
Proses pemakamam dilakukan sesuai permintaan keluarga Elga, sebenarnya Alena lebih menginginkan jika Lina dimakamkan di kediaman lama mereka dihutan, tapi setelah dipertimbangkan disinilah tempat yang tepat untuk tempat terakhir Lina, dan keluarga Elgar lah yang lebih berhak atas Lina karena mereka yang merawatnya selama ini.
Alena masih setia menatap gundukan tanah yang masih basah didepannya dengan ditopang tubuhnya oleh Tyson sebab keadaannya masih lemah setelah lepas kendali sebelumnya. Kesedihan ditinggalkan seseorang yang berarti baginya kini dirasakan lagi setelah tiga ratus tahun yang lalu, baru saja Alena merasa bahagia telah menemukan keberadaan orang yang merawatnya kini dia harus kembali merelakannya.
"Kita pulang," ajak Tyson.
Alena menggeleng pelan tanpa menoleh sedikitpun.
"Cuaca semakin panas Alena, bahaya jika kamu berlama lama disini," sambung Eron.
"Tidak masalah selama ada kalung," jawabnya lagi.
"Kalung itu hanya melindungimu sebentar karena pada dasarnya pertahananmu terhadap matahari memang paling lemah dari yang lain," jelas Tyson.
"Lebih baik kamu pulang Alena, karena Javir pasti sebentar lagi akan datang," sahut Janu yang membuat Alena sedikit terkejut dengan itu.
"Javir datang? Dia kenal bibi Lina?" tanya Alena pada Janu.
Janu pun memgangguk menjawabnya.
"Javir mengenal nenek Lina sejak dia kecil, karena dulu Janu dan Javir berteman akrab," sambung Tuan Elgar.
"Lalu, apa Darian mengetahui kedekatan Javir dan bibi Lina?" tanya Tyson.
"Sepertinya tidak, karena Javir tidak pernah izin dengan ayahnya ketika bermain dengan Janu," Jawab Elgar.
"Sepertinya kemungkinan kecil jika keluarga Darian tidak mengetahui tentang nona Alena, Bos," sahut Dion.
"Kamu benar, kita harus lebih berhati-hati," balas Tyson.
"Dia datang," ucap Alena saat merasakan aroma menyengat yang mulai membuatnya mual.
Dan benar saja, dari jarak yang tak cukup jauh terlihat mobil hitam yang baru saja terparkir, sang pemilik keluar dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam serta kacamata yang bertengker dihidungnya.
Langkahnya dengan tegap berjalan melewati beberapa makam yang semakin lama semakin dekat dengan mereka. Alisnya bertaut keheranan melihat kehadiran Alena disana.
"Javir, kamu datang?" tanya Nyonya Elgar sesaat setelah Javir menghentikan langkahnya.
"Iya, Javir ingin memberi penghormatan terakhir pada nenek," jawabnya lalu beralih memperhatikan Alena yang masih terdiam dengan mata sendu.
"Alena, kamu disini?" tanya Javir.
Tidak ada niatan untuk Alena menjawab pertanyaan itu, dia hanya diam dan meminta Tyson untuk segera membawanya pergi.
"Tyson, kita pulang sekarang," ajaknya dan diangguki oleh Tyson yang masih menopang tubuhnya.
"Tuan Elgar kami pamit, sekali lagi kami turut berduka cita," ucap Tyson dengan formal agar tidak menaruh curiga pada Javir.
"Terimakasih kehadirannya Tuan Tyson," balas Elgar.
"Alena, hati hati," sahut janu yang dibalas anggukan disertai senyuman dari Alena.
Tyson memapah Alena meninggalkan area makam disusul dengan Eron dan Dion dibelakang mereka. Kini mereka telah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Dion. Suasana hening yang masih menyelimuti mereka sejak dari pemakaman hingga akhirnya suara berat milik Eron memecah keheningan.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Alena?" tanya Eron.
"Aku akan memulainya," jawab Alena dengan pandangan kosong melihat keluar kaca mobil.
"Apa kamu tidak mau mencoba mengikuti permintaan bibi Lina?" sahut Tyson.
Tyson terlihat cemas setelah mendengar jawaban Alena, dia melirik Dion dari kaca begitu pula Dion yang terlihat mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh bos nya.
"Permainan akan dimulai sebentar lagi," ucap Alena dengan tersenyum licik.
Ketiga pria didalam mobil itu hanya saling pandang satu sama lain karena tidak mengerti apa yang di makaud Alena.
...***...
Pagi hari suasana sekolah terlihat sangat ramai dengan murid yang terlihat heboh akan suatu berita di ponsel mereka, disetiap sudut sekolah selalu terlihat kumpulan murid yang membicarakan hal itu, bahkan saat dikelas pun terlihat hal yang sama.
Alena yang baru memasuki kelasnya mendengar salah satu temannya membicarakan berita yang tengah heboh dikalangan murid sekolahnya.
"Mobil yang di kendarainya rusak parah untungnya dia tidak apa-apa hanya luka sedikit di muka dan tangan akibat nekat lompat keluar dari mobil," ungkap salah satu teman kelas Alena yang sering disapa Vina.
"Waah, bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi pada Javir," sahut salah satu teman didepan Vina.
"Polisi menemukan rem mobil Javir sengaja di sabotase oleh seseorang, sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakainya" sambung vina.
Alena yang mendengar itu hanya tersenyum puas di balik buku yang dibacanya. Berita yang beredar pagi ini membuatnya senang, seorang Darian Javir mengalami kecelakaan malam tadi dengan kondisi mobilnya yang rusak parah.
"Apa itu ulahmu?" bisik Janu yang membuat Alena terkejut karena kedatangannya yang tidak dia disadari.
"Tentu saja, bahkan aku sendiri yang turun tangan mensabotase mobilnya," jawab Alena.
Janu membelalakan matanya tak percaya dengan perkataan Alena.
"Bagaimana kamu bisa mengerti tentang mesin?" tanya Janu.
"Bukan hal yang susah untuk ku mempelajari hal baru, Janu," jawabnya kepalang santai.
"Apa ini awal dari pembalasan dendam mu, Alena?" tanga Janu lagi.
"Iya, dan selanjutnya akan lebih dari ini," balasnya menyeringai.
Janu terdiam dengan perasaan bimbang, saat ini dia dihadapkan dengan pilihan yang menurutnya sulit, haruskah dia berada dipihak Alena atau kah Javir. Mendamaikan situasipun sepertinya hal yang susah untuk Janu lakukan.
Melihat Alena yang diselimuti dendam Janu merasa merinding dia membayangkan hal mengerikan seperti apa yang akan Vampir ini lakukan untuk membalaskan dendamnya.
Suasana kantin yang awalnya tenang kini menjadi ramai saat Javir terlihat memasuki kantin dengan tangan dan kepala yang terlilit perban, dibelakangnya juga terlihat Yuda dan Alan yang setia menemaninya.
Javir mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok wanita yang dia cari. Alena. Segera langkah Javir mendekat menuju meja dimana Alena dan ketiga temannya berada. Javir menduduki tempat disebelah Alena yang masih kosong dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Hai Alena," sapanya.
"Dengan kondisi seperti ini masih bisa berangkat sekolah," sindirnya dan berusaha menahan aroma darah Javir dengan tudak menutul mulut dan hidungnya.
"Hanya ingin memperlihatkan padamu bahwa aku baik baik saja," balas Javir dengan nada mengejek untuk membalas sindiran Alena padanya.
"Aku takut jika kamu khawatir denganku setelah melihat berita yang beredar," sambungnya lagi.
"Tidak akan ada untungmya aku mengkhawatirkanmu," jawabnya ketus.
"iya iya iya, aku memahami gengsimu itu. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Aku pergi ya, silahkan lanjutkan makan siangmu, dadah princess," ucap Javir sambil melambaikan tangan pada Alena kemudian pergi bersama kedua temannya.
Alena diam terpaku mendengar panggilan yang di tujukan padanya barusan. sudah sangat lama Alena tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan itu. Sebutan yang biasa Jarvis gunakan ketika memanggilnya.