I am a gay person

I am a gay person
tempat jahanam



pagi itu burung burung berkicau di pohon Pinus, langit cerah dan awan berarak disana bagaikan sebuah gelombang laut yang menyapu lembut kaki kaki yang berlarian di tepi pantai.


matahari telah terbit satu jam yang lalu menyirami wajahku yang tidak mempunyai semangat untuk memulai hidup baru.


perutku mulai demo meminta diisi dengan makanan, sebenarnya aku tidak ingin kemana mana walau hanya untuk sepotong roti.


kuturunkan kaki dan memakai sendal yang berada di bawah lalu berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya, sesampainya di anak tangga pertama aku mendengar suara seseorang yang tertawa kecil dan seperti berbisik-bisik instingku mengatakan bahwa aku harus melihat apa yang membuatku penasaran.


tapi naluriku berkata untuk tidak melihat sesuatu yang aku belum mengetahui secara pasti apa yang ada disana.


sesungguhnya aku sangat ingin tau, perlahan aku menuruni anak tangga agar tak menimbulkan suara ketika telah sampai di pertengahan tangga kuintip dari balik tiang terlihatlah paman dengan seorang pria mereka tidak mengenakan pakaian walau hanya selembar kain, mereka bergulat di atas sofa diruang tamu paman temannya yang berada di bawah paman tertawa kegirangan ketika paman menyentuh alat kelaminnya.


peman melihatku dan tersenyum, aku langsung naik ke atas kembali ke kamar buru buru mengunci pintu aku sangat ketakutan seolah berada di dalam labiran.


kakiku lemas tak sanggup menahan beban tubuhku aku pun terduduk lesu di belakang pintu.


"ma...aku takut, mama dimana?? temani aku sebentar ma" tanpa sadar air mataku mengalir perlahan kepipi, ku letakkan kepala pada kedua tangan yang sudah berada diatas lutut dan menangis sejadi-jadinya kuluapkan seluruh emosi yang membara di hatiku dengan tangisan.


aku berusaha untuk bangkit dan menuju tas yang kubawa tadi malam lalu mengeluarkan buku harian yang tak pernah ku tinggalkan sejak umurku enam tahun, dibuku itu kutulis semua kejadian yang aku alami.


aku juga akan menulis kejadian kejadian yang ada dirumah ini, dan inilah cerita pertama ku tentang rumah ini.


mulailah ku ukir garisan garisan dari pena ke buku itu semua keluhan dan prasangka hatiku kutulis lewat sebuah gambar yang aku sendiri tidak mengetahui maksud dari gambar itu.


rasa laparku telah hilang sekarang malah timbul rasa ingin tahu yang sangat besar, aku teringat bahwa aku masih menyimpan ponsel mama ku ambil ponsel itu dari dalam tas dan menghidupkannya terpampang jelas Photo diriku dan mama dilayar ponsel aku jadi semakin merindukannya.


kudekap ponsel itu lalu mematikannya kembali dan memasukkannya ke dalam tas, buku harian dan pena juga kumasukkan.


kulihat jendela besar di sana sepertinya aku bisa kabur dari jendela itu, ku ambil kain yang ada dilemari pakaian lalu mengikat ujung ke ujung kain kain itu, setelah panjang ku kaitkan ujung kain ke kaki tempat tidur lalu mengulurkan ujung lainnya keluar jendela.


ku ambil tas ranselku memakainya lalu menuruni kain dengan perlahan, sebenarnya aku tidak berniat untuk kabur tapi aku hanya ingin jalan-jalan sebentar.


ku lihat sepeda yang tersandar di tembok, sepeda itu cukup tinggi sehingga aku harus hati hati memakainya.