
"IHIHIHIHIHI, ini akan menyenangkan. Aku juga akan menggunakan satu mirip itu, tunggu ya" gadis itu kembali tertawa girang selagi tangannya mengeluarkan aliran listrik yang perlahan-lahan mulai memadat dan akhirnya membentuk sebuah pedang.
Sambil tersenyum dengan wajah maniaknya, Harley yang melayang di udara melesat cepat sambil mengayunkan pedang listriknya ke arahku. Tangannya terangkat keatas kepalaku tinggi, lalu menghantamnya kuat ke bawah.
Tapi dengan cekatan aku menghindar, berpindah tempat ke belakangnya dan menyerang balik. Walaupun perempuan, aku tidak akan segan.
"Maafkan aku tapi aku punya keluarga yang perlu dilindungi disini"
Dalam garis horizontal, aku langsung menargetkan lehernya. Tidak perlu memperpanjang pertarungan ini.
SLAASSHHH..
"Oho, kamu mengejutkanku. Aduhhh, leherku jadi terluka begini" Harley, gadis gila itu tiba-tiba sudah berada saja di sebelah kiriku. Serangan ku berhasil mengenainya tapi tidak membunuhnya.
"Yup, sekarang aku ya" dari arah kiriku, Harley kembali menyerang ku, mengayunkan pedangnya sembarangan. Aku yakin dia tidak pernah belajar menggunakan pedang, dia datang hanya untuk bermain-main.
Kali ini, aku tidak akan menghindar. Aku akan menghadapinya langsung, serangannya tidak berarti banyak untukku. Aku akan menyerangnya dengan serangan beruntun dari segala arah agar dirinya tidak bisa menghindar.
PRRANNNHH-PRRANNNHH...
Suara pedang yang saling beradu terdengar, Harley bisa menahannya tapi tubuhnya juga terkena damage yang tidak sedikit. Tubuhnya yang kecil tidak kuat untuk menahan serangan beruntun dengan tekanan yang berat dariku.
"Aduhh, kau kuat sekali ya. Gerakan itu, aku juga mengenalnya, pak tua dengan mata emas itu menyebalkan"
Mata emas?
Aku berhenti menyerangnya. Terlalu kaget mendengar apa yang dikatakan gadis itu barusan. Mata emas, mata yang sama dengan milikku. Mata yang hanya dimiliki oleh keturunan Absolute Demon dan demon dengan tanduk tunggal.
"Kenapa tiba-tiba berhenti sih?" Harley merajuk padahal tubuhnya sudah penuh dengan luka begitu.
"Kau ingat warna rambutnya?" aku bertanya mencoba memastikan apa yang aku dengar sebelumnya tidaklah salah.
"Ah, itu, blonde. Benar, blonde. Ayolah, aku membenci orang tua itu. Aku lebih menyukaimu jadi ayo bermain lagi, Hihihi"
Itu warna mata dan rambut ayahku. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu? Apakah dia yang membunuh ayahku? Dia tidak sekuat itu, ayah tidak mungkin kalah dari gadis gila ini.
"Aku akan bermain lagi jika kau mau menjawab beberapa pertanyaanku" sambil mencoba untuk tetap tenang dan mengendalikan amarahku, aku akan menggunakan situasi ini untuk mencari tahu lebih jauh, karena gadis ini cukup polos dan bodoh.
"ck, oke. Sebentar saja, cepatlah"
"Apa kau membunuh pria itu?" tanyaku sambil tersenyum palsu dengan paksa.
"Bukan, itu bukan Harley" jawab Harley singkat tanpa menambahkan hal lainnya.
"Lalu, siapa?"
"Ahhh, Harley sudah selesai menjawabnya. Harley akan lanjut bermain. Nah, sekarang apakah giliran Harley?" Dia tersenyum lalu kembali menyerang ku.
Ahh, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Satu tahun setelah kejadian itu, sekarang tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku pernah bertarung dengan ayahku tapi tidak membunuhnya.
Sialan, kepalaku sakit lagi.
"Oh, kau tiba-tiba bertambah kuat. Harley menyukainya. HIHIHIHI"
Bersamaan dengan meluapnya emosiku, Mana Sihir milikku juga mulai membara dan meledak. Seluruh tubuhku mulai diselimuti oleh api putih yang membara, sementara pedangku semakin besar berkat lapisan api hitamnya.
"Sebaiknya kau siap untuk yang satu ini, gadis gila. Sejak awal kau harusnya tidak main-main dengan keturunan Absolute Demon. Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, jadi--"
Ah sialan, lagi-lagi aku hampir tenggelam.
Gadis itu, dia sedikit lebih kecil dariku saat ini. Tidak mungkin dia menggila tanpa alasan, Mana Sihir yang meledak dan mengalir dengan abnormal. Tubuh yang tidak dijaga dengan baik, dia mungkin juga korban disini.
"Tidak apa, maaf ya. Hey Harley, apa kepala dan tubuhmu sakit?" Tanyaku setelah kembali menekan Mana Sihir milikku.
"Oh, benar. Kenapa kau bisa tahu kalau Harley merasakan sakit? HIHIHIHI, tapi tidak perlu khawatir, Harley baik-baik saja saat bermain" ungkapnya kembali tersenyum. Tapi senyuman kali ini bukanlah senyuman seorang maniak, dia tersenyum polos seperti anak kecil. Ditambah, apa-apaan acungan jempol itu?
Gadis ini, apakah dia juga seorang korban? Aku tidak tahu tentang apakah aku harus membunuhnya atau tidak. Melihat para Goblin itu, Sepertinya dia juga sudah melakukan banyak hal buruk.
"Harley, ayo bermain sampai rasa sakit milikmu hilang" Ungkapku lalu kembali bersiap dengan pedangku.
"Ah, ide bagus. Terima kasih yaaa!!"
Setelah itu, aku bertarung dengannya. Pedang sihir kami saling beradu. Harley juga kelihatan lebih baik saat dia tidak memasang wajah seorang maniak seperti sebelumnya.
"Aku selesaikan, ya"
Aku mengeratkan pegangan tangan pada pedangku. Lalu, seolah datang dengan roket, aku meluncur dari depan dan mengakhiri pertarungannya.
Pertarungan langit yang kami lakukan sekarang sudah usai. Sebelum Harley jatuh menghantam tanah, aku menangkapnya dan membawanya turun ke bawah.
"Arce, Anne, kemarilah"
Aku membaringkan tubuh Harley di tanah. Lalu tidak sengaja aku melihat sebuah kalung terpasang di lehernya. Di kalung itu tertulis namanya dan di bagian belakangnya, juga ada sebuah tulisan.
"London? Harley dari bumi??" Aku terkejut setelah membacanya. Sekarang sudah jelas, bagaimana bisa manusia bumi pergi ke tempat ini? Pasti ada yang terlibat di dalamnya.
"Apa anda baik-baik saja, Lord?" tanya Arce.
"Iya, aku baik-baik saja. Tolong kuburkan dia dengan baik. Dia hanyalah seorang gadis polos."
...****************...
"Terima kasih Lord, terima kasih Lord. Kami berhutang Budi yang Besar pada anda. Tolong katakan apa saja untuk membalas kebaikan hati anda, Lord. Kami akan melakukan apapun" Ujar salah seorang Goblin mewakili kelompoknya.
"Aku tidak membutuhkannya. Lebih dari itu aku punya beberapa pertanyaan, aku harap kalian dapat menjawabnya" sahutku.
"Tentu Lord, apapun itu kami akan berusaha untuk menjawab semuanya."
Setelah itu, aku banyak bertanya pada kelompok Goblin itu tentang kejadian yang menimpa kaum mereka.
Ternyata, Harley datang ke desa mereka, merusak desa dan menyerang semua anggota keluarga mereka. Goblin yang berada di Styx sekarang berkat keluarga mereka yang tinggal dan mengulur waktu agar mereka semua selamat.
"Kenapa gadis itu bisa sampai di desa kalian?" aku melanjutkan pertanyaanku.
"Itu, seorang Demon datang dan membawa Harley pada kami. Demon itu bilang Harley akan banyak membantu kami dalam perburuan, tapi ternyata mangsa buruan itu adalah kami" sambil menunduk pasrah, Goblin itu menjawabnya.
"Demon? Kalau begitu, kenapa kalian kemari padahal yang datang membawa bencana itu adalah seorang Demon?"
"Para tetua yang menyuruh kami kemari. Maafkan kami, Lord, tapi kami sempat menolaknya dan pergi meminta bantuan ke ras monster lain. Tapi, tidak ada yang membantu kami. Styx adalah pilihan terakhir kami namun Styx jugalah yang membantu kami" ungkap seorang Goblin.
"Kenapa harus Styx?"
"Ayah anda, Lord sebelumnya pernah mengatakan untuk datang ke Styx saat kami membutuhkan bantuan apapun. Mohon maafkan kami Lord, kami yang tidak tahu malu ini."
Ayah ya? Seberapa banyak makhluk yang sudah kau bantu selama ini? Pria bodoh itu, sungguh menyebalkan.