
itulah perkenalan pertama ku dengan rose.
dahulu kami sangat dekat seakan tak ingin dipisahkan kemanapun kami selalu bersama kecuali saat aku dirumah dan ketika aku menjalani pekerjaanku.
dia akan setia menungguku hingga selesai, lepas tuh kami akan menjelajahi kota yang awalnya ku anggap seperti neraka.
aku bahagia bersamanya dan ku rasa dia juga seperti itu, persahabatan kami renggang ketika rasa sahabatku berubah menjadi cinta, harus kuakui dari pertama bertemu aku sudah jatuh cinta kepadanya.
tapi aku bisa mengontrol rasa itu sehingga kami bisa berteman sampai lama ketika aku mulai beranjak dewasa aku sungguh tak tahu kenapa aku bisa melakukan hal itu kepada seorang yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri.
sungguh bodohnya aku, aku sangat menyesal seandainya waktu dapat diputar kembali aku akan menjadi kakak yang baik kepada adiknya.
seminggu setelah kejadian itu rose pamit untuk melanjutkan studinya dijerman aku berharap bisa bertemu dengannya kembali, rose Calista...🖤
Â
kami mengendarai sepeda masing masing untuk pergi ke pantai,rose berada didepan sedangkan aku dibelakangnya dan kadang kami bersejajaran.
Â
aku sangat senang berteman dengannya ternyata dia anak yang baik, cerdas dan humoris dia juga tidak seperti yang aku fikirkan bahwa dia pendiam, baru satu hari kami bersama dia sudah banyak cakap dan rewel.
aku selalu memperhatikan setiap gerak geriknya ekspresinya yang lucu selalu berhasil membuatku tertawa, aku banyak mengetahui tentang kota ini dari rose.
setiap pagi, sebelum aku dipaksa paman untuk bekerja kami selalu pergi naik sepeda kemanapun kami mau.
biasanya dalam seminggu rose hanya 3 hari masuk sekolah dan selebihnya dia habiskan waktu paginya hingga petang dengan bersepeda bersamaku.
aku tak pernah keluar kamar, makanan sudah disiapkan paman didepan pintu sebelum dia pergi ke kafenya, kamar mandi juga berada di dalam dan baju bajuku dicucikan oleh pembantunya, setiap 2 hari sekali pembantu akan datang mengambil pakaian kotorku.
"kak..oo kak" suara lembut rose mengagetkanku
" iya iya ada apa rose?"
"melamun aja sih, kita udah Sampek nih" ya ampun udah Sampek ternyata.
laut biru terhampar dihadapan kami burung camar terbang rendah di atas laut, oh tuhan sungguh indah ciptaanmu.
" gimana kak, cantikkan? aku sealu senang melihat laut, ketika masih kecil ibu dan ayah akan membawaku seminggu sekali ke laut ketika perekonomian keluarga kami masih membaik".
angin sepoi menghancurkan tatanan poni rose sesekali dia akan merapikan kembali poninya, aku lucu melihat rose repot dengan urusan rambut.
" kesana yuk kak.." dia menarik tanganku ketepi pantai kami membuka sepatu beserta kaos kaki yang kami pakai dan kami berlarian diatas buih buih yang terdampar, sesekali kami mencari kerang yang kosong untuk dikoleksi.
setelah capek bermain kami duduk disalah satu pondok.
suara rose memecah keheningan dengan mengatakan sesuatu yang mampu membuatku gugup setengah mati.
" kak, aku senang deh bisa bersama kakak kayak gini" seketika wajahku memerah mendengar penuturan rose dia tersenyum manis kepadaku lalu memalingkan kembali wajahnya kelaut.
" ini pertama kalinya aku punya teman, aku gak nyangka memiliki teman itu menyenangkan." mata birunya sama persis seperti laut yang dia tatap.
kami goyangkan kaki kecil kami sambil saling bercengkrama pagi itu rasanya sangat singkat tak terasa sudah petang langit jingga menampilkan fenomena yang ingin dilihat setiap mata manusia.