I Am Demon Lord In This Life

I Am Demon Lord In This Life
05-man in straw hat



"Mohon maafkan saya, Lord. Tapi, anda terlihat sedikit terburu-buru setelah peristiwa Harley itu" Arce muncul dan duduk di sebelahku, lalu memasukkan beberapa ranting tambahan ke dalam api unggun.


"Oh, apakah itu terlihat jelas? Yah, sulit untuk mempercayai nya, Arce. Yang jelas, aku menemukan petunjuk tentang pembunuh yang membunuh Ayah dan pasukan kita" jelasku pada Arce.


"Apakah itu ada hubungannya dengan perjalanan ini, Lord" sekarang gantian, Anne yang bertanya.


"Benar, sampai semua kebenarannya jelas, mari rahasiakan ini dari siapapun termasuk Alvic. Kalian tahu kan kenapa aku menerima kalian berdua sebagai pelindungku?" lanjutku menjelaskan.


"Tentu, Lord. Tidak ada jalan yang lebih cepat dari pada menjadi pelindung anda jika kami ingin mencari pembunuh orang tua kami" jelas Arce dengan wajah penuh keyakinan.


Benar, selain ayahku. Ayah dari si kembar Arce dan Anne juga meninggal akibat peristiwa itu. Ayah mereka adalah tangan kanan ayahku, salah satu panglima Demon terkuat di Styx.


Arce dan Anne, dibandingkan dengan Alvic mereka lebih muda darinya. Saat ini umur mereka 34 tahun, termasuk muda diantara para Demon. Arce dan Anne, mereka juga sering bersamaku dan tahu tentangku lebih banyak daripada Alvic.


Bukannya aku tidak menganggap Alvic, tapi semenjak ayah tiada Alvic sedikit berbeda dari biasanya.


"Lord, bagaimana dengan tujuan kita besok?" tanya Arce memastikan.


"Desa Yurwen, informasi berjalan dengan baik dan lengkap disana karena desa itu tempat netral bagi semua ras" jawabku.


"Mereka akan sedikit terusik jika tahu kita adalah Demon, Lord. Apakah kita perlu menyamar atau semacamnya, Lord?" Ungkap Anne.


"Tidak perlu, kita hanya mampir sebentar dan mencari informasi. Selama tanduk kita tidak kelihatan, kita akan aman."


Tentu saja, mungkin namanya memang tanduk. Tapi, saat Demon belum mencapai umur 50 tahun, Tanduk Demon hanya muncul sedikit dan seringkali tertutup oleh rambut.


Namun beda ceritanya saat Demon mulai mencapai umur 50 tahun, tanduk Yang ada akan mulai tumbuh semakin besar apalagi jika dirinya kuat dan memiliki Mana Sihir yang besar.


...****************...


"Kita tidak akan berpisah dan melakukan hal tidak perlu lainnya. Cukup perhatikan dan dapatkan informasinya" aku kembali mengingatkan Arce dan Anne tentang rencana sederhana kami.


"Baik, Lord."


Setelah itu, kami masuk ke dalam Desa Yurwen, desa netral dimana kami bisa bertemu segala ras mulai dari manusia hingga ras monster.


"Oho, pelanggan. Apa yang tengah anda cari?" Seorang pria paruh baya, dengan jenggot panjangnya menyapa kami tepat setelah kami masuk ke pasar desa.


"Informasi. Aku datang dengan uang, sebutkan semua informasi tentang pembantaian ras monster padaku" Jelasku pada pak tua itu.


"Oh, sepertinya anda baru di desa ini. Kau tidak bisa menawarkan uang untuk informasi itu pada pedagang rendah sepertiku. Pergilah ke gang sana, ada sebuah kedai makan kecil disana. Jangan ditanyakan, pesan saja menu makan malam di tempat itu. Aduh, hampir saja bisnisku rusak karena mu" lanjut pak tua itu bersungut-sungut kesal, lalu kembali duduk ke kursi kecilnya.


Tanpa membuang waktu, kami langsung melakukan apa yang pak tua itu suruh.


"Ada apa, Lord. Saya tidak begitu mengerti" Ungkap Anne.


"Sepertinya itu bahasan terlarang dan berbahaya di desa ini. Yah, kita hanya perlu mencari tahu tentang itu" lanjut Arce menjelaskannya.


"Sepertinya tempat ini, ayo masuk dulu" ajakku pada Arce dan Anne.


Aku membuka pintu kayu kedai itu, berderit bunyinya. Padahal pak tua itu ini kedai makan, tapi tempat ini cukup berdebu untuk disebut sebagai kedai makan. Satupun orang tidak ada di dalamnya.


Meja tersusun tidak rapi di tempatnya, kursi-kursi yang ada juga tidak terlihat dalam kondisi yang baik. Satu-satunya tempat yang bersih dan kayak adalah, meja dan kursi yang terletak menghadap langsung ke dapurnya.


"Tempat ini lebih kosong dari dugaanku, Lord. Haruskah kita keluar?" Ujar Arce yang merasa sedikit janggal dengan tempat kami masuki.


"Permisi, apakah ada orang disini?? Kami ingin memesan" sementara itu Anne mencoba untuk memanggil seseorang dari dalam dapur.


"Mari tunggu sebentar, jika tidak ada kita bisa--" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, seorang wanita tua dengan wajah yang tidak ramah keluar dari dalam dapur.


"Apa yang kalian inginkan? Tempat ini tidak punya apa-apa" Ungkapnya wanita tua itu.


"Kami ingin memesan makan malam, bisakah kami mendapatkannya dari tempat ini?" tanya Arce mencoba untuk bersikap ramah.


"...masuklah. Ikuti aku" lanjut wanita tua itu.


Dibelakangnya, kami menyusul wanita tua itu. Masuk ke dalam dapur lebih jauh lagi, di ujung dapur terdapat sebuah pintu kayu lainnya. Kami masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah kedai makan lainnya yang lebih baik dari tempat masuk kami tadi.


"Kalian masuk dari pintu yang salah. Kedai itu sudah cukup buruk, jadi aku pindah. Astaga, kalian membuatku repot padahal kedai sedang dalam jam ramainya" jelas wanita tua itu sambil menunjuk kami ke sebuah meja kosong.


"Duduklah, saat pesananya selesai. Aku akan memanggil kalian, jadi datanglah ke kasir salah satu dari kalian" lanjut nenek itu.


Kami hanya mengangguk mengerti dan menyetujuinya.


Siapa sangka kami masuk dari tempat yang salah. Tempat yang saat ini kami datangi terlihat lebih baik, meja dan kursi tersusun dengan baik dan ramai orang datang berkunjung.


"Pesananmu sudah selesai" Ujar wanita tua itu memberikan kode pada meja kami setelah beberapa saat.


"Saya akan kesana" sahutku.


"Lord, biarkan saya saja. Mereka mungkin membawa anda ke tempat yang berbahaya" Arce menahanku, bilang kalau berbahaya Jika aku masuk sendirian, tapi aku tidak punya pilihan lain.


"Tidak apa, saat aku dalam bahaya, aku akan mengirimkan sinyal seperti biasanya" Jelasku.


"Tolong berhati-hati,Lord."


...****************...


Sambil mengikuti wanita itu, aku mulai masuk ke tempat yang berbeda lainnya. Sebuah ruangan aneh dengan dua kursi dan sebuah meja yang diletakkan di tengah ruangan.


"Oho, Lord kita, Lucifer Enrique. Selamat datang di Yurwen, Lord" Seorang pria dengan topi jerami lebar duduk di kursi dengan dua kakinya tersandar santai di meja. "Saya sudah menunggu kedatangan anda, Lord."