
akhirnya aku berhasil keluar dari tempat terkutuk yang aku tinggali, ku percepat langkah menuju bagasi dan mengambil motor pasti rose telah lama menunggu, aku harus cepat.
setelah helm terpasang dan jaket hitam terpakai aku langsung tancap gas menuju sebuah basecamp tempat aku dan rose bermain, kusalip beberapa mobil dan motor yang menghalangi jalanku.
aku sudah terbiasa membawa motor dengan kecepatan tinggi, basecamp itu lumayan jauh dari rumahku. ponsel yang berada disaku jaket terus berdering sejak sepuluh menit yang lalu, pasti telepon dari rose, semoga saja rose tidak kenapa kenapa disana.
setelah hampir satu jam berkendara di jalan raya akhirnya aku sampai juga, rose I coming
ku buka pintu basecamp tapi tidak ada siapapun disana.
"rose kamu dimana? please don't hide..ini gak lucu rose" ponselku kembali berdering aku langsung mengangkat telepon yang masuk.
ini telepon dari rose aku bersorak kegirangan tapi setiba diangkat ternyata bukan rose yang menelpon
"hai... perkenalkan aku gorge, kau pasti heran kenapa aku bisa menelponmu pakai ponsel kekasihmu hahahaha...aku akan berterus terang sekarang... kekasihmu sedang aku sekap kalau kau mau ia selamat maka kau bisa datang ke alamat ini dan membawa uang sebesar satu miliar, akan ku tunggu hingga tengah malam kalau kau tidak datang juga maka kau akan menerima potongan potongan tubuh kekasihmu!" terdengar suara perempuan yang berteriak tapi mulutnya ditutup, ku yakin itu pasti rose "dasar perempuan bodoh!!! diam kau!!!" makinya kepada sumber suara sepertinya dia menampar perempuan itu tamparannya terdengar begitu kuat.
seketika hatiku meringis, aku sangat marah ketika dia memperlakukan rose seperti itu.
"oh ya satu lagi, jangan membawa siapapun!!! kalau kau berani membawa bodyguard atau polisi maka aku akan langsung menembak kepalanya..." percakapan pun terputus aku sungguh geram, aku gak takut dengan mereka tapi yang aku takutkan adalah nyawa rose.
aku harus menyusun rencana, paman telah menempahku menjadi seorang lelaki yang hebat, aku telah dibekali ilmu bela diri sejak kecil setiap empat hari sekali guru bela diriku akan datang, aku juga diajari cara menggunakan pedang dan tak jarang pula aku selalu bermain main dengan pistol.
kupakai kembali helm yang tergantung di spion, lalu mengendarai motor keluar dari halaman basecamp kami, tujuanku kali ini adalah ATM aku akan mengambil uang tabunganku dan memberikannya ke penculik rose.
tapi aku takkan benar benar memberikannya hanya sebagai umpan, sepertinya mereka salah mengancam seseorang.
setelah mengambil sejumlah uang yang diinginkan penjahat itu, aku bergegas keluar dari ATM untuk menuju rumah pengawal atau kepala bodyguard paman, rumahnya tidak terlalu jauh dari lokasiku saat ini.
aku memanggil bodyguard paman dengan sebutan ayah karena beliau tidak mempunyai anak laki laki, dan beliau juga tidak menyukai laki laki seperti paman.
aku pernah bertanya kepada beliau kenapa bekerja dengan paman dan menjadi bodyguard nya, ayah lantas menjawab dia berhutang Budi dengan paman karena telah menyelamatkan keluarganya dari ancaman mafia, ayah angkatku adalah orang Jepang dan istrinya orang Arab.
beliau juga yang mengajarkan aku membaca, menulis dan berhitung, yang awalnya aku buta hurup kini mulai bisa membaca dan menulis juga berhitung walaupun tidak bersekolah seperti anak-anak lainnya, aku takkan pernah melupakan jasanya sampai kapanpun.
ku parkirkan motorku dihalaman luas ayah angkatku, dia akan langsung keluar kalau mendengar suara motorku.
benar saja yang ku bilang ayah berjalan keluar rumah dan berdiri di depan pintu sambil tersenyum, diusianya yang ke lima puluh tahun tapi dia tetap tegar dan kuat, ku Salami tangannya yang mulai keriput.
"sudah lama sekali kau tidak kemari.." kata ayah sambil memelukku lalu menuntunku masuk kedalam, anaknya cuman dua dan semuanya perempuan ketika pertama kali bertemu ayah, anaknya yang pertama masih berumur empat tahun dan yang kedua masih bayi.
aku sudah lama sekali tidak mengunjungi ayah, sekarang anaknya yang kedua sudah bersekolah.
"yeee kak Kevin datang..." namanya tasya, sekarang dia bertambah cantik aku hampir saja tidak mengenalinya dia berlari ke arahku.
lalu ku gendong dia dan meletakkannya diatas pundakku.
"sekarang Tasya semakin berat ya..."
"iyalah kak aku kan udah besar" cengirannya yang lucu menampilkan gigi depannya yang ompong.