
oh tuhan bismillah itu apalagi?, tapi mengapa hatiku tenang mendengar ucapan kakak itu ya.
"tuan, anda ingin disini saja? kalau anda capek, istirahatlah sebentar dimobil. aku akan memberikan uang itu kepadanya."
"ti..tidak kak aku baik baik saja kok" ku renggangkan tanganku agar terlihat sehat.
"oh oke, mari berangkat tuan" dia berjalan didepan, jalan ini tertutupi rumput, daun kering dan juga ranting pohon aku kesulitan untuk bergerak bahkan hampir terjatuh.
"tuan hati hati, soalnya disini banyak jebakan." ya ampun jebakan apa? tidak, aku tak boleh gentar walaupun ada jurang didepan sana aku harus melewatinya.
kami terus berjalan, ranting ranting pohon ini sangat menggangu aku kehilangan konsentrasi karenanya.
ketika aku sibuk untuk menghindari ranting itu tiba-tiba kakiku menginjak sebuah tali, dan akhirnya aku tersangkut di atas.
shit..!
aku menghela nafas, berusaha untuk tetap tenang.
kakak sopir itu melihat kearahku yang tersangkut dengan keadaan kaki terikat sebelah keatas.
dia hampir saja tertawa karena melihat kondisiku yang mengenaskan.
kepalaku pusing karena darahku sekarang menumpuk di kepala.
"hey apa yang kau lakukan diatas sana?" suaranya seperti berbisik tapi aku tetap mendengarnya, sambil berjalan mendekatiku.
"gak lucu tau.." ku lipat tangan didada sambil memasang tampang merajuk.
"haha iya iya maaf, kakak cuma becanda kok" dia memanjat pohon dimana aku tersangkut, dengan perlahan dia menuju kearahku lalu membuka ikatan tali dipohon itu.
dia tetap diatas menurunkan aku perlahan lahan dari pohon, setelah agak dekat berada di tanah dia melepaskan pegangannya dari tali itu.
aku panik bingung harus bagaimana, kakak sopir itu tetap berada diatas, dia menyuruhku untuk bersembunyi.
aku langsung berlari perlahan bersembunyi di balik pohon besar, degup jantung dan helaan nafas yang memburu membuat dadaku sesak.
aku membuang nafas perlahan dan menghirupnya kembali, aku benar-benar rebutan oksigen dengan pohon.
aku ingin cepat cepat lari dari hutan ini, sesak nafas ini membuatku lemas dan terduduk lesu, aku tak sanggup bangkit.
dengan sisa tenaga yang ku punya ku beranikan diri untuk melihat para penjahat itu dari balik pohon, tampaknya mereka mencari cari sumber suara.
tapi usaha mereka tak membuahkan hasil, seteliti apapun mereka tetap takkan menemukan orang yang menimbulkan suara, kecuali mereka menyisir setiap jengkal hutan ini.
tapi itu mustahil mereka lakukan, hutan ini terlalu luas untuk mereka apalagi kami, karena tak menemukan apapun mereka akhirnya kembali lagi ke rumah itu.
kulirik jam yang melingkar ditangan, ternyata sudah pukul delapan sudah hampir satu jam kami berada di hutan ini.
aku mencoba untuk bangkit dari jongkok, ku sandarkan badan dipohon tapi penglihatanku mulai kabur dan buram kepala pun pusing aku tak sanggup berdiri.
kakak sopir itu menuruni pohon yang ia panjat lalu berjalan menghampiriku, yang sudah tak sanggup untuk berdiri dan membebaskan rose bersamanya.
ketika melihat ku tak berdaya dia lantas mempercepat langkahnya, aku tak sanggup menahan berat badanku.
penglihatan pun semakin memburuk, kakak itu tampak khawatir tapi aku senang melihatnya berarti dia menyayangiku.
kakiku lemas tak kuat menopang berat badan, aku pun terjatuh diatas rerumputan, disisa sisa pendengaranku aku mendengar kakak sopir memanggil namaku
"Kevin bertahanlah.."
"Allah bersamamu.."