I Am Demon Lord In This Life

I Am Demon Lord In This Life
01-Demon Lord



Euhmm, apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku pada Alvic, salah satu bawahan ayahku.


“Lord meminta saya untuk mengawasi anda, tuan muda” jawabnya singkat dan padat.


“Hahh? Sialan, aku sedang mencoba untuk mendapatkan privasi dalam toilet ini, bisakah kau keluar, Alvic? Tetap didalam sini hanya akan menambah masalah” Aku tersenyum penuh paksaan, berharap dia keluar dari toilet.


Ini sungguh merepotkan, terakhir kali aku mati karena ditabrak-, bukan, tapi karena sakit yang sudah sangat parah. Yep, singkatnya setelah mati aku bereinkarnasi ke suatu tempat di Isekai. Terlahir lagi sebagai putra tunggal dari sepasang Demon. Ayahku adalah seorang Demon Lord dari Kerajaan Styx dan dengan begitu, sebagai putra satu-satunya aku adalah pewaris selanjutnya.


Terlahir sebagai Demon saja cukup membuatku kebingungan, sekarang gelar pewaris Demon Lord juga sudah terpaku pada diriku.


Begini, coba dengarkan aku, bukankah di setiap komik dan film tentang Isekai Demon itu terkenal cukup mengerikan dan jahat? Bagaimana caraku hidup seperti itu selagi aku hanya bisa terbaring di rumah sakit sebelumnya?


“Anda sudah selesai, tuan muda?” tanya Alvic dari depan pintu toilet, mencoba mengganggu fokusku.


Karena aku cukup takut dan tidak ingin menjadi pewaris, aku sempat mencoba kabur beberapa kali, tapi nyatanya sampai hutan di depan kastil saja aku tidak pernah. Yang ada malah seorang panglima demon tertinggi ditugaskan untuk menguntitku.


Dengan begitu, aku sudah pensiun dari pekerjaan kabur.


Ah, ahahahhaha. Semua ini membuatku gila.


“Tuan muda, apakah anda masih berada disana?” tanya Alvis lagi.


“Ah, tenanglah, dia tidak mau keluar.”


“Mohon maafkan saya, tuan muda”


Setelah 14 tahun hidup sebagai Demon, aku menyadari banyak hal. Salah satunya, tidak mungkin makhluk hidup dilahirkan sebagai penjahat. Demon, mereka juga seperti itu. Memang kerap terjadi perpecahan dengan bangsa lain bahkan bangsa sendiri, tapi bukan sifat bawaan pemicunya.


Jauh hari sebelum aku lahir, seorang Demon yang mencoba hidup berdampingan dengan manusia, dituduh sebagai penjahat dan pembunuh hanya karena dirinya seorang Demon.


Yep, sungguh kejam. Semenjak itulah semua orang dengan ras Demon memutuskan hubungannya dengan dunia, bersikap lebih dingin dan sedikit kejam.


“Oh, Lucifer, apa kau menikmati sarapannya? Maaf, ayah cukup sibuk hingga kita tidak bisa makan bersama.”


Tuh, lihat saja ayahku. Putranya sudah 14 tahun tapi dia bersikap seolah-olah aku masihlah seorang bocah. Ah, jiwa puberku membara menahan amarah. Tenang Lucifer, nanti kau berdosa.


“Aku baik-baik saja, Ayah tidak perlu mengakhawatirkan hal itu. Daripada itu, aku akan latihan bersama Alvic hari ini, mohon jangan datang dan menemuiku, tugas Ayah kan sudah menumpuk” Ungkapku sambil memperbaiki pakaianku yang cukup lusuh setelah duduk cukup lama di toilet.


“Ahahaha, baiklah. Lakukanlah dengan baik, pewarisku.”


Dia berbohong, Ayah tidak pernah melewatkan latihanku satupun. Walaupun sebentar dirinya pasti akan terus datang. Aku ini juga seorang Demon, apakah dia tidak tahu aku juga bisa merasakan Mana Sihir miliknya? Kenapa juga dia bersembunyi seperti itu di tempat yang sama? Ayahku yang bodoh.


Yah walaupun begitu, aku tetap menyukai orang tuaku. Ibuku mungkin sudah meninggal, tapi aku punya waktu yang baik dengannya. Jika diminta untuk jujur, sebenarnya aku menyukai kehidupan keduaku ini.


“Benar, tuan muda. Ada permintaan dari ras Orc yang tinggal di barat. Lord sedang mempertimbangkan tentang permintaan itu sekarang” jawab Alvic sekadarnya. Yah tentu saja, ayah tidak pernah membiarkanku tahu semua urusannya secara rinci.


“Orc sebelah barat? Bukannya mereka sekelompok Orc kecil, kenapa meminta bantuan pada kita? Lalu, terakhir kali mereka cukup takut dengan kita, kenapa tiba-tiba bisa begitu berani?” Tapi aku masih harus tahu kelanjutannya.


“Keadaannya sepertinya cukup terdesak, tuan muda. Bukankah keberanian muncul seperti itu?”


Empat hari setelah hari itu, Ayah dan beberapa pasukannya pergi menuju barat. Sebenarnya aku sempat bilang padanya untuk tidak ikut dan membiarkan panglima lain saja yang menyelesaikannya. Tapi Ayahku menolaknya dan memutuskan untuk ikut pergi.


“Apa anda khawatir, tuan muda?” tanya Alvic.


“Tidak juga, permintaan itu sebenarnya cukup aneh, tapi kita sama-sama tahu tentang ayahku. Pria dengan hati paling baik sekalipun dirinya adalah Demon. Alvic tolong laporkan padaku semua yang terjadi dalam perjalananya.”


“Baik, tuan muda.”


Seharusnya semuanya baik-baik saja, seharusnya tidak akan ada yang terjadi, ayahku juga pergi bersama dengan beberapa panglima yang kuat. Tapi, kenapa hal yang tidak pernah aku bayangkan malah terjadi.


Aku memacu kudaku dengan cepat diikuti dengan sekelompok pasukan Demon dibawah perintahku.


Sore ini, sebuah kabar buruk datang menghantui kastil kami. Ayahku dan pasukannya yang seharusnya sedang dalam perjalanan pulang tiba-tiba kehilangan kontak dengan kami. Burung pembawa pesan milik ayah juga tidak pernah sampai ke kastil.


“Tuan muda, di depan sana” Kata Alvic yang berkuda di depanku.


Sebuah desa Orc kecil, kami sampai tepat setelah matahari tenggelam. Keadaannya gelap, sunyi dan dingin. Di pintu desa kami turun dari kuda kami lalu masuk ke dalam dengan pencahayaan seadaaanya.


“Kenapa tenang sekali, apa tidak ada yang tinggal disini?” bisikku tipis.


“Tidak, tuan muda. Desa ini masih ditempati.”


“Ayo jalan lebih dalam lagi,”


Semakin kedalam suasanya semakin gelap dan dingin. Tanah yang kami pijak juga lembab, tapi lebih buruk lagi, kami mulai mencium bau darah yang begitu pekat.


AAAKHHHHH...


Salah seorang prajurit Demon berteriak histeris, menjatuhkan obor yang dipegangnya. Terduduk di tanah, menatap sebuah tumpukan yang tidak jelas bentuknya. Aku dan yang lainnya mendekat, dengan sihir milikku, aku menciptakan bola api yang melayang di segala tempat hingga sekitarnya diterangi oleh cahaya.


Namun, yang aku lihat bukanlah sesuatu yang aku harapkan. Tanah yang lembab itu, bukan karena air, melainkan darah. Suasana yang sunyi dan dingin itu bukan karena tidak ada yang tinggal disini, tapi karena mereka sudah mati.


Di depanku, setumpuk mayat segar yang darahnya masih mengalir ditumpuk menjadi gundukan. Lalu seseorang yang paling aku kenal juga ikut terbaring diatasnya dengan warna merah pada baju putih favoritnya.


“Panggil pasukan bantuan dan sisir seluruh area.”