I am a gay person

I am a gay person
penyekapan



"hmm udah besar sekarang, kakak kira masih kecil." kuturunkan dia di atas sofa.


"kak, kak silma Sekarang di Amerika.." katanya sambil mengupas sebuah coklat.


"oh ya...makin cantik gak?" ku elus rambut hitamnya.


"cantik... banget kak, kalau kakak sama kak silma kayaknya cocok deh" aku terkejut mendengar ucapan tasya.


apa benar aku cocok sama silma? gak mungkin lagian pun aku tak pernah bertemu dengannya.


sejak dia SMP, ayah menyruhnya untuk tinggal di Amerika dengan bibiknya.


sampai sekarang aku tak pernah bertemu dia apalagi berbicara dengannya.


aku datang ke rumah itu karena belajar dengan ayah, kalau ayah tak sempat mengajar maka aku tidak akan datang, kalaupun aku datang silma akan dikamar seharian tak mau keluar sampai aku pulang.


"kakak sama kak silma cocok? darimananya?." kucoba untuk memancing Tasya, lalu menanyakan kenapa silma tak pernah keluar kamar kalau aku datang.


"kakak tampan, kak silma cantik, kakak pintar dan kak silma juga pintar pokoknya kakak cocoklah sama kak silma, aku mau kakak nikah sama kak silma!" duh nih bocah ada ada aja.


tapi mengapa aku tak merasa senang dengan perkataannya apa mungkin karena hatiku masih terpaut dengan rose? tapi aku sungguh penasaran dengan 'silma adiba lee'.


"kakak kan belum tau.. kak silma itu gimana, jadi kayak mana kakak mau nikahi kak silma?"


"pokoknya kakak harus menikah dengan kak silma, aku gak mau tau." dilipatnya tangannya didada sambil mulutnya maju ke depan.


"hei hei ada apa ini?" mama datang dari dapur dengan membawakan beberapa gelas juga satu ceret kaca.


"Tasya kok ngomong kayak gitu sih, kita gak boleh maksa kak Kevin nikah sama kak silma belum tentu kak Kevinnya mau." mama memegang tangannya, tapi Tasya tetap membandel malahan dia langsung pergi kemar.


"Tasya..." kupanggil Tasya, ketika ingin bangkit menyusul tiba tiba mama menghalangiku lalu menggeleng.


"biar ibu saja Kevin, Tasya emang kayak gitu anaknya apapun kemauannya harus dituruti" ibu mengangkat punggungnya dan berjalan menyusul Tasya dikamar.


sumpah deh aku bingung dengan sikap wanita.


kadang merajok, kadang kebaikkan, kadang juga serba salah.


ku tuang perasaan jus jeruk yang di ceret, ke gelas langsung meneguknya habis.


"maklumin Tasya ya nak, dia emang seperti itu keras kepala, sama seperti mamanya" ayah duduk di sampingku sambil membuka sebungkus rokok dan menyulutnya ke mulut.


"gak apa-apa ayah namanya juga anak anak"


"oh ya kamu kemari ada keperluan apa?"


"hmm...begini yah, aku punya teman wanita, namanya rose, tadi sore kami buat rencana untuk jalan jalan, jadi kami berkumpul di basecamp tempat biasa kami bermain, saat aku udah sampai disana temanku malah gak ada di basecamp dan seseorang menelponku pakai ponsel rose dia bilang kalau dia menyekap rose disini.." aku menunjukkan alamat rose disekap.


"penjahat itu minta tebusan satu milyar, sebelum tengah malam aku Udah harus membawakan tebusan itu ke mereka, kalau tidak besok aku akan menerima potongan potongan tubuh rose, jadi aku kesini minta bantuan ayah, agar aku bisa membwa pulang temanku dengan selamat." wajah keriputnya tampak semakin berkerut, mungkin memikirkan jalan keluar dari masalah yang ku hadapi.


#maafkan aku ayah