
"Sial, bagaimana mereka bisa mati? Bukankah kamu baru saja menemui mereka?" murka Darian ketika mendengar sanderanya tewas.
"Maaf Ayah, terakhir kali Javir meninggalkan mereka masih dalam keadaan hidup dan Javir sama sekali tidak berniat membunuh mereka, Javir hanya menyiksa mereka untuk mengaku," jelas Javir pada ayahnya.
"Ya sudah, kamu urus mayat mereka, ayah pusing" ucap Darian yang masih kesal.
"Baik, Ayah" jawab Javir yang kemudian pergi dari ruangan ayahnya disusul beberapa orang dibelakangnya.
"Bagaimana bisa mereka tewas dan tidak ada satu pun anak buahku yang tau. Apa ada yang mengkhianatiku" gumam Darian.
Darian menghembuskan nafasnya kesal sembari melempar beberapa barang yang berada didekatnya.
Disisi lain Javir tengah mengatur pemakaman untuk sanderanya, dengan teliti Javir memperhatikan setiap pergerakan anak buah ayahnya yang mengikuti semua perintahnya.
"Cepat selesaikan aku tidak mau berlama lama disini" ucapnya tegas.
Mereka yang mendengar perintah dari Javir segera mempercepat pekerjaannya.
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam akhirnya mayat mayat itu selesai di makamkan. Javir dan yang lainnya segera kembali kerumah dan melapor pada Darian.
...***...
Pagi harinya di perusahaan Alenxia yang terlihat tenang dan damai terdapat satu karyawan yang terlihat cemas dan terburu-buru dengan langkahnya, dia adalah Dion yang dengan tergesa gesa berjalan menuju ruangan Bos nya.
"Bos, aku mendengar para pekerja kita yang tertangkap tewas semalam," ucapnya sesaat setelah memasuki ruangan Tyson tanpa tau jika disana ternyata sudah ada Alena dan Eron yang menatapnya dengan menahan tawa.
Dion yang merasa bingung dengan ketiga vampir didepannya saat ini, memberanikan untuk bertanya.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Tuan Dion Nalendra, apa pantas di kantor menggunakan piyama?" balas Alena bertanya dengan nada mengejek.
Dion segera memeriksa dirinya dan ternyata benar dia masih mengenakan setelan piyama yang dipakainya semalam. Akibat mendapat kabar tentang kematian para pekerja yang menjadi tawanan Darian tanpa berpikir panjang Dion segera menuju ke kantor tanpa disadari dia lupa berganti pakaian.
"Ini pakailah! Ganti pakaianmu baru aku jelaskan," ucap Tyson memberikan setelan Jas yang tergantung tak jauh dari meja kerjanya pada Dion.
"Bos, kamu memberiku ini apa itu artinya kamu sudah mengetahui bahwa aku akan datang dengan menggunakan piyama?" tanya Dion heran.
"Itu hanya kebetulan. Pakaian ku baru selesai dicuci dan dikirimkan sebelum kamu datang," jawab Tyson.
"Sudah sana cepat ganti, jangan lupa sekalian mandi aku tidak mau di kantorku ada bau tidak sedap," sahut Alena yang membuat Dion mendengus kesal. Tanpa menjawab lagi Dion segera menuju kamar mandi yang ada di ruangan Tyson.
Selang beberapa menit Dion keluar dengan setelan Jas milik Tyson dengan rambut yang masih basah. Hal itu membuat Alena semakin geram pasalnya Dion dengan sengaja mengibaskan rambutnya membuat segala sesuatu yang di sekitarnya terkena cipratan air yang berasal dari rambutnya.
"Jika kamu tidak berhenti mengibaskan rambutmu, akan aku pastikan kepalamu terlepas dari tempatnya," ancam Alena yang membuat Dion bergidik ngeri.
"Masuk saja keruangan itu, disana ada pengering rambut dan segala macamnya kamu bisa menggunakan itu untuk memperbaiki penampilanmu," Tyson menunjuk kearah pintu bercat putih yang terletak disudut ruangan.
Dengan tersenyum Dion lantas memasuki ruangan tersebut.
"Apa kita akan menunggu manusia itu?" tanya Eron pada Alena sesaat setelah Dion memasuki ruangan itu.
"Tidak, biarkan Tyson yang menjelaskannya kita berangkat kesekolah sekarang," jawab Alena.
"Baiklah," balasnya lantas mengikuti Alena yang sudah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya.
...***...
Seperti biasa dijam istirahat Alena dan yang lainnya berkumpul dikantin sekolah, mereka yang biasanya hanya berempat kini menjadi berlima karena kedatangan Eron yang ikut bergabung dengan mereka.
Perbincangan yang disertai dengan gurauan menyelimuti suasana makan mereka meskipun Alena hanya beberapa kali menanggapi pembicaraan mereka.
"Aku dengar minggu depan sekolah akan mengadakan perkemahan sabtu minggu untuk semua angkatan," ucap Mala disela sela makannya.
"Oh ya, waaah sepertinya menyenangkan," balas Eron.
"Tentu, sekolah sudah lama tidak mengadakannya terakhir tiga tahun yang lalu seingatku dan itu kita belum masuk ke sini," jawab Mala dengan antusias.
"Lokasi kemahnya Dimana?" tanya Haidar dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Keempat temannya menghentikan aktifitasnya secara mendadak saat Mala menyebutkan lokasi tempat diadakannya perkemahaan tersebut.
Haidar menatap Mala dengan tatapan terkejut.
"Mala, serius kita akan kemah disana?" tanya Haidar memastikan.
"Benar, bu Arin yang mengatakannya," jawab Mala.
"Astaga, apakah guru guru disini tidak tau," geram Haidar.
"Tidak tau apa? Memangnya ada apa?" tanya Mala yang kebingungan dengan ucapan Haidar.
"Mala, hutan dipinggir kota itu kan terkenal mistisnya. Memangnya kamu tidak tau banyak orang yang hilang disana," jawab Haidar.
"Tidak, lagi pula tempat kita kemah itu di pinggir hutan, bukan masuk kehutannya," protes Mala.
"Ya itu sama saja, mau di pinggir hutan atau didalam hutan tetap saja namanya hutan," jawab Haidar tidak terima.
"Kamu kalau mau protes protes saja ke bu Arin, atau sekalian tidak usah ikut perkemahaan," balas Mala yang mulai kesal dengan Haidar.
"Sudah, kalian kalau mau ribut jangan didepan makanan kasihan nanti makanannya nangis," lerai Janu sebelum Haidar kembali membalas ucapan Mala.
"Memangnya makanan bisa nangis?" sahut Eron yang penasaran.
"Bercanda itu," jawab Janu.
Mala dan Haidar mendengus kesal kemudian melanjutkan aktifitas makan mereka.
Sedangkan Alena yang sejak tadi terdiam dengan kepala menunduk mulai melirik kearah Eron.
'Hutan itu tempat tinggal kita. Apa tidak masalah jika manusia berada disana?' tanya Alena pada Eron menggunakan kemampuan telepati mereka.
'Selama mereka tidak merusak dan tidak masuk kedalam aku rasa tidak masalah,' jawab Eron.
'Tapi … Aku merasa ada yang aneh,'
'Apa?'
Alena tidak menjawabnya dan hanya mengendikkan bahu seraya menggelengkan kepalanya.
Kemudian mereka berlima melanjutkan makannya sampai jam istirahat selesai.
"Alena tunggu,"
Javir mencegah Alena saat hendak meninggalkan kantin.
"Ada apa?" tanya Alena.
"Pulang sekolah ada waktu? Jika ada, bisakah kamu ikut denganku sebentar?" tanyanya dengan hati hati namun berharap Alena mau menerima ajakannya.
"Tidak, aku sibuk. Lagi pula aku akan pulang dengan Eron," jawabnya ketus.
"Hmm, baiklah kalau seperti itu aku tidak akan memaksa, tapi tolong terima ini," tangan Javir terulur memberikan sebuah paperbag pada Alena.
"Apa ini?" tanya Alena sebelum menerimanya.
"Macaron, aku harap kamu menyukainya," jawab Javir dengan senyuman lebar.
"Terimakasih," ucap Alena dengan menerima paperbag yang diberikan Javir.
"Ekhem, jika sudah apa boleh kita pergi sekarang," sahut Janu yang terlihat tidak suka.
"Silahkan, aku juga tidak menyuruhmu untuk menunggu," jawab Javir.
Janu mendengus kesal lalu menarik tangan Alena meninggalkan kantin diikuti oleh Haidar dan juga Mala, kini disana hanya menyisahkan Eron dan Javir sendiri yang saling melempar pandangan tidak suka.