
dorrr...
suara tembakan terdengar jelas dari kamar orang tuaku,pergaduhan orang tuaku yang terjadi akhir-akhir ini begitu mencekam.
tak jarang aku kenak imbasnya,kala itu aku seorang anak yang berusia 7 tahun harus menderita karena orang tuanya.
malam itu menjadi malam yang paling suram dalam hidupku, setelah mendengar suara tembakan.
aku lantas berlari menuruni anak tangga menuju kamar orang tuaku.
rumah itu kosong sunyi tak ada siapapun,aku membuka pintu kamar papa dan mama, terlihat mama menahan sakit, akibat perutnya tertembak tak ada papa disitu, sepertinya dia telah kabur.
aku memeluk mama bayangan akan kematian kembali menghantuiku, sambil memegang pipiku mama berkata" Kevin anakku....kau anak yang cerdas... jadilah orang yang mandiri nak...dan sopanlah kepada yang lebih tua darimu, mama takkan hidup lebih lama" disitu air mataku berderai aku tak sanggup melihat mama menderita, aku menangis bukan karena kata katanya karena aku memang tidak paham apa yang dia maksud kala itu.
mama kembali melanjutkan perkataannya setelah terdiam agak lama" nak..mama ada simpanan uang untukmu...ta..Tapi..kau boleh mengambilnya ketika kau telah dewasa..uhuk..uhuk.." darah muncrat dari mulutnya, tangan mama memberikan sesuatu kepadaku benda itu panjang dan di ujungnya terdapat kunci, benda itu juga berwarna perak dan terbuat dari besi.
"simpanlah ini nak...ketika kau besar,kau boleh melihatnya...suatu hal yang berharga berada disini..." setelah mengatakan itu mama menghembuskan nafas terakhirnya.
aku pun berteriak memohon agar mama kembali, aku gak mau tinggal sebatang kara, aku ingin mama hidup lagi...
menangis telah menjadi makanan sehari hariku.
aku menangis karena ketakutan dan tekanan batin, tapi aku berjanji bahwa tangisan ini adalah tangisan terakhirku.
ku pandangi benda yang ada ditanganku lalu mengantonginya.
anak usia tujuh tahun telah menjadi dewasa sebelum waktunya.
seperti kata mama aku harus mandiri karena sekarang aku hidup sendiri.
ku hapus air mataku lalu bangkit dari tempat duduk, untuk terakhir kalinya kulihat mama yang terbujur kaku dilantai.
aku tak ingin kembali bersedih,ku ingat mama waktu itu pernah memasukkan baju bajunya kedalam tas lalu menggendongku keluar rumah untuk menghindari papa.
dari situ aku belajar dan mengikuti tindakan mama waktu itu aku berlari kekamarku yang ada diatas mengambil tas dan menyusuni barang barang yang ku perlukan, setelah selesai aku menuruni anak tangga dan berjalan keluar rumah, sebelum sampai diluar tiba-tiba ponsel mama berdering, aku kembali masuk dan mengambil ponsel itu, mama selalu membiarkanku mengotak atik ponselnya, jadi aku paham apa yang harus kulakukan ketika ada panggilan masuk.
ku geser tombol hijau dan terdengar suara seorang laki-laki, dia berkata bahwa dia akan menjemput ku jadi aku harus tunggu dirumah sampai dia datang.
awalnya aku bingung bagaimana dia tau bahwa yang mengangkat telepon adalah aku, setahun kemudian baru aku mengetahui alasannya.
karena mama telah menelponnya lebih dahulu sebelum kematian menjemput mama.
selang beberapa menit orang yang menelponku tadi datang dengan mengendarai mobil, lalu menggendongku menuju mobilnya.
sesampainya di mobil orang itu mengatakan bahwa dirinya adalah pamanku,aku tak menanggapi perkataannya.
akhirnya kami sampai dirumah paman,dia membukakan pintu mobil untukku keluar.
menuntun tanganku menuju rumahnya, rumah itu sangat besar malahan lebih besar dari rumahku.
"sekarang ini adalah rumahmu Kevin,dan anggaplah paman sebagai orang tuamu" seperti biasa aku hanya diam, menatapnya sebentar lalu kembali fokus kefikiranku.
kematian mama membuatku menjadi anak yang pendiam, aku tak banyak bicara kecuali untuk sesuatu yang perlu ku bicarakan,aku hidup dalam keterpurukan.
masa depan ku serasa hancur mimpi yang ingin aku nyatakan serasa adalah sebuah jalan menuju neraka, mengapa hidup ini tak adil padaku.
aku duduk termenung di tempat tidur, meratapi nasibku aku mulai berfikir apa sebaiknya aku juga mati, mama anak mu bukan anak yang kuat hatiku sebenarnya rapuh ma, didepanmu aku tak sanggup menangis tapi sebenarnya aku ingin meangis sambil berteriak ma.
mengapa kau pergi terlalu cepat,aku membutuhkanmu aku terlalu kecil untuk menerima kenyataan ini.
aku menangis, berharap mama ada di sampingku lalu menghapus air mataku,aku telah mengingkari janjiku ma, janji yang barusan ku buat.
ku pandangi bulan yang bersinar terang diluar jendela, bulan itu seakan berbicara kepadaku "sekarang kau sendiri Kevin.. carilah sesuatu yang bisa menemanimu karena kau butuh itu"
teman, ya aku butuh teman tapi siapa yang mau jadi temanku? oh Tuhan beri aku seseorang yang mampu meredam kesepian ku.
tiba tiba paman datang ke kamarku,dia membawa segelas susu dan selembar roti.
" kamu pasti lapar,makanlah." aku sama sekali tak meliriknya hanya fokus kepada bulan yang indah diluar jendala besar di kamarku, lalu dia duduk disebelahku dan ikutan menatap bulan yang sedang bersinar di langit.
"aku tau bagaimana rasanya tidak punya orang tua,usiaku 5 tahun ketika orang tuaku meninggal.aku dan ibumu hidup di panti asuhan sampai aku berusia 16 tahun, di usia yang ke 17 aku kabur dari panti dan hidup dijalanan. ibumu diasuh oleh orang tua angkatnya aku dan ibumu terpisah hampir 12 tahun, kala itu aku benar benar tidak mengenalinya ketika kami bertemu."
dia diam seolah memberi jeda,untuk ku mencerna maksudnya "orang menganggap anak jalanan itu adalah anak yang nakal.
tapi, menurutku anak jalanan itu adalah anak yang istimewa karena kami dititpkan tuhan untuk menguji kesabaran dan pendapat orang lain.
aku makan dari hasil mencuri Dengan teman teman ku, hidup kami bagaikan hewan siapa yang cepat maka dia dapat."
aku mulai berfikir kalau paman adalah penjahat, seorang yang tak ingin mengalah dan egois tapi aku tak bisa menyimpulkan bahwa paman benar benar penjahat karena aku tidak punya bukti, tapi delapan tahun kemudian aku bisa membuktikannya bahwa pendapat ku itu benar adanya, dia adalah panjahat pemangsa anak laki-laki dan perempuan untuk menghasilkan uang.
"tidur lah Kevin ini sudah larut malam,esok kau harus bangun pagi." dia mengangkat tubuhku dan meletakkannya diatas tempat tidur lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhku, dan sebelum pergi paman mengecup keningku lalu mengucapkan "kau sangat tampan kevin,semoga kau adalah keberuntunganku" ucapannya yang kala itu tidak aku mengerti telah menjadi petaka bagiku kini, dia tersenyum seakan ingin menelanku senyumannya begitu terpaksa.
ku miringkan tubuh ku kearah jendela kembali menatap sang peri langit.
bulan..apakah aku akan menjadi kebanggaannya atau kebanggaan mama??