How To Get You

How To Get You
Episode 29



Ada desakan gairah yang susah digambarkan Muthia saat ia berdiri di depan pintu kantor. Dadanya menggebu dan berdebar tidak karuan. Ada perasaan gugup dan juga senang bercampur di sana. Beberapa kali ia berusaha mengulum senyum untuk pikirannya yang melompat-lompat, membayangkan wajah Angkasa.


Ini aneh. Pagi ini dimulai dengan perasaan melow yang tak terhindarkan saat pertemuan dengan papanya. Namun, saat ia harus menapaki jalan menuju kantor, perasaan itu berubah dengan cepat. Berganti degup-degup lembut yang tetap mampu menggetarkan hatinya. 


Benar-benar dia tidak menyangka, bosnya itu memberikan suasana berbeda tentang cerita hidupnya. Setidaknya, hal ini sudah lama tidak dirasakannya. Entah sudah berapa tahun. Muthia sendiri sudah lupa. Pokoknya, saat ia mulai menjeratkan diri pada cinta El yang tak mampu didapatnya seutuhnya. Walau melepasnya pun gadis itu tak sanggup. Jadi, cinta itu tetap digenggam meskipun bagai bara. 


Yah, cinta memang rumit. Sering Muthia berdalih seperti itu.


Dan Angkasa membawa warna lagi pada hatinya yang sudah mulai suram. Muthia masih meyakini ini bukan cinta, tapi memang chemistry itu sendiri ada. 


 "Pagi," sapa orang di belakang Muthia.


Muthia mengenali suara itu. Suara yang membuat hatinya kebat-kebit sepagian ini. 


"Ngapain bengong di pintu? Gak masuk?" Angkasa sudah berdiri di sampingnya. Memegang handle pintu dan memandang gadis itu dengan senyuman lebar.


Hati Muthia seakan terlonjak begitu saja tanpa bisa dicegah. Dia tidak menyangka, Angkasa bisa memberikan pengaruh seperti itu pada dirinya. Muthia menelengkan kepalanya dan menatap lelaki itu bengong. Lidahnya tiba-tiba mengaku.


Entah mengapa hari ini Angkasa seperti memancarkan cahaya kemilau di mata Muthia. Tidak, matahari tidak menerpa wajah lelaki itu. Bahkan, kantor hanya kebagian cahaya matahari di sore saja. Tapi, sinar yang kini melingkupi tubuh lelaki itu menghangatkan hati Muthia. Membuat ujung-ujung saraf gadis itu seperti menggelitik perut. Tidak nyaman, sekaligus melenakan. Apa karena kacamata yang bertengger di hidungnya? Diam Muthia, kacamata itu hanya aksesoris. Akui saja dia memang cakep.


"Hei." Angkasa menjentikan jari di depan wajah Muthia. "Masuk?"


Muthia gelagapan dan sedikit tersentak. Dia merasakan di balik kulit pipinya terasa panas.


Crap.


"Mbak, Muthia, jangan melamun, woy." 


Angkasa menggeser pintu kantor sehingga terbuka. Melambaikan tangannya agar Nita masuk duluan.


"Di sini banyak hantunya, lho, Mbak," ujar Nita sambil melangkah masuk. "Ntar kesambet."


Dengan mengembuskan napas kecil, Muthia hanya bisa tersenyum. Berpaling kembali ke arah Angkasa yang memberi kode kepalanya agar ia mengikuti Nita.


Seharusnya mata Muthia tidak boleh nakal sedari pagi. Seharusnya, saat ia menatap Angkasa, matanya hanya terpaut pada wajah lelaki itu saja, bukan malah langsung menatap bibir lelaki itu. Jadinya, jantungnya semakin berdegup saja.


Memerintah dirinya, Muthia melangkah kakinya masuk dengan kepala tertunduk. Tidak ingin Angkasa dapat membaca debarannya dari bola matanya.


"Aku seganteng itu, ya, pagi ini sampai kamu bengong begitu," bisik Angkasa. Jantung Muthia rasanya mau melorot. "Atau kamu ingin mengulangi ciuman tadi malam?"


Kesal dan malu, Muthia mempercepat langkahnya. 


"Aku bisa menunggumu di kantor, jika kamu ingin memberikan kecupan selamat pagi." Suara Angkasa masih dengan berbisik. Menggoda. Rupanya dia mensejajari langkah Muthia.


Mulut Muthia mengatup rapat. Didongakannya kepalanya ke arah Angkasa dengan mata melotot. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum dan terkekeh. Berjalan mendahului Muthia yang menghentikan gerak kakinya. 


Galak mata Muthia belum diredupkannya hingga Angkasa menghilang dari pandangannya setelah masuk melalui pintu khusus karyawan. Namun setelah itu dia langsung bernapas lega. Melemaskan ototnya dengan gerakan samar. 


Iya. Muthia memang menegang beberapa saat. Bernapas pun rasanya tidak leluasa.


____


Hai, kalau suka tinggalkan komen, ya