
Setelah melihat Muthia menghilang di balik pintu rumahnya sendiri, Angkasa segera menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Menatap jauh ke arah pintu rumah Muthia yang berwarna coklat kayu. Dia membayangkan gadis itu langsung melimbungkan tubuhnya ke ambal yang ada di ruangan depannya.
Tadi dia sempat bercerita, bahwa ritual itu selalu terjadi. Seolah, penghilang penat pertama adalah ambal tebal berwarna merah tua yang menyapu kulitnya dengan lembut. Bantal besar dengan isi bulu angsa dengan pelindung bulu halus dengan warna senada dengan ambalnya, yang memang disediakannya di sana.
Ada sekelebat pikiran yang membayangi Angkasa. Dia ingin bercinta dengan gadis itu di sana. Bukan di rumahnya atau tempat yang ditinggalinya. Karena hal itu berarti, Muthia yang mengundangnya. Muthia menginginkannya.
Angkasa menggelengkan kepalanya beberapa kali membayangkan pikirannya. Tersenyum dan mengembuskan napas panjang.
Tidak semudah itu.
Bukan hanya karena gadis itu sulit untuk dibujuk memenuhi hasratnya. Tidak berpengalaman atau kuat menjaga prinsipnya. Lebih dari itu, entah mengapa, Angkasa ingin melakukannya dengan cara benar. Diinginkan dengan kuat. Tanpa paksaan.
Dia pun kemudian masuk dan menutup pintunya. Berbalik dan terdiam sejenak memandangi ruang tamunya yang sepi. Matanya lama menatap ke arah sofa. Mengenang kembali saat Muthia menciumnya.
Tentu saja ciumannya bukan sesuatu yang melonjakan gairahnya. Tapi entah mengapa, dadanya malah berdebar keras. Seperti merasakan ciuman pertama kali, saat ciuman itu sendiri masih begitu misteri dan penuh rasa penasaran. Manis, sekaligus memabukan.
Jatuh cinta lagi memang tidak begitu buruk. Jika memang perasaan ini karena merasakan cinta.
Kemudian dia disentakkan oleh alarm pikirannya. Telepon Vanesa.
Angkasa gusar. Perpindahan pikiran ini tidak begitu menyenangkannya. Bahkan langkahnya menuju kamar terlihat kasar. Dia ingin mengabaikan pikiran untuk menyalakan kembali ponselnya. Saat ini dia hanya membutuhkan Muthia dalam pikirannya, karena hal itu membuatnya lapang dan senang. Tapi ….
Sambil mengeram, Angkasa meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Menghempaskan tubuhnya dengan duduk di pinggir ranjang. Ponsel digenggamnya erat dengan kedua tangan, kemudian menopangkan di bawah dagu. Dia menimbang. Tidak ingin mengetahui kabar yang dibawa Vanesa, tapi juga takut jika teleponnya itu karena ada kabar penting.
Angkasa menyugar rambutnya beberapa kali. Pikirannya fokus ke arah dinding kamar. Masih gamang untuk menghancurkan bayangan Muthia dari pikirannya, dan mengalihkannya pada Vanesa.
Ini selalu membuat hatinya kacau.
Udara yang dihirupnya tiba-tiba saja membuat paru-parunya seakan tertusuk-tusuk, saat jempolnya menekan tombol on. Dia menggaruk pelipis dan menutupkan jari ke mulut saat menunggu loading ponsel ke layar menu.
Bunyi notice pesan masuk beruntun terdengar. Baik dari Whatsapp ataupun SMS.
Jari Angkasa langsung menekan ikon Whatsapp. Melihat lima panggilan video tak terjawab dari nomor Vanesa. Membaca pesan terakhir dari wanita itu dan hanya melirik sekilas pesan yang ada di atasnya.
Vanesa: Telpon aku ketika nomormu sudah aktif lagi
Angkasa membutuhkan waktu beberapa saat untuk memulihkan dirinya. Menyadari energi kemarahan yang terdapat dari kalimat yang dituliskan Vanesa. Meski tanpa emoticon. Meski tanpa tanda seru. Lelaki itu yakin, setiap kata yang tertera di pesan terakhir Vanesa dipenuhi kejengkelan.
Tapi hal ini malah tidak lantas membuat Angkasa segera melakukan apa yang diperintahkan ibu dari anaknya itu. Dia malah merebahkan tubuhnya dengan tangan terentang. Memandang langit-langit kamar yang berwarna putih dengan lampu LED dengan bentuk umum.
Dia berusaha untuk mengosongkan pikirannya. Setidaknya, sebelum dia memiliki keyakinan penuh untuk menjawab semua pertanyaan Vanesa, ia sudah mampu menetralisir pikirannya dari bayang-bayang Muthia. Dari pembicaraan mereka yang terasa mulai terbuka. Dari kedekatan mereka. Dari balasan rayuan yang coba dilancarkan Muthia untuk menanggapi godaannya. Terutama dari ciuman manis yang bisa saja meleburkannya.
Kehangatan bergelung dalam dada Angkasa. Bahkan tanpa ada sosok gadis itu di depannya, hanya dengan membayangkannya saja, perasaan itu membuncah dirinya.
Ah, saat ini bukankah dia harus menghilangkan sejenak Muthia dari ingatannya?
Merasa frustasi, Angkasa kembali bangkit dan duduk tegak. Mengusap wajahnya beberapa kali untuk kemudian memandang tajam ke arah layar handphone yang berwarna kelam.
Menunda untuk menelpon akan semakin membuatnya gusar.
Dengan embusan napas berat dan panjang, dia kembali menyalakan ponselnya. Menekan icon telepon yang berada di bagian atas layar dengan latar hijau. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya terdengar suara di seberang sana.
"Kamu sekarang aneh, Ang," cecar Vanesa langsung. "Tidak biasa kamu mematikan teleponmu saat aku menelpon."
Ada nada jengkel dan amarah tertahan yang ditangkap Angkasa. Membuat semangatnya perlahan menurun dan merasakan lelah.
Saat ini dia benar-benar tidak ingin merusak suasana hatinya sendiri.
"Aku lagi ada meeting dengan pemilik toko Nesa." Tentu saja itu bohong. Tapi kebohongan pasti terdengar meyakinkan. Belum lagi suaranya terdengar berat seakan begitu kelelahan. Dan rasa lelah itu memang benar dia rasakan saat ini. "Gak enak pertemuan pertama malah disibukan dengan hal lain."
"Benar itu alasannya?" selidik Vanesa. "Bukan karena kamu sedang bersama seorang wanita, kan?"
Vanesa tidak menjawab. Kebisuan terjadi beberapa saat. Memberikan Angkasa waktu untuk mengatur emosinya kembali.
"Sebenarnya ada apa kamu menghubungiku, Nesa?" Suara Angkasa memecahkan keheningan. "Ada masalah di kantor?" tanya Angkasa lagi dengan suara lembut.
Vanesa terkekeh. "Kamu membuatku seolah-olah terlihat seperti seorang wanita yang hanya datang pada saat butuh," kata Vanesa getir.
Sebelah alis Angkasa terangkat. Seakan gadis yang sedang menelponnya itu dapat melihatnya. Namun dia tidak mengucapkan apa-apa untuk membantah ataupun membenarkan. Mereka berdua sama-sama tahu, memang benar begitu adanya.
Hanya ada dua alasan Vanesa akan menelpon dengan begitu intens dan disertai emosi. Satu karena terjadi sesuatu pada anak mereka, Bima. Dua, karena ada yang membuat Vanesa jengkel dengan pekerjaan atau relasi kerjanya. Selebihnya, wanita itu cukup pengertian atau mengindahkannya. Sibuk dengan karirnya sendiri
"Oke, you right." Helaan napas panjang tertangkap telinga Angkasa. Satu hal yang disukai Angkasa dari Vanesa, dia tidak malu mengakui kebenaran tentang diri. Walaupun itu sebuah kesalahan. "Aku memang tidak adil padamu. Maaf."
"Apa maaf berguna, jika kamu tau hal itu akan terulang lagi?" Angkasa tertawa kecil. Mencairkan suasana. "Aku sudah terbiasa dengan sikapmu ini, Nesa. Aku bilang begitu bukan karena ingin menyindir. Biar basa-basinya dilewati saja dan kamu bisa langsung menumpahkan kekesalanmu."
"You know me so well, Ang," ujar Vanesa dan tertawa lirih. Emosinya di awal tadi sudah menghilang. "Sebuah anugrah kamu hadir di hidupku."
Angkasa mengetuk-ngetukan jarinya di lutut. Matanya bergerak tidak fokus. Dia merasa tidak nyaman mendengar pernyataan Vanesa.
Angkasa tersentak. Bukan, bukan karena ia merasa tersanjung dengan pujian itu. Tapi dia menyadari, kata-kata itu biasa saja. Tak menimbulkan efek apa-apa di hatinya. Tidak membuat hatinya merasa hangat dan bersemangat. Tidak seperti dulu.
"So, katakan keluhanmu, Nes." Angkasa mengalihkan pembicaraan. "Apa yang mengusikmu?"
"Tidak ada," sambar Vanesa langsung.
"Maksudmu?"
"Seriusan, perasaanku saat ini fine aja." Vanesa terdengar bersemangat. "Tadinya aku menelpon karena ingin ngasih kabar bahagia, tapi malah kamu matikan." Vanesa membuat intonasi suaranya seakan merajuk. "Bulan depan aku dapat cuti. Aku sama Bima akan mengunjungimu."
Mulut Angkasa membulat. Sendi dan buku-buku jarinya seakan melemas. Mulutnya terkatup rapat dengan lidah yang terasa kaku.
"Ang, kamu masih di sana, kan?" panggil Vanesa setelah beberapa menit tak terdengar apapun dari Angkasa. "Ang …."
Ini kacau.
Angkasa merasakan kelopak matanya terasa berat saat dia mencoba menutupnya. Bahkan, kelopak itu seakan bergerak perlahan dan lambat. Seakan ada beban berat di atasnya. Saraf-saraf otaknya juga tak kalah mendukung. Seperti saling menjalin dan menggumpal semraut. Hatinya kalut.
"Ang …." jerit Vanesa. Membuat lelaki itu harus mengumpulkan kesadaran secepatnya.
"Ini akan menyenangkan, Nes."
Sampah. Mulutnya benar-benar tidak menyingkronkan diri dengan pikiran dan hatinya. Bagaimana bisa dia mengucapkan hal itu disaat semuanya akan menjadi kacau. Ia menjanjikan pada Muthia mampu mendapatkan hati gadis itu. Setelah itu apa? Selang beberapa hari akan langsung mematahkan hati gadis itu.
"Aku tau, Ang," pekik Vanesa gembira. "Bahkan Bima sangat tidak sabar ingin bertemu kamu. We miss you, Ang."
Udara yang dihirup Angkasa kini tidak bersahabat. Dari mulai masuk di hidungnya hingga berpangkal pada paru-parunya, rasanya mengalir sakit. Bahkan kepalanya merasakan nyeri yang entah bersumber di mana. Tapi dia tetap memijat-mijat dahi di dekat keningnya.
"Kabari saja jika rencana ini jadi, Nes," kata Angkasa lemah. "Aku juga kangen kalian."
"Oke, nanti kita lanjut lagi. Kamu juga pasti udah capek" Angkasa bersyukur pembicaraan ini akan berakhir. Ia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk terus melanjutkannya. Pikirannya benar-benar kusut sekarang. "Good night."
"Good night."
Handphone di tangan Angkasa meluncur begitu saja saat panggilan Vanesa terhenti. Dicobanya untuk menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kuat. Beberapa kali. Walau tak ada kelegaan yang didapatnya.
Frustasi. Dia mengusap wajahnya berulang-ulang. Meremas rambutnya kuat dengan kedua tangannya.
Ini semua benar-benar diluar dugaan. Oughh!