I am a gay person

I am a gay person
rose Calista



aku bingung harus pergi kemana ini bukan kota ku dan aku tak tau apa yang harus kulakukan, kutelusuri setiap jalan dan aku selalu bertanya kepada orang orang tentang jalan yang aku lewati.


pertama kalinya aku pergi sendirian biasanya selalu bersama mama dengan mengendarai mobil, kupikir aku harus memenangkan diri dan tujuanku kali ini adalah pantai tapi dimana pantai dikota ini? aku terus mengendarai sepeda, sambil memperhatikan sekitar.


tiba tiba aku melihat seorang gadis kecil dengan rambut dikucir dua duduk dipinggir terotoar jalan tampaknya dia menangis, aku tidak tega melihat seorang yang menangis.


ku parkirkan sepedaku ditepi jalan dan menghampiri gadis itu.


ketika dia melihatku dia langsung menghapus air matanya dan menunduk, aku duduk disampingnya tapi tetap menjaga jarak agar kami tak merasa Canggung.


aku tak tahu harus ngomong apa tapi hatiku mengatakan bujuk dan tanyakan apa masalahnya.


kuberanikan diri untuk bertanya "hai, kamu kenapa?" dia hanya diam tidak merespon sapaanku malah dia semakin menundukkan wajahnya, aku jadi malu kenapa aku bisa senekat ini.


"maaf kalau aku mengganggu, tapi izinkan aku memperkenalkan diri" kuulurkan tangan untuk bersalaman dengannya tapi, dia hanya memandang tanganku lalu kembali menunduk tingkahnya membuatku semakin malu.


kutarik kembali tanganku lalu menyebutkan namaku "namaku Kevin richard, umurku 7 tahun, kamu namanya siapa??" awalnya dia tetap membisu tapi akhirnya dia bicara juga


"aku rose Calista ...aku berumur 6 tahun" setelah mengatakan itu dia diam kembali.


kufikir karena aku pria jadi aku harus memulai dahulu percakapan dengannya


"kamu tinggal dimana?" dia hanya menunjuk kearah selatan kurasa dia orangnya pemalu jadi tidak benyak bicara.


"dimana orang tuamu? dan kenapa kau menangis? sepertinya aku bisa membantumu, kalau kau mau menceritakan masalahmu" ku ukir senyum terindahku, hanya orang orang tertentu yang mendapatkannya, dia memandangku sebentar lalu menunduk kembali.


"ibu...menyuruhku untuk sekolah...tapi aku tidak mau ke sekolah.." kulihat mata indah itu kembali meneteskan cairan bening.


ku elus lembut kepalanya kulihat dia masih terus menangis, "kata mamaku kalau kita sedih, menangislah kalau bisa sambil berteriak maka semua amarah kita akan hilang, dan tempat yang paling bagus untuk melakukan itu adalah pantai"


dia memperhatikanku seolah-olah aku adalah seorang guru yang sedang menjelaskan materi pembelajaran.


oh tuhan kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? apa yang sedang aku alami? duh aku jadi salah tingkah, kulihat matanya yang biru, bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda juga kulitnya yang putih, kecantikannya sangat alami dan natural.


kurasa dia bolos sekolah tapi apa yang menyebabkannya tidak mau ke sekolah?


"hmm boleh aku bertanya sesuatu?" kupandangi wajah imutnya dia menoleh sekejap lalu menangguk.


"mengapa kau tidak mau pergi ke sekolah? kurasa kau memakai seragamnya apakah kau membolos?" pertanyaanku mungkin terlalu ribet untuk dijawab, seharusnya aku menunggunya tenang tapi aku malah menyerbunya dengan pertanyaan yang mungkin gak penting.


"aku..selalu menjadi bahan Bulian kawan sekelasku...mereka mengejekku sebagai anak tukang roti dan anak haram....mereka selalu memanggilku dengan nama orang tuaku...mereka menarik rambutku dan mengambil bekal yang dibawakan ibuku, mereka juga merampok uang saku yang diberikan ayahku...aku selalu kelaparan saat siang hari...makanya aku tak ingin kesekolah..."dia terdiam.


aku mencermati setiap perkataannya wajahnya yang polos tak mungkin berbohong.


"mengapa kau tidak memberitahu orang tua mu? atau guru guru yang ada di sekolahmu?" yang tadinya dia selalu menundukkan kepala kini dia mulai bisa berinteraksi dengan normal kepadaku.


"aku akan dipukuli oleh ibuku kalau aku selalu berkeluh kesah,dan guru tidak akan peduli dengan pengaduanku...aku pernah, mengadukan mereka tapi wali kelas tidak open malah mengatakan kalau aku yang salah selalu menyendiri dan tidak mau bergabung dengan teman teman..."


ternyata bukan aku saja yang mengalami ketidak adilan dalam hidup, tapi gadis ini juga mengalaminya ku genggam tangannya.


"kau boleh menceritakan semua masalah mu kepadaku, aku akan menjadi pendengar setiamu, aku akan peduli dengan pengaduanmu dan aku juga tidak akan marah jika kau berkeluh kesah, aku mau menjadi temanmu ketika yang lain tidak ingin menemanimu."


dia menatapku penuh haru, air matanya kembali mengalir membasahi pipi mulusnya, tanpa dikomandoi dia langsung memelukku dan menumpahkan seluruh tangisnya.


"terimakasih kak, aku sangat bersyukur bertemu dengan orang seperti kakak aku akan membalas Budi baik kakak" dia terus menangis.


haaaa sekarang aku punya adik perempuan rasanya ingin tertawa tapi kutahan karena tak ingin menghilangkan kebahagiaan adik baruku ini, kubalas pelukannya sambil mengelus rambutnya yang pirang.


dik..kakak takkan melupakan kejadian ini, dan kakak berharap kau juga tidak akan melupakannya.


pagi itu aku sudah berhasil membuat seorang makhluk tuhan bahagia dan aku juga merasa bahagia.


kutatap langit biru awan disana seakan tersenyum kepadaku.