
"Anak buah kita berhasil menemukan titik dimana mayat itu terkubur, Bos" ucap Dion yang memasuki ruang kerja Tyson.
"Benarkah?" tanya memastikan.
"Benar, titik mayat itu terkubur di dalam gudang bawah tanah yang jika kita tarik garis gudang itu berada disatu garis vertikal dengan ruangan CEO," jawab Dion.
Tyson mengerutkan keningnya berfikir sejenak. "Dikedalam berapa mayat itu terkubur?" tanya Tyson.
"Kurang lebih sekitar dua puluh meter," jawab Dion.
Tyson memutar kursi kerjanya menghadap jendela kaca, salah satu tangannya bertumpu pada dagu dengan jari telunjuk yang terus mengetuk pelipisnya.
"Hmm, itu artinya kemungkinan kita memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggali secara manual," ucapnya.
"Benar, Bos. Ditambah akses menuju kegudang itu sedikit sulit karena penjagaan yang ketat," balas Dion.
"Penjagaan? Untuk apa keluarga Darian melakukan penjagaan pada gudang yang hampir tidak pernah dimasuki orang?" tanya Tyson.
"Saya dengar di dalam gudang itu terdapat banyak emas peninggalan keluarga Darian," Jawabnya.
Tyson pun mengangguk lalu memerintahkan Dion agar keluar dari ruanganya.
"Aneh, jika keluarga Darian mempunyai banyak emas dari peninggalan keluarga mereka, lantas kenapa saat perusahaannya mengalami masalah dan hampir bangkrut justru kebingungan?" gumam Tyson.
...***...
Matahari pagi masih belum menampakkan sinarnya membuat suhu dingin masih terasa menusuk kepermukaan kulit, Alena yang memang tak tidur malam mendengar suara bell pintu rumahnya berbunyi, tak pernah dia dengar sebelumnya ada yang membunyikan bel tersebut karena Tyson dan Eron tak perlu melakukkan hal itu untuk masuk kerumahnya.
Saat langkahnya semakin dekat dengan pintu dia mencium aroma gingseng emas dibalik pintu tersebut dengan cepat dia tahu siapa sosok dibalik pintu rumahnya yang tengah membunyikan bell. Alena tersenyum licik kemudian menghilang dalam sekejap.
Janu merasa semakin kesal karena Alena tak kunjung membukakan pintunya, cuaca dingin mulai menembus hoodie tebalnya membuat Janu sedikit menggigil kedinginan.
"Kamu ngapain disini?" suara Alena yang tiba tiba terdengar dari arah belakang Janu membuatnya terkejut.
"Sejak kapan kamu di belakangku?" tanya Janu yang masih shock.
"Baru saja," jawab Alena singkat. "Kamu ngapain dirumahku pagi buta seperti ini?" sambungnya bertanya.
"Ingin mengajakmu lari pagi berhubung hari ini hari terakhir libur," jawab Janu.
"Baiklah, aku akan berganti pakaian. Masuklah, diluar masih dingin," ucap Alena setelahnya dia menghilang meninggalkan Janu sendirian disana.
"Apakah Vampir sejenis hantu yang bisa menghilang kapan saja," gumamnya lalu beralih menghadap kearah pintu yang ternyata masih tertutup.
Janu mendengus kesal. "Alena buka pintunya aku tidak bisa masuk," teriaknya.
Setelah menunggu Alena mengganti pakaiannya saat itu juga matahari mulai menampakkan dirinya dengan sinarnya yang terasa hangat saat menyentuh kulit Janu. Janu sangat menikmati lari paginya bersama Alena meski sering tak banyak berbincang.
"Kamu tidak capek?" tanya Janu, Alenapun menggeleng.
"Kita istirahat dulu ya," tawar Janu ketika nafasnya mulai terengah-engah.
Janu memilih berhenti ditrotoar pinggir jalan karena sudah tidak kuat untuk berlari.
"Kamu kuat juga ya berlari, bahkan tidak berkeringat sama sekali," ucap janu yang memperhatikan Alena masih terlihat santai sedangkan dirinya sudah kehabisan tenaga.
"Kamu lupa siapa aku? Berlari seperti ini hanya hal kecil untuk ku," jawab Alena.
"Hah benar, aku lupa bahwa kamu bahkan bisa berlari secepat kilat," sahut Janu.
"Tunggu disini," ucap Alena yang kemudian pergi entah kemana.
Beberapa saat kemudian Alena kembali dengan sebotol mineral ditangannya.
"Terimakasih," janu mengambilnya dan langsung menenggaknya sampai habis.
"Kamu tidak minum?" tanya Janu yang melihat Alena tidak memegang botol mineral lagi selain yang diberikan kepadanya.
"Minum darah mu boleh?" balas Alena yang membuat Janu bergidik ngeri.
"Tidak tidak tidak, darahku tidak enak," jawabnya cepat.
Alena tidak menanggapi perkataan Janu, dia mengambil posisi duduk disamping Janu dengan menatap lurus kedepan tanpa ekspresi.
"Sejak kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Alena tanla mengalihkan perhatiannya.
"Tiga hari yang lalu," jawab Janu dan Alenapun mengangguk.
Mereka kembali dalam suasana canggung, meski Janu berusaha merubah suasana itu dengan memperbanyak bertanya namun Alena selalu menjawabnya singkat dan tanpa ekspresi, sepertinya suasana hati Alena sedang tidak terlalu bagus.
Saat mereka terfokus pada kendaraan yang berlalu lalang, tiba tiba tepat didepan mereka terjadi kecelakaan, sebuah motor tanpa sengaja menabrak truk yang berlawanan arah saat ingin mendahului mobil didepannya.
Alena yang melihat darah segar mengalir tepat didepan matanya membuatnya merasa sangat haus dan ingin meminumnya.
Janu kebingungan saat melihat mata biru Alena telah aktif ditambah lagi mereka tidak membawa persediaan darah, akan bahaya jika Alena lepas kendali didepan banyak orang.
Alena yang masih sadar berusaha mengalihkan pandangannya namun aroma darah yang sangat kuat merasuk kerongga hidungnya yang membuatnya tak tahan lagi. Langkahnya mulai mendekat kearah korban, Janu yang melihat itu dibuat semakin kebingungan dia berusaha memanggil Alena berkali-kali namun Wanita vampir itu tak mendengar panggilannya.
Hingga sebuah bayangan hitam membawa Alena dengan cepat pergi dari sana. Dia membawa Alena kesebuah bangunan kosong yang letaknya lumayan jauh dari tempat kecelakaan tadi.
"Ambil ini," sebuah kantung darah diberikan pada Alena dan dengan cepat dihabiskannya.
"Terimakasih, Tyson" ucapnya setelah menghabiskan sekantung darah tanpa sisa.
"Lain kali hati-hati, jika terjadi hal seperti ini lagi cepatlah pergi selagi kesadaranmu masih ada," ucap Tyson yang menasehati Alena.
"Iya,"
"Alena," teriak Janu saat berhasil menemukan teman vampirnya itu.
Alena dan Tyson melihat Janu yang berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa.
"Astaga, aku mencarimu kemana-mana," ucapnya saat sudah berada didepan kedua vampir kakak beradik itu.
"Maaf, aku membuatmu khawatir," balas Alena saat melihat raut wajah Janu yang sedikit pucat karena kelelahan.
"Tidak apa-apa syukurlah kamu baik-baik saja," jawabnya.
"Eh, Tuan Tyson," ucapnya saat baru menyadari keberadaan Tyson disana.
"Jadi yang membawa Alena tadi itu anda?" tanya Janu.
"Iya, itu saya. Lain kali segera bawa Alena pergi jika menjumpai keadaan seperti itu. Jangan khawatir, dia tidak akan berani meminum darahmu karena di dalam darahmu mengalir ramuan gingseng emas dimana jika Alena meminumnya itu sama saja dia mengkhianati leluhurnya," jelas Tyson saat melihat kekhawatiran pada diri Janu.
"Ah iya baiklah," balasnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu kalian lanjutkan saja kegiatan kalian," ucap Tyson yang mendapat anggukan dari Alena dan Janu.
Seperginya Tyson, kini hanya menyisahkan Alena dan Janu disana.
"Kita kemana sekarang, lanjut lari lagi atau pulang?" tanya Janu pada Alena.
"Pulang," jawabnya singkat dan langsung berlalu meninggalkan Janu.
"Baiklah, kita pulang sekarang," balas Janu yang menyusul langkah Alena.