I am a gay person

I am a gay person
hutan



aku menunggu jawaban ayah, kurasa dia masih berpikir bantuan apa yang harus ia berikan kepada anak angkatnya yang hobi menyusahkan dirinya.


"begini, bagaimana kalau kau masuk kedalam gedung tapi kau dikawal oleh anak buahku mereka akan menunggu diluar dan ketika kau telah mendapatkan temanmu kau bisa memencet tombol ini"


ayah memberiku sebuah cincin seperti batu akik tapi itu bukan batu betulan, itu adalah tombol kalau ditekan maka akan mengeluarkan suara yang hanya aku dan rekan rekan ku saja yang mendengarnya.


"Bob dan beberapa orang ini akan menjagamu, mereka akan bersembunyi ditempat aman menunggu perintahmu untuk menyerbu masuk, mereka juga telah dibekali ilmu beladiri juga keahlian dalam bersenjata, kau juga harus membawa senjata bisa jadi penjahat itu hanya menipu lalu menembakmu" kulihat seorang pria berotot besar dan kawan kawannya.


semua anak buah ayah bertubuh kekar, aku jadi kepingin seperti itu mempunyai badan yang sispek.


aku mengangguk mendengar perintah ayah, lalu kami ke gudang bawah tanah, gudang itu sangat besar dan ada beberapa ruangan didalamnya, kami menuju keruangan yang dipenuhi dengan senjata.


"silahkan kau pilih mana yang berguna untukmu disana."


aku memilih senjata Laras panjang lalu mengambil beberapa butir granat, aku juga mengambil pistol untuk berjaga-jaga.


setelah kami selesai memilih senjata lantas kami diajak untuk keruangan satu lagi yang berisi berbagai tas, sepatu, baju, dan celana tapi semua itu untuk keperluan disaat genting dan darurat seperti ini.


aku memilih celana yang mirip dengan celana tentara, kaos berwarna hitam juga rompi anti peluru, lalu sepatu PDH boot dan memakai topi yang juga berwarna hitam ditambah kacamata hitam, lalu mengambil tas ransel hitam dan memasukkan semua barangku kedalamnya.


kurasa aku semakin bertambah besar dengan penampilan seperti ini, ayah memperhatikanku dengan senyuman lebarnya.


"kau sangat tampan kevin aku bangga padamu, kau sangat mirip dengan ibumu.."ayah menghapus air matanya.


"apa yah?" kataku memperjelas pendengaranku yang agak samar, kurasa ayah tadi menyebut ibu


aku mulai menghilangkan pertanyaanku barusan lalu tersenyum kepada ayah, belakangan aku baru mengetahui sesuatu yang disembunyikan orang orang dariku.


kami berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan dihalaman Rumah, mobil kami berjenis panjang seperti truk tapi Tidak terlalu tinggi, mobil itu juga didesain dengan fitur yang sangat spektakuler didalamnya terdapat AC, tv, dan alat alat yang tidak aku mengerti selain itu mobil kami juga otomatis dia bisa berjalan sendiri dengan diberi tau tujuan yang akan dituju.


aku duduk disamping supir tak lupa pula aku membawa uang yang diperlukan, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


hari mulai gelap tapi, inilah yang kami tunggu tunggu agar kami dapat bersembunyi, ayah memberikan kami sebuah alat yang kami pasangkan ke telinga agar kami dapat mendengar percakapan satu sama lain.


lokasi penyekapan rose sangat jauh, melewati hutan yang rimbun, karena hari mulai malam jadi banyak hewan hewan malam yang berkeliaran, seekor kelelawar menabrak kaca depan mobil kami aku terkejut karena belum pernah mengalami situasi setegang ini.


hutan ini sangat panjang dan gelap, tak tau mengapa nyaliku jadi ciut melihat kondisi pertempuran kami seperti ini.


"tuan anda tenang saja, kami sudah terbiasa dengan ini." kata sopir yang membawa kami ke lokasi.


"kamu sudah terbiasa tapi aku belum..." dia tertawa mungkin dia menganggapku masih kecil.


sebenarnya sih emang masih kecil tapi apakah pantas orang sepertiku yang sudah mengetahui segala macam hal disebut anak kecil? kurasa tidak.


"kami pernah mengalami situasi yang lebih parah dari ini tuan" orang disampingku ini yang usianya jelas jelas lebih tua dariku malah memanggilku tuan, aku merasa risih dengan panggilannya.


"tolong jangan panggil aku tuan, usiaku masih lima belas tahun panggil saja aku Kevin" aku tersenyum kepadanya.


"tak mungkin saya memanggil anda Kevin, anda adalah majikan saya dan saya harus menghormati majikan." dia membalas senyuman.