I AM VAMPIRE

I AM VAMPIRE
CHAPTER 24



Jam istirahat kali ini Alena dan teman temannya memilih untuk tetap berada di kelas menyelesaikan game di ponsel mereka masing masing dan mengabaikan perut mereka yang kelaparan.


"Kalian sama sekali tidak lapar?" tanya Nathan yang baru saja bergabung dengan mereka setelah membeli makanan dikantin.


"Lapar, tapi ini game nya lagi seru," jawab Haidar yang terus terfokus pada ponselnya.


"Jangan mengabaikan makan siang nanti kalian sakit," serunya.


"Tenang saja, aku membawa roti itu cukup untuk kita berempat nanti," jawab Mala.


"Ya sudah kalau begitu aku belikan makanan lagi untuk kalian," celetuknya dan bergegas pergi.


"Tunggu Nathan," cegah Alena.


"Ini, pakai uangku saja," ucapnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang.


"Baiklah, kalian tunggu disini." Nathan berjalan pergi setelah menerima uang dari Alena.


Alena kembali memainkan ponselnya, namun beberapa saat kemudian indra penciumannya menghirup aroma yang tidak asing.


Dia melihat sekitarnya guna mencari keberadaan sang pemilik aroma tersebut namun tidak menemukannya.


Aku lupa, Eron kan memang selalu mengikutiku. Batinnya.


Tangannya terulur pada ponsel yang sempat dia letakkan, dan kembali memulai game yang sempat tertunda.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat seisi kelas menoleh kearahnya. Disana terdapat sosok laki-laki tinggi berkulit tan dengan senyuman manis yang terlihat asing bagi mereka semua.


"Permisi, Alena ada?" tanya nya.


Janu mendengar nama Alena disebut lantas beralih menatap sang pria yang masih berada didepan pintu. Dirinya terkejut dan kemudian menyenggol lengan Alena untuk memberitahunya.


"Kenapa Janu?" tanya Alena yang masih fokus pada ponselnya.


"Lihat dulu siapa yang mencarimu," pintanya.


Alena menurut lalu melihat kearah pintu dan terkejut melihat Eron yang tersenyum senang berdiri didepan pintu kelasnya. Bukan, bukan karena keberadaan Eron lebih tepatnya karena Eron juga memakai seragam yang sama dengannya.


"Eron," pekik Alena.


Eron tertawa dan langsung melangkahkan kakinya menghampiri Alena.


"Kenapa? Kaget ya?" tanyanya.


"Kamu … Murid baru?" balas Alena bertanya dan Eron pun mengangguk.


"Kenapa kamu tidak memberitahu?" protesnya.


"Sengaja, aku juga yang menyuruh Tyson untuk menyembunyikannya darimu," jawabnya santai.


"Alena, dia siapa?" tanya Haidar penasaran.


Alena melirik Janu karena kebingungan dengan jawaban apa yang harus dia berikan. Sedangkan Janu hanya mengendikan bahunya acuh.


"Dia sepupu ku," jawab Alena.


Janu dan Eron hanya tertawa geli mendengar jawaban Alena.


"Kamu tidak mau mengenalkanku pada temanmu, Alena?" tanya Eron.


"Tidak perlu," jawabnya kesal.


"Cih, ya sudah. Hai aku Eron, kakak sepupu Alena," ucapnya pada Mala dan Haidar dengan menegaskan kata sepupu.


"Aku Mala,"


"Haidar,"


Mereka membalas uluran tangan Eron.


"Janu, kamu tidak berkenalan dengan Eron?" tanya Mala.


"Aku sudah mengenalnya," jawabnya.


"Benarkah?" tanya Mala tak percaya.


"Iya, kita sudah beberapa kali bertemu," jawab eron.


Eron pun ikut bergabung dengan Alena dan teman temannya, kini mereka berempat berheni bermain game dan lebih memilih untuk berbincang dengan Eron.


Nathan yang datang ditengah perbincangan mereka dengan membawa beberapa bungkus makanan terkejut melihat kehadiran Eron disana.


Mendengar pertanyaan Nathan membuat Alena menatap Eron penuh tanya.


"Iya, dan kamu yang melerai," jawab Eron.


"Kamu berantem sama Javir, kenapa?" tanya Alena.


"Bukan apa apa, hanya sebagai salam perkenalan," jawabnya tersenyum canggung.


"Eron jangan bohong, kamu lupa aku bisa apa," desaknya.


"Ck, Aku tadi tidak sengaja menyenggol makananya, lagi pula impas tadi dia dikelas juga menjatuhkan ponselku" jawabnya.


"Kamu satu kelas dengan Javir?" tanya Janu.


"Iya, sial kan aku," jawabnya kesal.


Alena menghela nafasnya dan menggelengkan kepala.


"Sekarang pergi!," ucap Alena yang terdengar mengusir Eron


"Tidak, aku masih mau disini," tolak Eron.


"Sebentar lagi jam pelajaran dimulai, Eron. Kembali ke kelasmu atau aku mengusirmu dengan cara lain," geram Alena.


"Baiklah baiklah aku pergi, kamu jangan marah itu terlihat menyeramkan," ucapnya dan berlalu pergi dari kelas Alena.


"Ternyata sepupumu itu sangan tampan, Alena," ucap Mala sesaat setelah kepergian Eron.


"Cih, mata buaya betinanya mulai aktif," sindir Haidar yang kembali mengaktifkan ponselnya.


Mala mendengus lalu mengambil makanan yang masih berada di tangan Nathan.


...***...


"Bagaimana Alan, apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Matteo pada putranya yang baru saja memasuki ruang kerjanya.


"Tidak Ayah, aku tidak mendapatkan hal yang mencurigakan di perusahaan Alenxia. Sepertinya kecurigaan kita salah," jawab Alan yang menarik kursi didepan meja kerja sang ayah.


"Hmm, tapi ayah yakin jika ada yang tidak beres dengan Alenxia, perusahaan itu terlihat sangat menggampangkan segala urusan bisnisnya bahkan dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan perusahaan lain pasti ada sesuatu yang membuatnya seberani ini dan tidak takut akan kebangkrutan," jelas Matteo.


"Tapi bukankah sekarang perusahaan paman Darian dan Elgar bekerja sama dengan Alenxia?" tanya Alan.


"Lebih tepatnya mereka yang butuh Alenxia, bukan Alenxia yang butuh mereka. Alenxia hanya membantu bukan mencari bantuan," jawabnya.


Alan pun mengangguk paham dengan perkataan sang ayah.


"Alan, sebaiknya kamu coba dekati Alena untuk mencari tahu lebih jelasnya, Ayah tidak mau jika perusahaan Ayah juga akan jatuh ketangan Alenxia," pinta sang ayah pada putranya.


"Tidak, Alan tidak mau. Javir menyukai Alena, Ayah. Alan tidak akan merebutnya dari Javir," tolaknya dengan tegas.


"Kamu ini sama dengan ibu dan adikmu selalu merasa tidak enakan. Dengar, kita memang masih ada hubungan keluarga dengan Darian, tapi dalam urusan bisnis tidak ada yang namanya hubungan keluarga, bahkan menghancurkan mereka itu terkadang perlu dilakukan untuk keberlangsungan perusahaan kita," ucapnya dengan tawa yang menggelegar.


Alan menatap tak percaya pada sang ayah, dia baru mengetahui sisi ayahnya yang tamak dan arogan. Selama ini yang dia tahu sang ayah adalah pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang terhadap anaknya. Namun siapa sangka dalam hal bisnis justru sifat ayahnya berbanding terbalik dengan yang dia lihat selama ini.


...***...


Dion berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan Tyson dengan membawa beberapa dokumen, dengan segera dia masuk keruangan Tyson tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Tyson terheran dengan sikap Dion yang tidak seperti biasanya.


"Ada apa denganmu, Dion?" tanya Tyson.


Dion masih berusaha menetralkan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari bosnya.


"Bos, saya mendapat informasi mengenai keturunan Oskar, ternyata selama ini dia berada didekat nona Alena," jelasnya dengan memberikan map yang berada ditangannya kepada Tyson.


Tyson membuka satu persatu dokumen yang Dion berikan, matanya fokus meneliti setiap huruf dan kata didalamnya, dahinya mengernyit saat mendapati salah satu foto yang tidak asing baginya.


"Dia … Teman sekolah Alena," gumamnya.


"Benar, bahkan dia sangat dekat dengan Janu," sahut Dion.


"Tetapi sepertinya Javir dan Alan juga tidak mengetahui tentang dia yang masih memiliki hubungan keluarga dengan mereka," sambungnya.


"Bagaimana bisa?" heran Tyson.


"Sepertinya Oskar benar benar menutup rapat identitas keluarga mereka, bahkan perusahaan mereka sama sekali tidak berhubungan dengan perusahaan Darian maupun Matteo. Menurut informasi orang tua anak itu kini berada diluar negeri dan dia hanya tinggal sendiri dinegara ini " jelas Dion.


"Meninggalkan anaknya sendirian, sepertinya memang benar jika mereka masih berhubungan dengan penyihir itu, tidak mungkin orang tua akan tega meninggalkan anaknya sendirian jika tidak memiliki perlindungan yang kuat," ucap Tyson dengan mengeluarkan senyum smirknya.


"Alena harus segera mengetahui hal ini, jika semakin lama akan semakin berbahaya karena aku yakin anak itu pasti sudah mengetahui siapa Alena sebenarnya," ucap Tyson.