
"Kau harus bertanya tentang itu pada dirimu sendiri, Lucifer Enrique."
Oy, oy, kenapa aku terlihat seperti seseorang yang paling bersalah di tempat ini?
Semua mata menatap tajam padaku. Penuh kemarahan dan kebencian. Bahkan tatapan lembut Kazuhiko juga berubah setelah Demon tanduk tunggal itu datang.
"Hey, jangan main-main. Apa yang perlu aku tanyakan pada diriku..? Tentang tanduk itu? Lupakan saja, kau tidak akan bisa memprovokasiku dengan cara murahan seperti itu" sahutku berusaha untuk terus tenang.
"Siapa yang tahu kan?"
"Ah, kau membuatku gila. Kau bilang kita akan bertemu lagi kan, oke, dengan senang hati kita akan bertemu lagi."
Aku mundur dari tempat itu, tepat setelah Arce bilang dengan telepati tentang keadaan Anne yang semakin buruk. Suaranya bergetar ketakutan, penuh kekhawatiran, tidak mungkin aku tetap berada disana bersama orang-orang tidak jelas itu.
Setelah itu, kami langsung kembali ke wilayah Styx. Kondisi Anne cukup buruk, kami tidak tahu dengan siapa dia bertarung jadi sulit untuk menerka apa yang terjadi padanya. Karena itu kami butuh bantuan Healer dan dokter.
"Nona Anne terkena racun yang cukup kuat. Ditambah lagi dengan lukanya yang cukup banyak dan dalam. Healer bisa menyembuhkan lukanya tapi tidak dengan racunnya, Lord. Kita butuh seorang alkemis yang ahli obat-obatan dan racun" Ungkap Healer yang menyembuhkan luka-luka Anne.
"Alkemis ya? Ah, Styx tidak punya Alkemis." Ujarku baru saja menyadarinya. Racun, biasanya akan sangat berdampak pada ras lain, tapi tidak dengan Demon karena kami punya Poison resistance.
"Benar Lord, racun ini lebih kuat dari ketahanan tubuh kita terhadap racun. Yang menyerang Nona Anne, pastilah seseorang yang kuat" lanjut Healer itu.
"Apa kau punya kenalan Alkemis di luar Styx, aku akan pergi dan membawanya kesini" Ujar Arce.
"Saya tahu seseorang, namun dia adalah seorang manusia" Ungkap Healer itu sedikit takut. Tentu, para Demon membenci manusia.
"Manusia? Apa kau tidak punya kenalan Alkemis yang lain??" lanjut Arce menolak idenya.
"Tidak, tidak ada yang lain, tuan."
"Ahh, sialan. Manusia, kenapa harus manusiaa?!!" seru Arce kesal, memukul dinding yang ada di sampingnya.
"Ah, terima kasih untuk hari ini tuan Hook, tolong datang setiap hari untuk melihat keadaan Anne selanjutnya"
"Baik, Lord."
...****************...
"Anda harus menjelaskan semua yang terjadi pada saya, Lord"
Sialan, sekarang Alvic malah menagih semua informasi dan penyelidikan yang telah aku lakukan. Lihatlah tatapan tajam dan penuh tekanan darinya itu.
Ah, aku tidak punya pilihan lain.
"Aku menemukan petunjuk tentang orang yang membunuh ayahku, Alvic. Aku menyelidikinya belakangan ini untuk mencari kebenarannya, tapi situasi semakin rumit semakin aku mencarinya" jawabku jujur. Mencoba menghilangkan informasi tentang Si Demon Tanduk Tunggal.
"Astaga. Lalu anda mencoba untuk menyembunyikan itu dari saya selama ini, Lord?" Alvic kembali menatapku dengan tajam.
Ah, aku takut dengannya. Mantan panglima itu punya aura yang berbeda. Aku tertekan.
"Ahaha, aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Toh, aku akan mengungkapkannya saat sudah jelas nanti. Ahaha" tawaku canggung mencoba menghindari tatapan matanya yang tajam.
Sementara itu, Arce meminta izin padaku untuk keluar Styx dan mencari Alkemis manusia itu. Dia bilang begini.
"Lupakan manusia atau serangga apapun dirinya, saya tidak peduli selain adik saya yang kembali sehat. Tolong berikan saya izin, Lord."
Dengan keras kepalanya, Arce langsung berangkat setelah mendapatkan izinku. Dia juga berangkat sendirian. Meninggalkanku.
"Ohoho, sepertinya anda sudah bertemu salah satu dari mereka, Lord"
Aku tersentak dan langsung berdiri dari kursiku. Terkejut dengan kedatangan seseorang di depan jendelaku.
Pria dengan topi jerami. Dia datang.
"Oh, mohon maafkan saya yang datang tiba-tiba, Lord" ujarnya ikut kaget karena aku juga kaget.
"Ekhem, bukan apa-apa. Apa maksudmu si tanduk tunggal itu? Benar, aku bertemu dengannya" jawabku jujur.
"Tanduk tunggal ya. Lord, anda tidak bisa bicara seperti itu saat tahu anda satu-satunya pewaris disini. Tidak ada keturunan Absolute Demon yang tersisa selain anda, Lord" lanjutnya lalu duduk santai di jendelaku.
"Lalu kau sendiri. Jika kau Demon dan tahu tentang apapun, kenapa kau berada di luar sana?" tanyaku mulai menginterogasinya. Aku cukup penasaran, jadi tidak bisa menunggu lagi.
"Karena saya dilarang untuk kembali ke Styx. Ayah anda sendiri bahkan tidak bisa membantu saya. Yah, itu tidak masalah karena Beliau sering membantu saya saat diluar. Itu adalah petunjuk yang besar. Anda pasti akan langsung tahu tentang itu, yah itu juga kalau tidak ada yang menyembunyikan dari anda" ungkapnya.
"Tidak bisa masuk ya, aku mengerti. Jadi kenapa kau kesini?" Ujarku sambil tersenyum tipis. Datang tiba-tiba tanpa aku sadari dan masuk ke Styx dengan keamanan yang tinggi. Dia bukan Demon biasa.
"Oh, saya khawatir anda akan terbawa oleh perkataan yang dikatakan si palsu itu. Aku pernah bertemu dengannya dan dia begitu pandai membual" ungkapnya.
"Ah, tidak perlu khawatir. Karena aku memang satu-satunya keturunan Absolute Demon."
Absolute Demon. Itu panggilannya.
Seorang Demon yang terkuat sepanjang sejarah Demon, menyatukan beberapa ras termasuk manusia untuk dipimpinnya. Zaman itu, suasana begitu baik, tidak ada perpecahan dan diskriminasi atau semacamnya.
Tapi, itu tidak berlangsung lama. Manusia, dengan sifat iri dengkinya mulai menampakkan dirinya. Menyebarkan rumor ini dan itu, melakukan kejahatan ini dan itu.
Saat itu manusia membuat marah Absolute Demon. Karena manusia sudah bertindak sewenang-wenang bahkan sampai melukai warga yang dilindunginya dengan susah payah.
Absolute Demon yang marah mengusir manusia, dia bahkan tidak melukai satupun manusia walaupun manusia bertindak begiru buruknya.
Semenjak saat itu, daerah yang dipimpinnya kembali normal. Namun, lagi-lagi manusia. Mereka terus membuat keributan hingga banyak ras lain yang memisahkan dirinya dari daerah kekuatan Absolute Demon.
Dengan begitu, kebencian ras Demon terhadap manusia juga dimulai. Bahkan hingga saat pemerintahanku saat ini.
Nah, Absolute Demon itu adalah kakekku. Namanya Akuma Enrique.
...***************...
"Saya akan datang dan menyapa anda dengan layak, Lord. Tapi bukan saat ini, karena anda harus membuktikannya pada saya bagaimana seorang pemimpin itu seharusnya."