How To Get You

How To Get You
Episode 19



Saat Muthia melangkah masuk, ia berusaha untuk berjalan dengan tegak. Walaupun tanpa senyum, ia berusaha bersikap ramah pada Angkasa yang mengawasi geraknya. Berjalan dan menghempaskan tubuhnya di samping lelaki itu. Merebut remote yang berada di genggaman Angkasa dan mengganti channel tanpa permisi. 


Channel yang dipilih Muthia adalah sinetron Azab. Suatu pilihan diluar dugaan Angkasa untuk ditonton. Yah, walaupun ia dia tidak tidak pernah sama sekali melihat dengan detail sinetron tersebut, namun dari meme yang bertebaran di media sosial tentang acara ini dan komentar yang menjelekkan, ia yakin acara ini dipastikan absurd. Lagian, dia memang tidak mengikuti acara sinetron manapun, baik dalam maupun luar negeri. Ia lebih menyukai film sekali tonton langsung tuntas dan tidak membutuhkan banyak waktu.


“Aku tidak ingin tivi di rumahku,” kata Muthia tiba-tiba, “tapi aku suka nonton di luar. Di warung tempat aku makan, di rumah Jun, di rumah ayahku, di mana saja selain di rumahku sendiri. Melihat acara yang ringan dan tidak terlalu berat untuk dipikirkan.”


“Ayahmu di mana?”


Muthia tertegun sejenak. Matanya mengerjap.


“Katanya kamu lapar?” Muthia mengalihkan pembicaraan tanpa diduga Angkasa. Gadis itu seperti memaksakan senyumnya. “Kalau aku mandi sebentar, boleh gak? Aku janji, bakal balik ke sini. Tapi kalau kamu mau makan duluan, boleh kok.”


“AKu tunggu kamu,” ucap Angkasa.


Muthia mengangguk dan menyandang tasnya. Langsung melangkah pergi tanpa berbalik lagi.


Lima belas menit kemudian Muthia kembali. Matanya tampak kuyu namun wajahnya sudah terlihat segar. 


Saat dia mengajak Angkasa untuk mulai menyantap makanan yang ada, suaranya sudah kembali normal seperti biasa. Bahkan tingkahnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dia berusaha ceria dan berkomentar pada tontonan yang ada. Dia juga tertawa terbahak-bahak, disaat Angkasa yakin, lawakan yang dihadirkan di acara tersebut garing. Angkasa berani bertaruh, itu bukan humor yang disukai Muthia.


Gadis itu seakan mencoba switch kepribadian agar tidak diketahui kesedihannya. Ia sedang bertingkah palsu.


Seharusnya Muthia tidak perlu melakukan hal itu. Walaupun Angkasa tidak menyukai wanita yang penuh drama, tapi saat melihat kekosongan di mata gadis yang disukainya ini, ia merasa gusar dan gelisah. Lagipula, toh ia sudah mengetahui kalau ada sesuatu yang membuat Muthia sedih. 


Muthia mengabaikan pertanyaan Angkasa. Dia pura-pura sibuk mengganti-ganti channel televisi.


“Mut?” Angkasa mencoba menarik perhatian Muthia dengan menarik remote yang ada di tangannya. Tangannya menggenggam erat jemari Muthia. Dan meskipun suasana di sekitar mereka saat ini terasa muram, namun sengatan dari pertemuan jemari mereka berdua membuat jantung Angkasa berpacu cepat. 


“Lelaki itu lagi?” selidik Angkasa saat sekian menit tak ada jawaban dari Muthia. “Aku tidak akan melepaskan tanganmu kalau kamu tidak memberitahuku,” ancam Angkasa saat tangan Muthia menggeliat ingin melepaskan diri.


“Bukan,” jawab Muthia akhirnya pasrah. “Hanya masalah keluarga.”


Angkasa memberikan tatapan tidak percaya, namun saat dia menatap mata Muthia tak ada kebohongan di sana. Perlahan ia pun melonggarkan kepalan tangannya, hingga melepaskan seluruhnya.


“Kamu tidak apa-apa?”


Muthia hanya mengangguk lemah. 


“Apa kamu mau cerita apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Angkasa hati-hati.


Muthia hanya menggeleng. Kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Tatapannya seakan menerawang, menembus dinding-dinding yang ada.


“Bisakah kita hanya berdiam dan menonton saja?” cetus Muthia tiba-tiba. Memecahkan kekakuan yang terjadi.


Walaupun Muthia tidak sedang memperhatikannya, Angkasa mengangguk patuh. Ia memberanikan diri menarik bahu Muthia perlahan dan merebahkan kepala gadis itu di dadanya. Untung saja, tak ada perlawanan. Bahkan, Muthia menggeliat mencari posisi yang nyaman untuknya.