I AM VAMPIRE

I AM VAMPIRE
CHAPTER 6



Tangan Tyson yang terus menarik Alena entah kemana akhirnya berhenti dibawah pohon besar yang terletah sangat jauh dari tempat tinggal mereka. Tyson memperhatikan Alena yang masih tidak bisa menghentikan tangisannya.


“Berhentilah menangis Alena,” ucap Tyson.


Tangannya bergerak menghapus air mata yang mengalir di pipi Alena.


“Mereka siapa? Kenapa mereka membunuh ayah dan ibuku Tyson?” tanya Alena dengan terus menangis.


“Bahkan bibi Lina juga tertangkap oleh mereka,” sambungnya.


“Mereka manusia serakah, mereka menginginkan gingseng emas yang ada pada ayahmu dan mereka juga yang membuat Jasvir menghianati kita, Alena” jelas Tyson.


Tangis Alena mereda digantikan oleh amarah yang membara terpancar di matanya.


“Aku harus kembali, aku akan membunuh para manusia kejam itu” kata Alena lalu beranjak dari duduknya.


“Jangan Alena, jika kamu kembali kamu juga akan mati” cegah Tyson.


“Tapi mereka tidak bisa dibiarkan hidup, Tyson” sahutnya dengan amarah.


“Alena, aku mohon dengarkan aku, jangan kembali mereka punya panah api perak aku tidak bisa jika harus kehilanganmu juga, ayah dan ibu juga pasti ingin jika kamu tetap hidup” jelas Tyson yang terus memohon pada Alena.


“Kekuatanmu baru keluar sepuluh persen jika kamu membalas mereka sekarang kamu akan mati, tunggu tiga ratus tahun lagi dimana kekuatanmu sebagai generasi vampir gen suci telah sempurna kamu bisa membalaskan dendammu pada mereka semua” sambungnya.


“Jadi maksudmu aku harus menunggu dan memendam dendam ini selama tiga ratus tahun. Tidak Tyson itu terlalu lama” tolaknya.


“Pikirkan baik baik, jika kamu mati sekarang dan mereka masih hidup itu akan sia sia” Jelas Tyson.


Alena terdiam dia kembali mendudukkan dirinya di bawah pohon, pikirannya kacau saat ini hatinya sedih dan sakit setelah mendapat kabar buruk tentang kekasihnya Jasvir yang dibunuh ayahnya kini dia harus menyaksikan pembantaian orang tuanya yang dilakukan oleh manusia.


Setelah menahan semua kini amarahnya meledak, Alena berlari cepat dan meninggalkan Tyson, dia berlari tanpa arah hingga dia bertemu dengan wanita hamil yang sedang duduk di depan tenda dengan senyum merekah dibibirnya.


Alena berjalan mendekati wanita itu tanpa suara hingga dia kini berada tepat didepannya, mata biru dan taringnya keluar, kemarahannya terhadap manusia membuatnya membenci wanita didepannya saat ini.


Wanita hamil yang terkejut dengan kehadiran Alena merasa ketakutan dan berusaha berteriak, namun tangan Alena lebih dulu mencekik lehernya.


“Manusia, kalian jahat kalian serakah karena kalian aku kehilangan keluargaku, kalian tidak pantas hidup” Marahnya.


Karena kemarahannya yang tidak terkontrol Alena lantas mengigit leher wanita itu dan menghisap darahnya.


Tyson yang melihat itu dari kejauhan berusaha menghentikannya namun terlambat kini tubuh wanita hamil itu sudah tergeletak ditanah tanpa nyawa.


“Alena apa yang kamu lakukan, kamu membunuh mereka yang tidak bersalah, apa kamu gila,” bentak Tyson.


“Istriku,” teriak pria yang baru saja datang dengan membawa beberapa kayu di tangannya. Dia melempar kayu itu dan berlari kearah wanita hamil yang ternyata adalah istrinya. Melihat kondisi istrinya yang tergeletak tak bernyawa pria itu pun menangis. Dia baru menyadari adanya Tyson dan Alena disana.


“Va-vampir” ucapnya terkejut.


“Kamu yang membunuhnya? Kamu yang membunuh istriku?” teriaknya.


“iya, aku yang membunuhnya. Kalian manusia serakah karena kalian aku kehilangan keluarga ku,” jawab Alena.


“Lalu apa aku tidak kehilangan keluarga ku? Karena ulahmu aku kehilangan istri dan calon anak ku,” balasnya.


“Kamu marah karena kamu kehilangan keluargamu karena manusia? Tapi kamu membalaskan dendammu pada kami yang tidak bersalah apa itu adil?” geramnya.


“Ingat ini. Darah istri dan calon anak ku yang kamu minum kelak akan terlahir dan mengalir dalam keturunan manusia yang membunuh keluargamu, jika kamu ingin membalas dendam kamu tidak akan bisa membunuhnya dengan apapun kecuali kamu menghisap darahnya lalu kamu juga akan mati bersamaan dengannya karena darah itu adalah mautmu. Meskipun kamu tidak membunuhnya namun darah itu akan tetap membunuhmu secara perlahan dengan aroma busuk yang hanya bisa tercium olehmu,” murka sang pria.


Pria itu kemudian berdiri dengan menggendong tubuh istrinya lalu pergi meninggalkan Tyson dan Alena yang masih diam membeku.


Alena kemudian melihat tangannya yang kini terdapat tanda hitam melingkar dijari tengahnya itu artinya dia telah mendapatkan kutukan.


Tyson mengikuti arah pandang Alena, perasaannya ikut hancur saat melihat tanda itu dijari Alena.


“Alena mulai sekarang hilangkan rasa dendam mu, jangan pernah mencari keturunan manusia itu lagi” sarannya.


“Tidak, kutukan ini tidak akan pernah menghentikanku balas dendam” jawabnya.


“Apa kamu tidak mendengarnya, meski kamu tidak membunuhnya tapi jika kamu bertemu dengannya kamu akan tetap mati secara perlahan” sambung Tyson.


“Itu berarti lebih baik membunuh mereka meskipun aku harus mati, dari pada membiarkan mereka tetap hidup tapi aku yang harus mati dengan sia sia,” balasnya.


Tyson kehabisan kata kata untuk membujuk Alena, akhirnya dia hanya diam dan mengikuti keinginan Alena.


“Baiklah aku akan membantumu,” ucapnya.


...***...


Dion melambaikan tangannya di depan wajah Tyson yang sedang termenung.


“Bos … Bos … Bos anda melamun” tegurnya.


Melihat masih tak ada respon Dion pun menghela nafas lalu memanggilnya dengan keras.


“Tyson Wistara” teriak Dion.


“Berani sekali kamu memanggil saya seperti itu” tegur Tyson.


“Maaf, Bos. Dari tadi saya sudah memanggil dengan sopan tetapi anda tidak merespon” jawab Dion.


“Benar kata Alena, kamu terlihat seperti kelinci yang siap dimangsa,” ledek Tyson.


“Bos tega” sahutnya kesal.


Melihat ekspresi Dion yang terlihat kesal Tyson justru tertawa karena menurutnya sangan menyenangkan jika menjahili Dion.


“Kenapa kamu kesini?” tanya Tyson setelah menghentikan tawanya.


“Tadi Bos sendiri yang meminta saya kesini” jawab Dion yang lagi lagi dibuat kesal.


“Benarkah?” tanya Tyson.


“Sepertinya Bos terlalu banyak melamun sampai lupa. Ada yang sedang dipikirkan, Bos?” tanya Dion.


“Tidak, aku hanya kembali teringat saat Alena mendapatkan kutukan itu. Di situ perasaan saya benar benar hancur, setelah kehilangan ayah dan ibu saya harus menyaksikan Alena mendapat kutukan,” jelas Tyson.


“Bos menyukai nona Alena?” tanya Dion.


“Saya kakaknya, Dion. Meskipun saya hanya anak angkat tapi saya bersama Alena sejak dia lahir itu yang membuat saya benar benar menganggapnya sebagai adik,” jawab Tyson.


Dion mengangguk menanggapi jawaban Tyson.


Ponsel Dion yang berada disaku jas nya tiba tiba bergetar, lalu dengan segera dia mengambil dan membukanya.


Mata Dion melebar saat membaca isi pesan itu, isi pesan yang menurutnya sangat penting dan mengejutkan.


“Bos, saya ada informasi penting” ucap Dion lalu memberikan ponselnya pada Tyson.


“Perusahaan yang baru bekerja sama dengan anda ternyata pemilihnya adalah ayah Javir target nona Alena” jelas Dion.


Tyson terkejut, dia terus memandangi ponsel Dion yang berada di tangannya.


“Itu artinya kita bekerja sama dengan musuh” balas Tyson.


“Mulai sekarang berhati hati dengan perusahaan itu, bisa saja mereka tahu identitas Alenxia grub yang sebenarnya,” sambungnya.


“Baik, Bos” jawab Dion.


...***...


Suasana kelas yang kondusif meskipun tidak ada jam pelajaran sangat di manfaatkan Alena untuk membaca buku. Walaupun isi buku yang dibacanya saat ini sudah pernah dia baca namun itu sama sekali tidak membuatnya bosan.


Suasana yang tenang itu tak berlangsung lama sejak kedatangan Mala yang tergesa gesa dengan membawa kertas koran di tangannya.


“Lihat, ada penemuan beberapa mayat di dekat taman kota,” kata Mala dengan menunjukkan lembaran koran itu pada Janu dan Haidar.


“Menurut polisi ini kasus pembunuhan dan kejadiannya satu bulan yang lalu” sambungnya.


“Kejadian Satu bulan yang lalu tapi mayatnya baru ditemukan kemaren?” tanya Janu.


“Itu karena lokasi mayat itu berada di dalam gang sepi yang jarang orang lewati, dan juga daerah itu banyak bangunan kosong jadi semakin minim orang yang lewat,” jawab Mala.


Saat mereka bertiga tengah fokus pada berita yang berada di koran tanpa mereka sadari ada Alena yang diam diam tersenyum puas.


Mayat yang ditemukan adalah korban Alena yang dibunuhnya saat baru memasuki kota. Kemarin Alena sengaja memancing seseorang untuk melewati jalan itu agar menemukan mayat mayat itu. Karena sebelumnya Alena pergi kesana dan masih melihat mayat itu tergeletak ditempat terakhir kali Alena membunuhnya.


“Lihat, disini tertulis tidak ada bekas darah di sekitar tempat kejadian,” ucap Haidar.


“Bagaimana bisa sedangkan satu korban memiliki banyak luka sayatan dileher,” Balas Janu.


Alena yang sedari tadi diam kini dia dikejutkan dengan perkataan Janu. Alena melupakan satu hal itu, manusia pasti akan curiga kenapa tidak ada bekas darah di tempat kejadian sedangkan luka yang didapat korban adalah luka dari benda tajam.


Sial, aku benar benar ceroboh. Batinnya.


“Bagaimana jika pelakunya bukan manusia,” celetuk Haidar.


“Lalu apa?” tanya Mala.


“Bisa saja sesuatu yang bisa menghisap darah, lalu dia mencoba menghilangkan bukti dengan membuat sayatan di leher korban,” jelas Haidar.


“Lalu bagaimana dengan korban lainnya” tanya Mala.


“Nah itu dia, aku juga tidak tahu” jawab Haidar dengan cengegesan kemudian mala yang geram akhirnya memukul kepala Haidar dengan koran yang dia bawa.


“Aduh sakit, Mala” rintihnya.


“Itu untuk membenahi otakmu yang terlalu banyak asupan komik” jawab Mala.


Sesuatu yang bisa menghisap darah? Alena apa itu perbuatanmu. Batin Janu.