
"Ada apa kamu menyuruhku kesini?" tanya Eron pada Tyson yang tengah menatap layar TV di ruang tengah rumahnya.
"Bagaimana sekolahmu?" balas Tyson bertanya dengan mematikan siaran TV nya.
Eron menghela nafas lalu duduk disamping Tyson.
"Membosankan, apalagi aku harus satu kelas dengan Javir," jawabnya kesal.
Tyson terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya aku menyuruhmu kesini karena ingin memberitahumu sesuatu," ucap Tyson.
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
Tyson mengambil map yang sedari tadi dia letakkan di atas meja dan memberikannya pada Eron.
Tangan Eron terulur mengambil map coklat yang disodorkan Tyson. Karena bingung dan penasaran Eron akhirnya membuka map tersebut dan membacanya dengan teliti. Keningnya mengernyit tatkala mendapati foto seseorang yang nampak tak asing baginya. Pandangannya beralih menatap Tyson yang sekarang tengah menganggukkan kepala kepadanya.
"Kamu mengenalnya, kan?" tanya Tyson.
"Iya, aku tidak menduga jika dia keturunan Oskar karena dari tampangnya sangat tidak meyakinkan dan terlihat jelas perbedaannya dengan Javir dan juga Alan. Dia cenderung terlihat seperti orang bodoh dan polos," jawab Eron.
"Jangan melihatnya dari luarnya saja, kamu lupa keluarganya lah yang paling dekat dengan penyihir itu," balas Tyson.
"Ah iya, benar"
Ponsel Tyson yang berada dimeja tiba tiba berbunyi dan terlihat bahwa Dion lah yang tengah menelfonnya.
Tyson mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu, dia mendengar suara Dion yang nampak panik dan bingung ketika berbicara di balik ponsel.
Mata Tyson membulat sempurna saat mengetahui apa yang tengah Dion jelaskan dari sana, segera dia mematikan ponselnya lalu bergegas mengenakan kembali jas yang dia sampirkan dilengan sofa.
"Tolong beritahu Alena tentang hal ini, aku ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan," ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Eron yang masih kebingungan menatapnya.
Tyson tiba di Lobi kantornya, disana sudah ada Dion dan beberapa pekerja lainnya yang nampak kacau.
"Bagaimana bisa mereka mengetahui hal ini, bukan kah semua penjaga itu sudah kita lenyapkan?" tanya dengan emosi yang meledak.
"Maaf, Bos. Kita tidak mengetahui kalau ternyata mereka memasang CCTV tersembunyi di beberapa titik yang mengakibatkan rencana penggalian itu gagal dan beberapa pekerja kita tertangkap oleh anak buah Darian," jawab Dion dengan nada bergetar ketakutan.
"Sial. Rencana ku akan gagal jika Darian mengetahui semuanya," geramnya kesal.
"Tapi Bos, sejauh ini Darian tidak tau jika kita yang menyuruh mereka kegudang itu, Darian mengira mereka hanya mengincar emas itu," jelas Dion.
"Sementara ini kita aman, tapi aku tidak akan membiarkan para pekerja itu membuka mulut," celetuknya lalu pergi dengan amarah yang masih membara.
Dion dan beberapa pekerja lainnya menghela nafas lega saat sang atasan melangkah keluar dari kantor. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka melihat seorang Tyson marah dan itu terlihat menyeramkan bahkan atmosfer sekitar terasa sangat memcekam dan membuat bulu kuduk merinding. Apalagi bagi seorang Dion Nalendra yang telah mengetahui identitas asli Bos nya yang tak lain adalah seorang vampir membuat keringat dingin terus mengalir karena takut jika Tyson akan kehilangan kendali.
...***...
"Disini tempatnya?" tanya Alena pada Tyson yang berada disampingnya.
"Sebenarnya aku tidak yakin, tapi aku mencium aroma mereka didalam sana," jawab Tyson.
Mereka berdua kini berada dibawah pohon besar mengenakan jubah hitam lengkap dengan tudung yang terpasang di kepala mereka tengah mengawasi sebuah bangunan rumah yang terlihat sepi namun ada beberapa orang yang terlihat sedang berjaga di pintu gerbang.
Tyson memperhatikan sekitar rumah itu dengan seksama.
"Terlihat aman," gumamnya.
"Bagaimana kamu tau?" tanya Tyson heran.
Alena tidak menjawabnya justru dia menatap kakaknya tajam dengan mata birunya.
"Ah iya, aku lupa. Kekuatan mu sebagai keturunan Vampir gen suci telah sempurna, pantas saja penglihatanmu sangat bagus," sambungnya.
"Kamu tunggu saja disini, dalam sepuluh menit aku akan kembali dan menyelesaikan semuanya," ucap Alena yang di angguki oleh Tyson.
Alena maju dua langkah didepan Tyson lalu mengarahkan tangannya kebeberapa titik guna merusak CCTV menggunakan kekuatannya.
Setelah memastikan semua CCTV telah dirusaknya, Alena segera melesat cepat memasuki rumah itu dengan melewati beberapa penjaga gerbang dengan mudah.
"Sihir payah, yang seperti ini tidak akan membuatku takut," ucapnya lalu berlari dan sesekali melompat guna melewati beberapa jebakan sihir yang berada di halaman depan.
Setelah berhasil melewatinya Alena dengan mudah dapat masuk kedalam rumah itu, namun anehnya didalam rumah itu terlihat sangat sunyi.
Alena mengendus untuk memastikan dimana aroma para pekerja itu, Alena mengikuti arah aroma itu berasal dan berakhir di sebuah ruangan bawah tanah.
"Tidak heran jika terlihat sunyi karena mereka semua ada didalam sana," gumam Alena saat berada tepat didepan pintu ruang bawah tanah.
Saat Alena akan membuka pintu itu terdengar suara dari dalam, segera dia bersembunyi dibalik tembok yang tak jauh dari sana.
"Sial, mereka masih tidak mau mengaku. Sepertinya ayah akan memarahiku kali ini," ucap seorang pria berbadan tinggi yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan milik Alena, namun di seragamnya terdapat banyak bercak darah yang terlihat masih segar
Javir. Gumamnya dalam hati.
Alena menatap Javir dengan tajam, menghirup aroma darah segar yang berada di baju seragam Javir membuatnya mengeluarkan taringnya ditambah aroma darah Javir terlihat menggoda bagi Vampir Alena.
Sial, tahan Alena. Tugasmu disini untuk menyelesaikan urusan dengan para pekerja itu. Batinnya menguatkan dirinya sendiri.
Akhirnya Javir pergi dari sana dan disusul beberapa orang dibelakangnya.
Alena mulai kembali melangkah kearah pintu itu dan membukanya, setelah berhasil masuk dan memastikan tidak ada yang melihatnya, Alena segera menghampiri beberapa pekerja itu. Dilihatnya mereka semua terikat disebuah kursi dengan luka di sekujur tubuh mereka.
Alena berusaha menahan naluri Vampirnya ketika melihat darah segar mengalir di beberapa luka para pekerja itu.
"Nona," ucap salah satu pekerja yang menyadari kehadiran Alena.
"Maaf tapi aku disini bukan untuk menyelamatkan kalian, terimakasih karena telah setia pada kakak ku," ucapnya yang membuat para pekerja itu melotot tak percaya.
Belum sempat mereka mengeluarkan kata Alena sudah lebih dulu mencekik leher mereka dengan kekuatannya.
"Aku tidak mau membuang waktu karena darah kalian sangat menguji kesadaranku," kara Alena.
Mata biru Alena menyala terang, dia ingin segera menyelesaikan tugasnya sebelum rasa hausnya semakin besar.
Tidak membutuhkan waktu lama para pekerja itu semua tewas ditangannya, Alena tersenyum senang lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah dan kembali pada Tyson.
Tyson masih menunggu dengan dengan tenang dibawah pohon, kini disebelahnya sudah ada Eron dengan membawa dua kantung darah ditangannya.
Sebelumnya Tyson sudah mencium aroma darah sehingga dia segera menyuruh Eron untuk datang dengan membawa kantung darah, karena Tyson tidak mengizinkan Alena untuk menghisap darah selama misinya kali ini.
Beberapa menit kemudian Alena tiba dengan nafas memburu, Eron segera memberikan kantung darah itu oada Alena untuk diminumnya.
"Bagaimana?" tanya Tyson setelah Alena menghabiskan dua kantung darah sekaligus.
"Misi sukses, mereka semua mati" jawab Alena puas.