I Am Demon Lord In This Life

I Am Demon Lord In This Life
09-lost Faith



Ayah, apakah ada sesuatu yang kau rahasiakan padaku?


"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku penuh selidik.


"Aku? Bukan siapa-siapa, Lord. Hanya Demon dengan kehidupannya" Jawab Demon itu sambil tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


"Tanduk tunggal itu bukankah sesuatu yang mudah untuk didapatkan jika kau bukan seorang keturunan Absolute Demon. Lalu, apakah kau keturunan Absolute Demon yang lain?" aku terus bertanya padanya. Tenggorokanku ini sangat gatal untuk bertanya padanya tentang banyak hal.


"Ahaha, jangan berpikir dengan rumit seperti itu, Lord. Siapa yang tahu kan?" lanjutnya lalu tersenyum.


DDDUUUUAARRRR..


Sebuah ledakan tiba-tiba terjadi. Suaranya yang keras dan tanah yang bergetar dibuatnya, cukup mengagetkanku.


"Lord, apakah anda baik-baik saja?" Suara Arce terdengar dari telepati.


"Aku baik-baik saja, dari mana suara itu berasal?" tanyaku bertanya balik.


Ahh, sialan. Anne.


Lupakan Demon Tanduk Tunggal itu, aku melesat cepat pergi dan mencari keberadaan Anne.


Diantara kami Anne adalah yang paling lemah, Anne adalah tipe pemimpin pasukan, bukan prajurit yang bisa dengan mudah bertarung langsung. Karena itu aku cukup khawatir.


Cukup sudah aku kehilangan banyak rekan Demon dari Styx.


Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil asal ledakannya. Di tengah tanah yang hancur ada sosok wanita yang terbaring diatasnya. Penuh luka dan tidak sadarkan diri.


"Anne!!" Dari sisi lain, aku melihat Arce terbang denga no kecepatan tinggi dengan wajah khawatirnya.


Arce dan Anne sudah melalui banyak hal buruk selama ini. Selain satu sama lain, tidak ada lagi orang yang bisa mereka harapkan dan percaya.


"Ayo bawa Anne menepi dulu" Ujarku sambil membantu Arce menggendong adiknya. Wajah Arce begitu pucat, khawatir bercampur dengan kemarahan.


Lalu, dari balik salah satu rumah kayu Ogre. Sebuah Mana Sihir aneh yang mirip dengan milik Harley muncul. Namun kali ini Mana yang tersebar lebih besar dan penuh amukan.


"Aku tidak suka petak umpet, jadi aku keluar saja. Halo yang disana" kali ini seorang remaja laki-laki manusia muncul dan menyapa.


Berjalan mendekat ke arah kami sambil tersenyum dan tidak lupa melambaikan tangannya.


"Manusia bumi?" Tanyaku tidak perlu basa-basi. Melihat dia bisa menahannya dengan baik, itu berarti mungkin saja dirinya tidak kehilangan akalnya.


"Owhh, kau tahu juga ya tempat seperti itu. Yah, benar. Aku manusia" jawabnya santai lalu duduk bersila menghadap kami.


"Apa kau yang menyerang temanku?" lanjutku bertanya. Mencoba mengulur waktu agar remaja itu tidak mudah menyerang atau semacamnya.


"Euh? Bukan, ahahaha, itu adikku. Bukan aku, aku baru saja datang karena kakak memanggil" jawabnya santai dan ramah.


Apa-apaan ini sulit sekali untuk menebak jalur pikirannya?


"Kakak?" tanyaku lagi sambil memberikan kode pada Arce untuk membawa Anne pergi. Lukanya cukup dalam jadi aku tidak bisa membuatnya terjebak di tempat yang tidak jelas seperti ini.


"Ah, dia adalah Demon. Kalo dilihat-lihat ternyata kau punya tanduk tunggal sama seperti kakakku. Yap, itu tidak sepenuhnya buruk. Tapi, kemana teman-temanmu pergi?" jawabnya sambil berdiri dan fokus melihat Arce yang lari membawa Anne.


"Aku ingin bertanya sesuatu pada mere--"


Remaja laki-laki itu berusaha menyusul Arce. Gerakan tubuhnya cepat seperti teleportasi, hampir saja aku tidak dapat menangkap pergerakan.


"Kau bisa menanyakannya padaku" Seruku bergerak cepat menghalanginya.


"Aku akan mencoba menjawabnya. Jadi, kau bisa katakan padaku" lanjutku dengan hati-hati.


"Ah, mereka terlihat seperti seseorang yang aku kenal. Tapi, aku lupa dengannya. Aku hanya ingat kalau dia adalah Demon. Yah, itu bukan masalah. Permisi, aku ingin bertanya secara langsung" sahutnya sambil mendorongku perlahan.


Aku tersentak, lagi-lagi terkejut dengan apa yang disebutnya. Demon? lagi? Sama seperti Harley. Hatiku sedang tidak bisa bekerja sama dengan otakku.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi" kataku dingin. Menahan tangannya lalu menatapnya tajam.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu" ujarnya bingung.


"Siapa namamu?"


"Aku? Ka--"


DUUUAARRR...


Tidak terdeteksi asalnya, sebuah benda yang jatuh turun dan menghantam tanah. Membuat lubang dengan diameter lima meter. Kekuatan jenis apapun itu, pasti cukup besar hingga menimbulkan jejak sebesar itu.


"Kazuhiko, apa kau kau lakukan?!" seorang remaja lainnya datang setelah itu. Mendekat kearah kami lalu menarik Kazuhiko jauh dari itu.


"Oh, Alano, kenapa?" tanya remaja laki-laki yang tadinya bicara denganku.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, remaja yang dipanggil Alano itu tiba-tiba berlari dengan sangat cepat kearahku lalu menyerangku dengan tinjunya.


Namun dengan cepat, aku membentuk sebuah Shield dengan sihirku. Menahan serangan tiba-tiba yang dilancarkannya.


Yang satu penuh dengan Mana sihir yang mengamuk, sedangkan yang satu lagi tidak terasa sedikit pun Mana sihir darinya.


"Sialan. Aku harus membunuhmu, si palsu" Seru Alano menatapku tajam penuh kemarahan dari balik Shield.


"Apa maksudmu dengan si palsu?!" tanyaku sambil mencoba untuk tetap tenang tidak terbawa emosi.


"Hah? Kau bertanya saat kau sudah tahu jawabannya. Enyahlah kau sialan. Makhluk menjijikan" lanjut Alano membentak ku.


"Oy, aku bertanya dengan baik. Kenapa kau menjawabnya dengan begitu kasar?!" Dalam sepersekian detik, aku melesat cepat ke hadapannya lalu mencekik lehernya. Emosi dan rasa ingin tahuku yang sudah terlalu dalam, membuatku sulit untuk menahan amarah.


"Kghh..kghh.., le-lepaskan a-aku" sambil mencengkram tanganku, hanya dengan kekuatannya, Alano melepaskan tanganku dari lehernya.


Dia tidak punya sihir tapi punya kekuatan. Mereka berdua kuat.


"Ohoho, ternyata anda berada disini, Lord" Demon tanduk tunggal yang tadi datang mencariku.


"Kakakk!!" Sapa Alano dan Kazuhiko serentak sambil memasang wajah berseri.


"Owh, adikku. Ternyata sudah sampai, apa kalian sudah membereskan sampahnya?" tanya Demon itu sambil tersenyum lalu merangkul kedua remaja yang disebutnya sebagai adiknya.


"Sudah, kami melakukannya dengan baik. Tapi, kak, kenapa si palsu ini ada disini?" Tanya Alano sambil melirikku dengan sinis.


"Oh, entahlah. Aku juga tidak mengerti apa yang diinginkan orang sepertinya. Yah, Styx pasti juga akan hancur sih, jika orang sepertinya yang memimpin" jawabnya Demon itu sambil memberikanku tatapan jijik.


"Sialan, siapa kau sebenarnya hingga berani berkata seperti itu?"


Aku melesat dengan cepat, mengarahkan mata pedangku ke lehernya lalu menggoresnya. Darah menitik satu persatu keluar dari lukanya, sementara Demon itu tersenyum dengan gilanya.


"Siapa? Kau harus bertanya tentang itu pada dirimu sendiri, Lucifer Enrique."