I Am Demon Lord In This Life

I Am Demon Lord In This Life
02-Heir of Styx



"Lord, kali ini juga bukan" Alvic menjadi tangan kananku semenjak kematian ayahku dan pengangkatan diriku sebagai Lord yang baru.


"Hahh, lanjutkan pencariannya. Aku tidak akan berhenti sampai menemukannya" aku menghembuskan nafas panjang. Kali ini juga gagal, tugasku dalam mencari pelaku yang membunuh ayahku.


"Lord, sudah waktunya untuk beristirahat. Tolong jangan paksakan diri anda" Ujar Alvic sambil membereskan beberapa dokumen yang ada di atas mejaku.


Sudah satu tahun berlalu semenjak hari itu, sampai saat ini aku belum juga bisa menemui pelaku.


Malam itu, satu desa Orc ikut dibantai bersamaan dengan pasukan Demon. Setelah menyisir semua kawasan, masuk lebih dalam ke hutan, menyusuri sungai, bahkan ke lereng di gunung terdekat, kami tetap tidak dapat menemukan jejak atau petunjuk apapun.


Mereka seakan dibunuh oleh sesuatu yang tidak nampak.


Umurku sekarang 15 tahun, sangat muda untuk memimpin ras Demon yang bisa berumur hingga ratusan tahun.


Setiap harinya aku tidak pernah melupakan latihan, tidak lupa juga mengerjakan kewajibanku sebagai Lord, aku hampir melakukan semuanya sendirian.


Bertahan di dunia antah berantah, kehilangan orang-orang yang dapat paling aku percayai itu sungguh berat. Setiap harinya terasa seperti neraka.


"Mohon maafkan aku Lord, sekelompok goblin datang ke depan gerbang. Mereka meminta bantuan" Aku yang tadinya sudah kembali ke kamarku untuk beristirahat dipanggil kembali oleh Alvic.


"Bukankah kubilang kita tidak perlu mempedulikan mereka. Aku ingin istirahat Alvic."


Untuk mengantisipasi kejadian sama terulang, aku membuat keputusan yang cukup berat, kami menutup gerbang utama Kerajaan Styx. Dengan begitu orang luar tidak perlu masuk ke dalam Styx dan menjalin hubungan dengan ras Demon.


...****************...


"Apa kau sudah mengurus para Goblin itu?" tanyaku kepala Alvic, teringat kembali tentang Goblin yang disebutkannya kemaren.


"Mereka sungguh keras kepala, Lord. Saya sudah mengusir mereka bahkan sedikit mengancam mereka. Tapi mereka tidak takut sedikit pun. Mohon maafkan saya, Lord" jawab Alvic sedikit frustasi.


"Dimana mereka sekarang?"


Gerbang Utama Stix, mereka membangun tenda istirahat di depannya. Apa-apaan para Goblin itu? Apa yang sebenarnya mereka inginkan?


Dari pos penjaga di atas gerbang, aku memutuskan untuk melompat ke bawah dan melihat situasi mereka secara langsung.


Tenda bobrok yang dibuat benar-benar hanya untuk istirahat, tidak banyak barang bawaan, Goblin yang ada disini juga Goblin muda tanpa Goblin dewasa dan anak-anak. Keadaan mereka juga tampek cukup buruk karena penuh dengan luka.


"Oh, siapa anda, tuan?" seorang Goblin dari belakang menyapaku.


Saat ini aku menggunakan jubah dengan kepalaku yang di tutup oleh tudung jubahnya, wajah mereka tidak tahu.


Ras Demon itu jelas sekali perbedaannya, struktur tubuh mirip manusia tapi memiliki salah satu diantara sepasang tanduk atau sayap. Sedangkan aku Demon dengan tanduk tunggal, yang terakhir dan satu-satunya keturunan dari Absolute Demon pertama.


"Lucifer, negeri ini milikku" lanjutku seraya membuka tudung yang menutupi sedikit wajahku dan berbalik badan.


"Ohh, astaga. Mohon maafkan atas kelancangan saya, Lord of Styx" Seru Goblin itu kemudian bersujud kepadaku. Berkat seruannya, semua Goblin datang dan ikut bersujud kepadaku.


"Apa yang kalian lakukan, berdiri" kataku dingin.


Mendengar perintahku, ragu-ragu mereka berdiri. Namun setelah melihatku, mereka mulai meneteskan air mata dengan wajah yang bahagia.


Hah? Apa yang terjadi disini?


"Apa yang kalian inginkan? Pergilah, kami tidak menerima orang luar" lanjutku dingin.


"Tidak, tidak, mohon tunggu sebab, tuan. Bisakah anda mendengar kami sebentar? Sudah tidak ada lagi tempat bagi kami untuk meminta sedikit rasa kasihan" Ungkap Demon yang pertama kali menyapaku.


"Anne persiapkan pasukan dan lindungi kota. Arce bawa para Goblin ke gunung belakang" Aku memerintahkan dua panglima Demon pengintai untuk bersiap-siap atas serangan.


"Me-mereka datang lagi"


"Bagaimana sekarang??"


Dari belakangku, para Goblin itu rusuh memasang wajah penuh ketakutan.


"Lord, i-ini--"


"Hahh, aku mengerti situasinya. Pergilah"


Tidak ada pilihan lain saat ini, makhluk yang datang dengan kecepatan tinggi itu mungkin akan membahayakan warga Styx.


"Oy kau, aku tahu kau disana. Keluarlah" Makhluk bodoh itu, padahal Mana Sihirnya yang tidak normal dan terasa aneh itu menyebar kemana-mana. Siapa yang tidak bisa merasakan?


"HIHIHIHIHI, Aduh, Harley ternyata ketahuan. HIHIHIHI, itu lucu sekali" sesosok gadis muncul dari balik pohon, tertawa dengan wajah psiko dengan kuku-kuku yang berdarah karena digigitnya.


Tubuhnya kurus dan pucat, pipinya yang tirus memperlihatkan tulang rangkanya, pakaiannya kumuh dan rusak, dan rambut hitam panjangnya menyapu tanah saat dia berjalan ke arahku.


"Kau, apakah kau manusia?" tanyaku bersiap untuk menarik pedangku keluar.


"Hemm?? Manusia? Entahlah, Harley tidak tahu, HIHIHIHIHI" jawab gadis mencurigakan itu kembali tertawa dengan wajah gilanya.


"Apa yang kau inginkan, pergilah" Ujarku mencoba untuk menjauhi pertarungan.


"Ehhhhh?? Ja-jangan usir Harley, aku, aku ingin bermain, jangan usir Harley" tiba-tiba dia berteriak histeris, mulai menarik rambutnya dengan agresif lalu Mana Sihir miliknya mulai membludak.


Gadis yang mengaku sebagai Harley itu perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Bola matanya berubah menjadi hitam sepenuhnya sementara wajahnya tersenyum penuh kegirangan.


"Ayolah, ayo main dengan Harley. HIHIHI" Gadis itu mulai melayang, bersamaan dengan itu langit menjadi gelap dan petir-petir mulai menyambar.


"Arce, Anne lindungi warga kota. Aku akan mengurus Bencana ini."


WHUUSHHHH...


Aku terbang melesat secepat mungkin dengan sihirku. Mulai mendekatinya dan menyerangnya dengan pedangku.


"HIHIHI, Ini menyenangkan. Ayo bermain lagi!!" serunya makin kegirangan.


"Demon Flame" aku mengucap mantra, tidak butuh waktu lama hingga kobaran api hitam membara keluar dari tanganku dan membakar gadis itu.


"Hahahaha, itu panas tau. Sekarang giliranku, ya"


Dari atas langit dengan awan hitam, muncul ratusan jarum listrik. Dalam sepersekian detik, seluruh jarum-jarum itu jatuh dan menghujaniku.


Sambil membuat barrier dengan Demon Flame, aku menahan hujan jarum listrik itu.


"Untung bukan diatas kota, gadis ini cukup merepotkan".


Namun, aku juga tidak selemah itu. Sementara barrier apiku menahan hujan jarum, aku mengucapkan mantra lainnya. Cukup sulit namun tidak mustahil untuk dilakukan.


"Woahhh, itu, itu pedang yang besar!!"


Benar, aku melapisi pedang milikku dengan api hitam yang sudah dipadatkan. Ini jurus yang aku pelajari dari ayahku, peninggalan hebat ini tentu tidak akan kalah.