
Langkah kaki Alena memasuki sebuah rumah sakit tempat Janu dirawat, ada sedikit keraguan dalam dirinya mengingat tempat ini bisa kapan saja membuat naluri vampirnya bergejolak. Dengan harapan agar dia tidak melihat atau mencium darah dia meyakinkah langkahnya menuju keruang rawat Janu.
Langkahnya berhenti tepat di depan ruang VIP, perlahan tangan Alena terulur membuka pintu ruangan dan terlihatlah Janu yang tengah tertidur diatas brangkar rumah sakit.
Dengan pelan Alena kembali menutup pintu dan bergerak secepat kilat menghampiri Janu yang masih menutup matanya.
Alena terdiam memandangi manusia pucat didepannya saat ini, terdapat perasaan aneh dalam dirinya saat melihat Janu tak berdaya diatas tempat tidur dengan selang infus menancap ditangan kirinya.
"Berhenti melihat ku seperti itu, Alena."
Alena terkejut mendengar suara Janu, dilihatnya Janu masih memejamkan mata namun sedetik kemudian laki-laki itu mulai membuka matanya dan tersenyum kearah Alena.
"Apa kamu mengkhawatirkan ku, Nona Vampir?" tanyanya dengan sengaja menggoda Alena.
"Tidak," jawabnya singkat dengan memalingkan wajahnya.
"Benarkah?" Janu bertanya lagi untuk memastikan.
Alena diam tidak menjawab dan tetap mengalihkan pandangannya.
"Ya baiklah, aku percaya" ucapnya dengan merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila.
Alena berjalan menyusuri ruangan dan berhenti di sofa yang terletak tepat di depan brankar.
"Apa kamu menyesal sekarang?" tanya Alena.
"Menyesal? Karena apa?" balas Janu bertanya.
"Menyesal karena memaksa ingin melihat Willona dan membuatmu tidak makan satu minggu," jawab Alena.
"Tidak ada penyesalan sama sekali, karena aku tau aku akan menyaksikan hal seperti itu lagi nantinya," tutur Janu yang membuat Alena tertegun.
"Sepertinya kamu memang sudah mempersiapkan dirimu untuk melihat kegilaan yang akan ku lakukan nantinya, Jamuar," ucap Alena di sertai tawa kecil yang terlihat menakutkan dimata Janu.
"Kalau begitu beristirahatlah, kamu membutuhkan banyak tenaga untuk itu," sambungnya berjalan mendekati pintu dan hendak membukanya, namun belum sempat dia memegang gagang pintu, pintu tersebut sudah tebuka dari luar.
Mala dan Haidar terkejut saat melihat Alena yang tengah berdiri didepan pintu.
"Alena, kamu juga disini?" tanya Haidar dan Alena mengangguk menanggapinya.
"Seharusnya tadi kamu bilang sama aku kalau mau kesini,jadi kita bisa berangkat bersama," sambung Mala.
"Maaf aku tidak terfikirkan seperti itu," jawab Alena.
"Apa kalian hanya akan berdiri disana dan tidak masuk?" sahut Janu yang melihat ketiga temannya hanya berdiri didepan pintu.
"Tetaplah disini Alena, ayo!" ucap Mala sembari menarik tangan Alena untuk kembaki menghampiri Janu.
"Ternyata seorang Janu bisa sakit juga, ya?" ledek Haidar ketika tiba tepat disamping Janu.
"Aku juga manusia Haidar, bukan batu" jawabnya kesal.
"Kata paman Elgar kamu tidak makan satu minggu, kenapa?" tanya Mala.
Janu tidak langsung menjawabnya matanya melirik kearah Alena yang terlihat santai dengan tangan yang bersendekap di depan dada.
"Itu … Karena … lidahku mati rasa jadi aku tidak ingin makan apapun," bohongnya pada Mala dan Haidar.
"Benarkah? Lalu apa sekarang sudah baikan?" tanya Mala yang terlihat sangat khawatir.
"Sudah tenang saja aku bahkan sudah makan tadi," jawab Janu.
Mala menggela nafas lega mendengarnya sama hal nya dengan Haidar.
Alena yang masih terdiam tiba-tiba merasakan aroma Javir disekitarnya, segera dia menutup mulut dan hidungnya dan menahan mual.
Janu menyadari pergerakan Alena sehingga dia perlahan merasa khawatir. "Alena," panggilnya.
"Dia datang," gumamnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Javir yang masih berdiri disana.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Janu melirik kearah Alena kemudian mengangguk sebagai jawabannya.
"Masuklah," ucap Haidar.
Javir tersenyum dan menutup pintunya lalu berjalan kearah mereka, Alena dan mala bergeser ke sisi lain untuk memberi tempat pada Javir.
"Darimana kamu tau aku disini?" tanya Janu ketus.
"Dari paman. Kemarin paman, Alena dan kakaknya kerumah Alan kebetulan aku masih disana dan aku tidak melihatmu jadi aku bertanya ternyata kamu ada dirumah sakit," jawabnya.
Janu menoleh kearah Alena. "Kamu ikut kerumah Alan?" tanya Janu.
"Hmm," jawabnya dengan menganggukkan kepala.
Janu menghela nafas kemudian beralih pada Javir. "Terimakasih sudah menjengukku," ucapnya.
"Sama-sama," balas Javir.
"Aku keluar sebentar," sahut Alena yang merasa sudah tidak tahan dengan aroma Javir, dia segera melangkah pergi dari sana.
Saat pintu telah dibukanya dan kakinya sudah dua langkah keluar dari ruangan dia melihat seseorang yang terpeleset jatuh dan kepalanya terbetur kursi tunggu disebelahnya. Darah mengalir deras dari dahinya dan Alena menyaksikan itu, tanpa berpikir lagi dia kembali masuk keruang rawat Janu dan menutup pintu dengan keras. Keempat manusia didalam ruangan itupun terkejut dengan tindakan Alena yang tiba-tiba.
"Alena, ada apa?" tanya Mala bingung.
Alena tidak menjawab karena sibuk menahan diri, dan mencoba menutupi wajahnya karena mata birunya sedang aktif. Pilihan untuk kembali masuk keruangan Janu adalah pilihan yang salah karena didalam ruangan itu ada Javir dimana itu bisa membuat Alena semakin tidak bisa memgontrol diri.
"Alena," panggil Janu.
Melihat tidak ada respon dari Alena, Janu mulai curiga dan bergerak turun dari brankar untuk mengahampirinya. Javir yang melihat Janu pun ingin ikut memastikan keadaan Alena namun Janu melarangnya.
"Alena, kamu kenapa?" tanya Janu pelan saat dia sudah berada didepan Alena.
Masih tidak ada respon dari Alena, Janu memberanikan diri menyingkap rambut Alena yang menutupi wajahnya. Dia terkejut saat mendapati mata biru Alena telah aktif dan terlihat Alena sedang menahan taringnya agar tidak keluar.
Janu segera menarik Alena agar masuk kedalam kamar mandi yang ada diruangan dan menutupnya dengan cepat, matanya menelisik kesegala dan menemukan keberadaan tas Alena. Dengan cepat Janu menggeledah isi tas Alena guna mencari persediaan darah disana, Janu tahu karena selain disekolah Alena biasa membawa persediaan darah untuk berjaga-jaga.
Aksi Janu tersebut semakin membuat bingung ketiga temannya, mereka tidak tau apa yang terjadi dan tidak tau harus melakukan apa.
Setelah mendapati ada dua bungkus darah didalam tas Alena, Janu segera memberikan tas itu pada pemiliknya yang berada dikamar mandi.
Janu sedikit bernafas lega setelah akhirnya Alena bisa mendapatkan darah dan tidak ketahuan oleh ketiga temannya yang kini masih menatapnya bingung.
Janu melirik keadaan diluar ruangannya yang terdapat beberapa orang yang membantu pria yang terjatuh tadi.
"Hah, pantas saja dia berubah," gumamnya pelan.
"Janu, sebenarnya ada apa dengan Alena?" tanya Mala mewakili rasa penasaran Haidar dan juga Javir.
Janu kebingungan atas jawaban apa yang harus dia berikan.
"Ee itu … Dia sedang sakit perut karena tamu bulanan, tadi aku mengambilkan roti bulanan yang ada ditasnya," jawab Janu gugup, sesaat kemudian Alena keluar dari kamar mandi yang membuat Janu merasa lega.
"Alena kamu baik-baik saja," tanya Haidar.
"Iya, sepertinya perutku sedikit sakit, aku izin pulang dulu ya," pamitnya pada mereka.
"Iya, hati-hati ya Alena," balas Mala.
"Apa perlu aku antar," sahut Javir.
"Tidak perlu," Jawabnya cepat.
Alena melirik kearah Janu yang masih berdiri didepan pintu.
"Apa mereka masih disana?" tanyanya berbisik.
Janu melihat kondisi luar ruangan dengan mengintip dari kaca kecil yang ada pada pintu.
"Tidak, kamu bisa pulang sekarang," jawabnya kemudian membukakan pintu untuk Alena.
"Terimakasih," ucap Alena yang mendapat anggukan dari Janu.