I AM VAMPIRE

I AM VAMPIRE
CHAPTER 23



Javir memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa, dia berlari menuju ruang kerja ayahnya yang berada di lantai dua.


"Ayah," teriak Javir sesaat setelah membuka pintu dengan kasar.


"Ada apa Javir, kenapa kamu terlihat sangat panik?" Tanya Darian yang melihat putranya tiba-tiba memasuki ruang kerjanya tanpa mengetuk.


"Cepat keluar Ayah, dua penjaga gerbang kita tewas," jawab Javir dengan nafas yang masih memburu.


"Apa? Bagaimanaa bisa?" Darian terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.


"Aku juga tidak tau, saat aku ingin keluar dua penjaga gerbang itu sudah tergeletak tak bernyawa," jawab Javir.


Darian yang cemas melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru dan diikuti oleh Javir dibelakanya.


Didepan gerbang rumahnya sudah penuh dengan kerumunan orang yang hendak menyaksikan. Darian dan Javir menerobos kerumunan dan benar saja disana dua penjaga gerbang yang dia pekerjakan tewas dengan luka sayatan dileher mereka.


Darian mendekati salah satu mayat tersebut dan memeriksanya.


"Bagaimana bisa? Siapa orang yang dengan kejam melakukan ini?" gumamnya setelah melihat luka serius dibagian leher sang mayat.


"Cepat bereskan dan urus pemakaman mereka!" perintahnya pada beberapa pekerjanya.


"Baik Tuan"


Beberapa pekerjanya segera mematuhi perintah Darian dengan membawa kedua mayat pergi dari tempat kejadian


"Ayah, sepertinya aku tidak asing dengan luka yang ada pada leher penjaga itu," ucap Javir.


"Maksud kamu?"


"Luka yang ada dileher kedua penjaga itu sama dengan kasus penemuan mayat di dekat taman kota beberapa bulan yang lalu," jawab Javir.


Darian diam berfikir mengingat peristiwa yang dikatakan oleh anaknya.


"Kamu benar, ayah ingat bagaimana luka korban saat itu karena ayah melihatnya sendiri waktu itu," balasnya.


"Tapi bukan kah pelaku sudah dinyatakan meninggal karena bunuh diri?" celetuknya.


"Sepertinya ada yang aneh, kita harus menyelidikinya sendiri," sambung Darian.


Sedangkan disisi lain Alena tengah tersenyum puas di bawah pohon yang terletak tak jauh dari kediaman Darian.


...****************...


Malam ini Dion tengah berada dikediaman Tyson dan berkutat diruang kerja Tyson dengan laptopnya, bosnya itu memintanya untuk bermalam dirumahnya hanya untuk membantunya lembur. Ini pertama kalinya dia bermalam dirumah Tyson selama hidup 24 tahun bersamanya. Ada rasa takut dan cemas jikalau tiba-tiba Tyson memangsanya.


"Bos, jujur saja meskipun aku sudah dari kecil bersama mu tapi jika harus berada serumah denganmu aku merasa takut," akunya ditengah kegiatannya mengetik laptop.


"Wajar saja karena itu naluri manusia," balas Tyson dengan santai.


"Tapi, Bos benar tidak akan memangsaku, kan?" tanyanya memastikan.


"Jika itu aku, aku masih bisa menahannya, tapi jika itu Alena aku tidak yakin jika besoknya kamu masih bisa pulang," jawab Tyson membuat Dion merinding.


"Tyson,"


Dion terlonjak kaget saat tiba tiba mendengar suara Alena di belakangnya.


"Astaga, Nona sejak kapan kamu berada dibelakangku?" tanya Dion.


"Baru saja," jawabnya.


"Tapi aku tidak mendengar suara pintu terbuka," gumam Dion.


"Aku tidak perlu membuka pintu, Dion Nalendra. Apa kamu lupa siapa aku," sahut Alena.


"Sudah sudah kalian ini selalu seperti ini, hal kecil saja diributkan," potong Tyson mencegah mereka agar tidak semakin beradu argumen.


"Alena, Bagaimana misimu?" sambungnya bertanya.


"Selesai dengan sempurna, tapi ternyata mereka menyadari jika yang kulakukan pada kedua penjaga itu sama dengan kasus beberaoa bulan yang lalu," jawab Alena.


"Tidak masalah, biarkan mereka menyelidikinya karena aku yakin Darian pasti sudah mengetahui tentang vampir yang akan membalas dendam dengan keluarganya," balasnya.


"Benar, sepertinya mereka masih mencari keberadaanmu. Berhati-hati saja karena identitasmu bisa terbongkar kapan saja," sarannya dan Alena pun mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong, kenapa kelinci ini ada disini saat ini?" tanya Alena melirik Dion dengan sinis.


Dion yang mendengar pertanyaan Alena yang seakan meledeknya merasa tidak terima dan hendak membalas ucapannya namun ditahan oleh Tyson.


Tyson pun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya menghadapi dua makhluk didepannya.


"Aku yang menyuruhnya datang untuk membantuku. Jadi malam ini dia akan menginap disini," jawab Tyson.


"Benarkah, kalau begitu aku juga akan menginap disini" sahutnya antusias


"Tidak tidak tidak, sudah cukup aku akan tidur dengan adanya satu vampir dirumah ini, tolong jangan ada lagi," tolak Dion.


"Sebaiknya kamu pulang kerumahmu, jika kamu menginap disini itu akan berbahaya untuk Dion," sahut Tyson.


"Ck, baiklah aku pulang," ucap Alena dengan kesal kemudian menghilang begitu saja.


...****************...


Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas tidak ada yang spesial bagi Alena dihari ini, dia hanya menjalankan hari seperti biasa karena yang spesial baginya saat berhasil menyiksa musuhnya untuk membalaskan dendamnya.


Alena memilih berjalan kaki dengan santai menuju kesekolah, dia meninggalkan mobilnya di garasi dan mengabaikan ajakan Janu untuk berangkat bersama.


Langkahnya terus melaju mengabaikan hal disekitarnya sampai dia menyadari kehadiran Javi yang masih berada sekitar 10 meter darinya.


"Masih pagi kenapa harus menghirup aroma yang membuat ku mual" gumamnya pelan.


Benar saja, Javir tiba tiba menghentikan mobilnya tepat di sebelah Alena yang berjalan di trotoar.


"Alena, mau berangkat bersama" tawanya dengan gembira.


"Tidak terimakasih," jawab Alena ketus.


"Ayolah, sebentar lagi jam masuk kamu bisa terlambat" ucapnya.


Terlambat? Bahkan jika aku mau, aku bisa sampai lebih dulu darimu. Batinnya.


"Tidak usah, aku tidak akan terlambat," kekehnya menolak ajakan Javir.


Javir mendengus lalu keluar dari mobilnya dan menghampiri Alena. Dia menarik Alena secara paksa agar masuk kedalam mobil lalu Javir tanpa bicara lagi melanjukan mobilnya dengan cepat menuju sekolah.


Alena hanya mendengus kesal sembari menahan mual karena dia berada dalam satu mobil bersama Javir. Namun ternyata Alena merasakan aroma lain didalam mobil tersebut, ternyata dikursi penumpang belakang sudah ada Alan dan juga Yuda tengah tersenyum menatap Alena.


"Kamu memaksaku ikut, padahal dibelakang sudah ada temanmu," celetuknya kesal.


"Kenapa? Apa kamu keberatan jika ada mereka, aku bisa saja menurunkan mereka sekarang," ucap Javir membuat kedua temannya melotot tak percaya.


"Cinta tidak selamanya indah kakak, jangan karena cinta kamu tega menelantarkan temanmu ini," sahut Yuda tak terima.


Javir hanya terkekeh melihat kekesalan kedua temannya itu.


"Jika untuk pujaan hati semua akan aku lakukan termasuk menurunkan kalian," balasnya dengan menepikan kembali mobilnya.


"Cepat turun!" pintanya.


"Jika tau seperti ini, aku harusnya tidak memintamu menjemputku," sambung Alan.


"Nah itu tau, lagipula punya mobil untuk apa jika masih menumpang terus di mobil orang," jawab Javir.


Belum sempat kedua laki-laki itu turun, Alena sudah lebih dulu turun dari mobil dan berlari meninggalkan mereka.


"Eh, yaaaah kabur," ucap Yuda dengan nada mengejek.


Sesaat kemudian tawa Alan dan Yuda terdengar menggema didalam mobil.


"Itu lah akibatnya rela menelantarkan teman demi pujaan hati. Ditinggal kan jadinya," sambung Alan dengan tawa yang masih terdengar puas meledek Javir.


"Sialan kalian," umpatnya pada kedua temannya.