
Budaya Tapanuli Selatan banyak dipengaruhi dan didominasi oleh suku Batak. Tapanuli Selatan di Kabupaten Sumatera Utara merupakan wilayah yang cukup luas. Ibu kota Tapanuli Selatan yaitu Sipirok berbatasan dengan Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Di sekeliling Tapanuli Selatan tampak bukit-bukit yang merupakan bagian dari Bukit Barisan.
Mata pencaharian masyarakat di Tapanuli Selatan sebagian besar sebagai petani dan berkebun. Kopi, kakao, karet, kelapa dan kemiri menjadi komoditi utama dari Tapanuli Selatan.
Budaya Tapanuli Selatan yang Masih Dilestarikan
Nusantara memiliki budaya beraneka ragam sesuai dengan suku-suku yang berbeda di setiap pulau di Indonesia. Budaya yang telah ada sejak jaman nenek moyang tersebut sebagian besar masih dilestarikan hingga kini. Salah satu budaya dan adat istiadat yang masih dilestarikan berada di daerah Tapanuli Selatan.
Didominasi oleh suku Batak, budaya di Tapanuli Selatan mempunyai ciri khas tersendiri. Tetapi sebagian besar masyarakat Tapanuli Selatan beragama Islam sehingga nuansa keislaman sangat terasa. Saat acara pernikahan atau prosesi adat lainnya akan sangat terasa nilai yang terkandung dalam agama Islam.
Berikut adat dan budaya Tapanuli Selatan dalam acara pernikahan.
Adat ini wajib dilakukan dalam memilih pasangan hidup sebelum dilakukan acara pernikahan. Pihak keluarga lelaki menyelidiki asal usul gadis yang akan dilamar agar tidak keliru memilih pasangan hidup. Setelah dipastikan belum ada yang melamar kemudian dilakukan pertemuan dan musyawarah. Waktu melamar, jumlah mas kawin dan hantaran lamaran dibahas dalam musyawarah tersebut.
Mangalehan Mangan
Sebelum menuju ke acara pernikahan maka orang tua dari pihak gadis wajib melepas putrinya dengan memberikan suapan. Budaya Tapanuli Selatan ini sebagai simbol pengasuhan terakhir dari orang tua kepada putrinya yang akan menjadi mempelai pengantin. Acara ini hanya dilakukan oleh pihak mempelai perempuan saja.
Mangalap Boru
Pihak mempelai lelaki beserta keluarganya datang ke kediaman mempelai perempuan yang dipimpin oleh ketua adat. Mas kawin beserta hantaran lamaran dibawa untuk diserahkan kepada pihak mempelai perempuan. Rombongan mempelai pria melakukan acara ketuk pintu dengan mengucapkan salam. Setelah diterima barulah dilakukan acara yang sakral yaitu ijab kabul. Pakaian adat baru dipakai setelah acara ijab kabul selesai dan sah menjadi suami isteri.
Mangolat Boru
Orang tua mempelai perempuan menyerahkan putrinya untuk dibawa oleh suaminya. Namun ketika akan keluar dari pintu rumah akan dihadang oleh sepupu mempelai perempuan untuk meminta sogokan berupa uang. Acara ini biasanya akan mengundang gelak tawa dan hanya menjadi simbol belaka. Kedua mempelai pengantin harus meminum air kelapa dari sepupu agar selama perjalanan tidak kehausan.
Gondang
Mempelai perempuan yang telah tiba di rumah mempelai pria akan disambut oleh tarian Tor-Tor. Pengantin perempuan diharuskan menginjak tumbuhan bersifat dingin seperti batang pisang sebelum memasuki pintu rumah. Untuk melepaskan dahaga selama perjalanan yang jauh diberikan air toli-toli yang segera diminum kedua mempelai.
Tidak hanya acara perkawinan saja yang masih dilestarikan sampai saat ini. Masih ada acara-acara adat Tapanuli Selatan yang masih berlangsung. Umumnya upacara adat di Tapanuli Selatan dimulai sejak di masa mengandung, melahirkan, menyapih, pengobatan penyakit, mencegah malapetaka dan upacara kematian.
Budaya Tapanuli Selatan harus terus dilestarikan meskipun telah berada di jaman yang serba modern. Adat istiadat dan budaya Nusantara tidak boleh punah sebagai simbol kekayaan budaya Indonesia. Siapa lagi yang akan melestarikan budaya bangsa kalau bukan generasi muda sebagai penerus.