
"Saya sudah mengamankan Ogre itu, Lord" Ungkap Arce datang ke ruanganku.
"Kerja bagus, Arce. Kita akan melakukan langkah selanjutnya. Temui aku besok sebelum matahari terbit bersama Anne."
"Baik, Lord."
Petunjuk kali ini akan datang dari Ogre itu. Jadi, aku perlu mengamankannya duluan. Selain itu, setelah menemukan Ogre ini, aku memerintahkan Anne untuk mengintai Desa Ogre yang saat itu kami kunjungi.
Aku tidak perlu terburu-buru, selagi aku masih hidup sehat aku tidak akan berhenti sampai menemukan sampah itu dan membersihkannya.
...********...
"Oh, Lord. Apa kabar anda baik-baik saja?" Sapa Leon yang tengah bekerja dalam kelompok perbaikan dinding Gerbang.
"Oh, aku baik-baik saja. Apa perkembangannya lancar?" aku bertanya balik.
Setelah menyelesaikan tugasku. Aku pergi ke dinding gerbang yang rusak. Bayanganku tentang pria bertopi jerami ini masih terngiang-ngiang di kepalaku, karena aku pikir dia akan datang lagi.
"Ah, Lord. Apakah penyerang itu sudah diamankan?" tiba-tiba Leon bertanya sambil berbisik kepadaku.
"Ah, tentu. Aku sudah mengamankannya. Maaf telah membuat semuanya khawatir" jawabku seadanya.
"Yah, selama itu sudah selesai aku pikir itu tidak lah masalah. Lord, aku harus kembali bekerja, karena itu selama aku tidak berada di bar jangan berani-berani datang ke bar, Lord."
"Ahahah, sialan."
Penjahat telah tertangkap, Gerbang juga sedang diperbaiki. Berkat ketangkasan dan kecepatan prajurit demon dan pekerja, kami bisa melaluinya dengan baik. Rumor-rumor buruk diantara warga juga mulai berkurang.
Lalu sekarang, aku juga akan mulai.
Di sebuah ruangan, tepat dibawah ruang kerjaku. Tempat dimana ayahku mengurung pengintai dan penjahat selama dirinya menjabat, aku menemui Ogre sebelumnya untuk memulai penyelidikan.
"Oh, apa kau baik-baik saja?" tanyaku sambil menyeret sebuah kursi mendekatinya.
Ogre itu hanya menatapku diam, tidak menjawab pertanyaanku.
"Aku tidak datang untuk membalas dendam ataupun membunuhku. Katakan padaku, berapa banyak diantara mereka yang datang ke desamu?" lanjutku bertanya.
"Apa maksud anda?" kata Ogre itu berusaha mengelak.
"Demon, bukankah kau bilang ras Demon datang dan mencoba untuk menghancurkan ras Ogre?" tegasku.
Ogre itu terkejut, kembali diam dan tidak menjawab.
"Desamu diancam untuk kedua kalinya. Yang pertama kalian berhasil selamat dan yang kedua, mereka pasti akan memastikan kematian kalian. Aku tidak peduli dengan Ogre, aku butuh identitas Demon yang datang ke desamu" lanjutku berterus terang.
"Kalau aku menjawabnya, apakah kau akan menyelamatkan kami seperti Goblin?"
Yep, benar dugaanku.
"Aku bisa mempertimbangkan itu selagi ras mu mau menuruti ku" jawabku santai lalu tersenyum puas.
"Tiga orang. Seorang Demon dan dua manusia. Demon itu punya lambang ksatria Styx di lehernya. Sementara itu dua manusia lagi hanyalah anak kecil, tapi mereka punya kekuatan yang besar" Ungkap Ogre itu tidak ragu-ragu.
"Apa yang mereka perintahkan padamu?"
"Dia bilang padaku untuk pergi ke Styx dan mengawasi Styx dari gunung arah barat. Demon itu, dia yang memerintahkan aku untuk melakukannya" jawab Ogre itu menggertakkan giginya marah.
"Apa kau tahu jenis sihir apa yang digunakan demon itu?"
"Tidak, Demon itu tidak pernah mengeluarkan kekuatannya. Hanya anak-anak manusia saja yang mengancam kami dengan kekuatan mereka."
"Ah, kau akan menyelamatkan ras ku bukan? Aku sudah menjawab semuanya" Ujar Ogre itu sambil berlutut padaku.
"Hmm, entahlah. Aku akan membuat keputusan tentang itu setelah melihatnya nanti" jawabku sambil tersenyum.
Tentu, walaupun dia bilang begitu, aku masih harus memastikan kebenarannya. Sampai saat itu, ras Demon adalah prioritasku.
...****************...
Dengan pakaian serba hitam, aku mengintai Desa Ogre yang baru bersama dengan Arce dan Anne. Kabur dari Styx dan Alvic diam-diam di gelapnya malam sebelum matahari terbit.
"Apa kita akan baik-baik saja, Lord?" Tanya Anne sedikit khawatir.
"Tidak masalah, aku sudah meninggalkan sebuah surat singkat dengan stempel resmi di atas-nya. Jangan Khawatir, Anne. Aku akan mengurus Alvic nanti."
Anne mengangguk mengerti walau tidak terlalu yakin. Yah, sulit untuk membujuk Alvic lagi jadi lebih baik aku kabur darinya. Maafkan aku Alvic. Demon kecil ini baru saja memasuki ranah pubernya.
"Lord, kita sudah dekat" Lapor Arce.
"Ayo, kita tidak boleh membuang-buang waktu."
Dengan pergerakan Phantom, kami langsung bergerak layaknya hantu. Diam dan tenang, tidak meninggalkan jejak. Demon paling terkenal berkat langkah Phantom, jurus yang diturunkan turun menurun dari buyut Demon pertama kali. Langkah pergerakan yang membantu Demon menghilang tanpa jejak.
"Aku akan masuk lewat depan, Arce dan Anne dari samping dan belakang. Hindari pertarungan, saat kita ketahuan laporkan dengan telepati dan mundur ke timur."
"Laksanakan."
Aku dan si kembar berpisah, mulai masuk ke dalam Desa Ogre secara diam-diam. Setelah melompati pagar, aku bergerak dengan hati-hati penuh waspada di pinggiran Desa.
Karena matahari belum terbit, suasananya dingin dan gelap. Yang terdengar hanyalah opera ratusan serangga yang berpadu dengan dedaunan yang menari berdansa bersama angin.
Ini membuatku Dejavu. Rasa dingin dan kegelapan ini mengingatkanku pada peristiwa kejam hari itu. Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Kejadian itu, tidak akan terulang lagi. Tidak akan lagi.
"Woah, siapa yang aku temukan disini" Aku tersentak kaget, langsung mundur masuk ke dalam kegelapan disisi salah satu rumah kayu.
Apakah aku ketahuan?
"Hey, aku tahu kau disana. Keluarlah, kita tidak perlu buang-buang waktu untuk hal sederhana seperti ini" lanjut Suara itu. Suaranya menggema, tidak jelas asalnya dari mana.
Untuk sekarang, mari turuti perintahnya duluan. Ini adalah kesempatan bagus untuk melihat wajahnya langsung.
Aku melangkah keluar dari kegelapan secara perlahan, lalu menemukan seseoranh yang melayang dengan pakaian serba hitam di hadapanku.
"Siapa kau?" tanyaku sambil siaga untuk menarik pedangku dari sarungnya.
"Oh, tunggu. Lord? Apa yang tengah anda lakukan disini??" Ujar orang itu lalu turun ke tanah.
Di bawah cahaya bulan, dia membuka tutup wajahnya. Tersenyum sambil menatapku dalam. Di kepalanya, ada sebuah tanduk yang baru saja tumbuh. Dia ini Demon sama sepertiku.
Tapi, kenapa dia punya tanduk tunggal sama sepertiku?!
"Ahh, apa anda tengah melihat tanduk saya?" lanjutnya mendekat ke arahku.
"Kau, kenapa kau bisa memiliki tanduk tunggal itu?" tanyaku sambil memasang wajah dingin.
"Hemm? Entahlah. Aku sudah punya ini sejak lahir. Ah benar, anda juga tanduk tunggal. Ahahahaha, aku hampir melupakannya" tawanya puas seperti orang gila.
Tanduk tunggal, aku pikir hanya aku satu-satunya keturunan terakhir Absolute Demon yang memilikinya. Tapi, kenapa dia juga memiliki tanduk tunggal itu?
Ayah, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?