetujui kerja sama ini” jelasnya tegas, tapi Javir justru melihat keraguan dimata ayahnya.
“Tapi kenapa Ayah terlihat ragu?” tanya Javir.
Ayahnya hanya tersenyum kearahnya tanpa berniat menjawab pertanyaan putranya itu. Ayah Javir beranjak dari duduknya lalu memegang pundak Javir dengan lembut.
“Ini sudah malam, sebaiknya kamu pergi tidur jangan sampai besok telat ke sekolah,” perintahnya pada putranya.
Ayahnya berbalik dan masuk kerumah, Javir hanya bisa melihat punggung ayahnya yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
...***
...
Sudah berjalan beberapa bulan sejak Janu mengetahui fakta tentang Alena, namun belum juga ada keberanian dirinya untuk mengatakan hal itu pada Alena, sedangkan neneknya memintanya untuk segera mempertemukannya dengan Alena.
Janu menghela nafas berat saat sedang menikamati makanannya membuat ketiga temanya itu menoleh kearahnya bersamaan.
“Iya, akhir akhir ini terlihat tidak bersemangat” sahut Haidar dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
“Tidak ada, aku baik baik saja hanya sedikit banyak pikiran,” ungkapnya dengan menyendokkan makanan kedalam mulutnya
“Jika ada yang mengganggu pikiranmu katakan saja, siapa tau kita bisa membantu” ujar Alena yang tenang sambil mematap janu yang ada didepannya.
Janu hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.
Bagaimana aku mengatakannya jika yang menganggu pikiranku adalah dirimu, Alena. Batin Janu.
“Ayo kembali ke kelas,” ajak Haidar sesaat setelah menghabiskan makanannya.
“Tumben? Biasanya nunggu bell masuk baru kembali ke kelas?” tanya Mala.
“Mataku ngantuk, selagi jam istirahat aku mau tidur dulu,” jawabnya dengan suara lelah yang dibuat-buat.
“Kalian saja yang kembali aku sama Alena masih mau disini” jelas Mala.
“Baiklah. Ayo Janu” tangannya menarik lengan baju Janu dengan sedikit keras.
Janu hanya diam dan mengikuti langkah Haidar, namun sebelum benar benar meninggalkan kantin Janu kembali menoleh kearah meja yang di tempati Alena.
Ternyata hal tal terduga tertangkap oleh indra penglihatannya, didepan sana Janu melihat Alena yang sedang menutup mulut dan hodungnya menggunakan tangan seakan menahan mual.
Sepertinya pertanyaan Janu tentang siapa target Alena akan terjawab.
Rasa penasaran semakin besar membuat Janu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya bahkan matanya enggan untuk berkedip. Dia terus berharap agar dia melihat wajah pria itu.
Mata Janu membulat sempurna saat laki laki itu kini melihat kearah samping dan memperlihatkan wajahnya. Tak disangkanya ternyata seseorang yang dulu dia kenal delat adalah target dari Alena.
“Javir” gumamnya.
Bagai terhantam ribuan batu ternyata seseorang yang kini sangat dia hindari adalah keturunan manusia yang membantai kaum vampir dimasa lalu.
“Januar cepat!” teriakan Haidar menyadarkannya, segera dia menyusul dan meninggalkan kantin dengan perasaan bimbang.
Selama perjalanan kembali ke kelas Janu hanya diam memikirkan ke tidak mungkinan fakta yang baru saja dia lihat.
Keyakinan untuk mencegah Alena balas dendam semakin besar, karena dari lubuk hatinya Janu tidak menginginkan Javir terluka meski sekarang mereka tidak sedekat dulu. Javir pernah menjadi sosok kakak bagi Janu itu sebabnya dia juga ingin melindunginya.
Nek, apa nenek juga tau bahwa Javir adalah target Alena. Batin Janu.