
aku menatap wajah yang menurutku lumayan tampan, ya aku tau bahwa aku adalah majikannya tapi aku merasa segan karena aku lebih muda dari dia.
"hehe baiklah,kalau begitu izinkan aku memanggilmu kakak." kataku sambil tersenyum
"hahaha oke, setidaknya kita impas tuan." dia melihatku sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
"oh ya kira-kira tuan tak ada keinginan untuk menikah?" sungguh terkejut aku mendengar ucapannya, keringat yang awalnya mengalir pelan kini semakin deras membasahi tubuhku.
"ada sih kak cuman, apa ada wanita yang mau dengan pria homo sepertiku?" aku menunduk meratapi nasibku yang tak seindah orang lain bayangkan.
"hahaha tuan kok ngomong gitu, ya jelaslah ada. tidak semua wanita memandang rendah tuan, pasti ada seseorang yang mencintai tuan Dengan tulus."
kakak ini beda banget dengan kebanyakan orang yang aku jumpai, dia lebih cerdas dari yang terlihat.
terkadang seorang yang lebih rendah statusnya tapi, lebih tinggi pengetahuan, aku kagum dengan pria disampingku ini.
jujur aku sama sekali tidak suka dengan pria manapun, tugasku hanya melayani tapi tidak untuk mencintai mereka pria-pria gila itu.
tapi kali ini aku benar-benar kagum dengannya, aku merasa telah memiliki seorang kakak laki-laki yang hebat.
"tuan sebentar lagi kita akan sampai." katanya membuyarkan lamunanku
"oh ya??" mataku memandang secercah cahaya diujung hutan ini, apakah itu tempatnya?, tanyaku dalam hati.
"tuan, tempat itu sesungguhnya sangat menakutkan, tiada seorang pun yang berani kesana, kalau kita sudah masuk ruang lingkup mereka maka kita takkan bisa keluar."
"apakah seseram itu tempatnya?"
"iya, temanku pernah kesana tapi sampai sekarang tidak pernah kembali." dia berhenti sejenak untuk memberi jeda agar aku dapat mencerna ucapannya.
"tapi tuan tak perlu takut, insyaallah kita akan selamat." dia tersenyum meyakinkan, wajahnya yang teduh dan bersahaja,semakin manis ketika ia tersenyum seperti itu.
dia kembali tersenyum dan menjawab.
" insyaallah artinya dengan izin Allah, itu adalah ucapan ucapan umat Islam." dia menjelaskan ringkas tapi telah membuatku paham, ternyata dia Islam.
"apakah kakak telah menjadi seorang muslim sejak lahir?" tanyaku kembali seolah olah mengintrogasinya.
" kalau memang pertanyaanku terlalu pribadi tak apa kakak tak perlu menjawabnya" aku menunduk merasa malu dengan apa yang barusan kutanyakan.
"tuan saya akan menjawab nanti pertanyaan anda, sekarang waktunya kita untuk bertempur, perang telah didepan mata"
aku menoleh ke depan, dan melihat bangunan besar tepat berada di hadapanku.
kami berhenti agak jauh dari bangunan itu,
mengambil senapan dan peluru juga tas yang berisi uang dan mengantongi beberapa granat untuk berjaga-jaga.
setelah semuanya siap para prajurit ayah, berbaris sambil memegang senapan,wajah mereka tampak telah siap mati, aku salut lihat ayah hebat banget melatih para tentara nya.
"baiklah teman teman kita harus semangat, tetap bertahan sampai titik darah penghabisan, jangan mundur hingga mendapatkan perintah untuk mundur semangat..." kakak itu memberikan instruksi kepada bawahannya.
ternyata dia juga ikut dalam pertempuran ini, kukira dia bakal berada di mobil hingga kami tiba.
"baiklah mari kita berjalan perlahan jangan menimbulkan suara karena mereka mempunyai anjing penjaga, hal itu akan sangat berbahaya bagi kita."
"kita berpencar tim A mengepung dari Utara,tim B mengepung dari selatan,tim C mengepung dari timur, dan tim D dari barat..
siap semua,mari kita berangkat bismillah".