How To Get You

How To Get You
Episode 28



"Bagaimana kondisi Papa sekarang?" tanya Muthia sambil memijit kaki lelaki yang tersandar di kepala ranjang.


Dia terlihat lelah, Muthia tahu. Tapi dia tetap tersenyum dan memandang gadis itu dengan lembut.


Pagi ini, dia sengaja pulang ke rumah papanya untuk menengok keadaannya. Sore kemarin, setelah dinyatakan bisa untuk rawat jalan, lelaki yang separuh rambutnya sudah mulai hilang itu sudah bisa dibawa pulang. Walaupun tentu saja sebagian karena paksaan, karena papanya tidak suka berada di rumah sakit. 


"Papa baik-baik saja," jawab Papa Muthia dengan suara nyaris tersengal. "Istirahat beberapa hari, juga pasti kuat lagi buat jalan-jalan. Kalian saja yang terlalu panik membawa Papa ke rumah sakit."


"Gak usah berpura-pura sehat, Pa," gerutu Muthia. Dia menghentikan pijatannya dan memandang lelaki itu dengan tatapan sendu. "Ini sudah kedua kalinya Papa pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ini bukan perkara main-main."


"Kalau gitu, kamu pulang dan rawat Papa." 


"Papa tau, itu gak mungkin." Suara Muthia serak. Mencoba menahan rasa sakit dan sedih secara bersamaan. "Selama wanita itu ada di sini."


"Dia ibumu juga Mut," ujar Papa Muthia lelah. Setiap helaan napasnya diikuti oleh bahunya yang terangkat berat, seolah menahan berkilogram beban. "Dan dia sudah meminta maaf atas kesalahannya."


"Dia istri Papa, bukan ibuku." Muthia membuang pandangannya. Berusaha menyembunyikan kebenciannya walau itu percuma. "Aku juga tidak akan pernah memaafkan saat dia mengkhianati Papa."


Papa Muthia terpekur. Menatap kosong pada seprai yang menggumpal di samping kirinya. 


"Papa sudah memaafkannya, Mut," ujar lelaki itu lemah. "Kenapa kamu tidak bisa?"


"Tidak mungkin, Pa," sergah Muthia. Suaranya sedikit meninggi. "Rasa sakit Papa tidak mungkin hilang hanya karena memaafkan. Malah, bisa jadi hal itu yang membuat Papa sakit-sakitan seperti ini."


Papa Muthia terkekeh. Memperbaiki duduknya dan menegakan punggung. "Ini faktor usia, Mut. Tidak ada hubungannya dengan permasalahan lalu." Lelaki itu lalu mengusap-usap pahanya. "Papa ini sudah tua. Sudah lewat 60 tahun. Ya, wajar sakit-sakitan."


Muthia ingin menyanggah pernyataan Papanya, namun diurungkannya. Dia membungkam mulutnya kuat, kemudian menggigit lidahnya. Dia menarik napas dalam beberapa kali.


"Tidak ada yang bisa menyembuhkan sakitnya diselingkuhi, Pa," kata Muthia lemah. "Aku tau rasanya."


"Tinggalkan lelaki itu, Mut." Lelaki dengan kantong mata tebal itu membelokan pembicaraan yang membuat Muthia terhenyak. Seharusnya ini bukan tentangnya. "Cari lelaki yang bisa membuatmu bahagia."


"Kita tidak sedang bicara tentang aku, Pa," elak Muthia. Kembali memijat kaki lelaki yang begitu dihormatinya. Menyembunyikan rasa gundahnya. 


"Papa ingin melihatmu bahagia."


"Aku tidak selalu bersedih, Pa." Muthia mengerjapkan mata beberapa kali. Berusaha menahan cairan yang bergerombol di pelupuk matanya tiba-tiba. "Aku bahagia dengan cara hidupku sekarang."


"Papa tau kamu perempuan mandiri," kata Papa Muthia bijak. "Tapi tetap saja, kamu akan membutuhkan cinta untuk bersandar. Dan lelaki itu bukan sandaran yang baik."


"Tante Ana juga bukan perempuan baik." Tak seharusnya Muthia menyerang balik nasehat papanya. Muthia sadar itu. "Tapi tetap saja Papa tidak melepaskannya setelah mengetahui dia bermain cinta dengan lelaki lain. Mungkin ini turunan gen."


Wajah Papanya langsung murung. Terlihat lelah dan jauh lebih tua.


"Ada adikmu yang jadi pertimbangan." Papa Muthia mendesah berat. Matanya menerawang menatap dinding kamar, seolah ada gambaran masa lalu bermain di sana. "Mungkin, karena Papa juga tidak bisa memberikan yang terbaik untuk ibumu itu. Dia masih muda ketika Papa menikah dengannya. Kebutuhan jasmani tidak bisa Papa berikan sempurna."


"Seharusnya dia menyadari hal itu dulu, ketika dia menerima lamaran Papa." Muthia memberengut.


Jika ingat kejadian sepuluh tahun lalu, hatinya masih saja bergejolak. Hubungannya dulu pun, sempat renggang dengan Papanya. 


Setahun setelah kepergian mamanya menghadap Tuhan, Papanya minta ijin untuk menikah lagi. Bagi Muthia hal itu terlalu cepat, dan tentu saja ia menolaknya. Saat itu juga, gadis itu sedang kuliah di luar kota. Meninggalkan satu orang adik perempuannya yang masih berumur sepuluh tahun, Marina. Papanya waktu itu sudah berusia 55 tahun saat menikah lagi. 


Tanpa putus asa, Papanya meminta ijin Muthia walaupun sebenarnya lelaki itu tahu, kalau itu tidak perlu. Namun ia tetap melakukannya. 


Berbagai alasan dikemukakan agar anak sulungnya itu mau memberi lampu hijau untuk hubungan yang baru.


Saat akhirnya Muthia memberikan kode 'oke' untuk pernikahan papanya yang baru, pertimbangan Muthia adalah agar wanita itu mampu merawat lelaki yang dikasihinya itu dengan baik. Bisa menjadi sandaran saat kesepian dan meringankan beban hatinya. Seorang pendamping akan bisa menjadi semangat hidup yang baru.


Saat itu, pikirannya terbuka bahwa pernikahan papanya untuk kedua kalinya bisa menjadi solusi. Adiknya yang masih kecil juga akan ada yang memberikan kasih sayang yang pantas. Kasih sayang dari seorang ibu, bukan hanya seorang kakak perempuan yang hanya bisa diajaknya ngobrol melalui telepon.


Setelah menikah, walau hubungan Muthia dan Ana tidak bisa dikatakan baik, tapi tak ada masalah yang terjadi. Mereka hanya bicara sekedarnya, melalui telepon. Itupun karena papanya yang memanggil istri barunya untuk bicara dan tak pernah lebih dari lima menit. Marina pun tak punya keluhan apapun pada ibu sambung mereka.


Saat Muthia pulang pada saat liburan, tak ada pembicaraan berarti yang pernah terjadi di antara mereka berdua. Hanya bicara seperlunya. Muthia memang membangun tembok. Tapi dia masih menghormati wanita itu. Selama yang nampak di penglihatan gadis itu, keluarganya harmonis. Papanya bahagia, adiknya bahagia. Bahkan, mereka mendapatkan adik baru di usia Ana yang sudah tidak muda lagi. Setelah satu tahun pernikahan papanya.


Semuanya berlangsung normal dan harmonis hingga akhirnya Muthia lulus, kembali ke keluarga, mendapatkan pekerjaan, berganti pekerjaan, hingga di awal-awal ia bekerja di Fast Kredit.


Semuanya berawal dari desas-desus bahwa Ana beberapa kali kepergok oleh tetangga bersama dengan seorang pemuda di cafe yang berbeda-beda. Saat itu mulai terdengar telinga Muthia, papanya dan Ana baru merayakan anniversary ke-5. Tidak mau langsung percaya, gadis itu lebih memilih untuk mengabaikan. Hingga akhirnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Pertama hingga ketiga kalinya Muthia mendapati Ana bersama dengan lelaki berkacamata yang usianya seperti jauh berbeda dengan wanita itu, gadis itu berusaha berpikir positif. Meski tanya banyak menghinggapinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut saat tak sengaja melihat untuk keempat kalinya mereka bersama.


Tuhan mungkin berbaik hati padanya dan memperlihat kebusukan yang sedang ditutupi oleh istri papanya. Semuanya terjadi tanpa disengaja. 


Saat itu Muthia sedang memproses kredit salah satu konsumennya yang bekerja di Hotel Sanggam, salah satu resepsionis di sana. Ketika semua berkas sudah ditandatangani oleh konsumennya itu dan ia bersiap untuk pergi, saat itulah gadis itu menangkap sosok ayu wajah Ana. Menggandeng mesra lelaki yang beberapa kali kedapatan Muthia bersama ibunya itu. 


Muthia menunggu hingga mereka benar-benar masuk ke sebuah kamar dengan perasaan marah luar biasa. Setelah menunggu beberapa saat hingga pintu kamar tertutup, ia tidak tahan melepaskan murkanya. Menggedor pintu kamar hotel dan mendapati Ana sudah membuka baju bagian atasnya saat pintu dibuka.


"Pelacur!"


Muthia tidak pernah menyemburkan kata sekasar itu pada siapapun. Bahkan pada wanita yang memang memiliki profesi itu. Ia mengenal beberapa orang dan pekerjaan mereka bukan urusannya. Tapi Ana yang saat itu memandanginya dengan wajah pucat, ia merasa pantas untuk disebut begitu. Ia tak peduli jika kata-kata umpatannya menimbulkan dosa. Wanita itu pantas mendapatkannya karena telah menghianati papanya. 


Oh, Papa. 


"Kak Tiaaa." Suara teriakan terdengar dari belakang Muthia disertai pelukan erat di lehernya. Ada bibir mungil yang menciumi pipinya dengan kuat. Membuat gadis itu terkikik geli, sekaligus mengembalikannya ke masa sekarang.


"Halo, jagoan Tia," kata Muthia dan membuat tubuh anak kecil yang mengenakan seragam merah putih, terduduk di pangkuannya. Gadis itu menggelitiki perut anak itu hingga tawanya memenuhi seisi kamar.


"Ampun. Ampun." Anak lelaki itu berusaha menghadang serangan tangan Muthia.


"Kak Tia mau antar Radith sekolah?" tanya Anak itu dengan mata berbinar. Ujung kelopak matanya yang sedikit menurun, mewarisi bentuk kelopak papanya. 


Muthia mengangguk dengan senyum lebar. "Radith sudah siap?"


Radith langsung berdiri dan membenarkan bajunya. Mengangguk mantap memandang Muthia. "Siap."


Muthia mengacak rambut Radit yang langsung dirapikan anak itu lagi dengan tangannya. Wajahnya yang tadi semringah langsung cemberut.


"Radith, dah rapi, Kak Tia," rutuk Radith, "jangan diacak-acak lagi rambutnya."


Jiwa usil Muthia muncul. Dia memajukan tangannya kembali ke arah kepala Radith. Namun anak itu langsung menghindar dan setengah melompat ke samping papanya. Mencium tangan lelaki paruh baya itu takzim dan mengecup pipinya. 


"Radith berangkat sekolah dulu, Papa," katanya. "Kak Tia cepat ya. Radith tunggu di luar." 


Sepeninggal Radith, Muthia memandangi papanya yang menatapnya dengan sendu. Dia mengerti dengan tatapan itu. Tapi Muthia tidak ingin membahas El saat ini. Membicarakan tentang Angkasa pun, bukan waktu yang tepat. Hubungan mereka baru saja terjalin. Dan entah, mau dibawa kemana hubungan mereka nanti. Atau, malah berujung pada kesadaran dirinya lagi bahwa, hal mustahil berpaling dari El. Seperti yang sudah beberapa kali dia coba.


"Muthia pergi dulu, Pa." Muthia mencium tangan papanya. 


"Mut, tinggalkan El," anjur Papa Muthia dengan suara dalam. "Jangan terjebak pada cinta semu. Cintamu hanya bertepuk sebelah tangan, Sayang."


Muthia hanya memasang wajah datar, kemudian berbalik dan langsung bangkit berdiri. Berjalan tanpa menoleh lagi pada papanya yang terus mengawasinya.


Hatinya serasa diremas. Dia selalu ingin marah dan berteriak pada siapapun yang mengatakan hal seperti itu. Dulu ia akan menjawab dengan ketus dan menyerang balik. Tapi sudah beberapa tahun ini ia lelah melakukannya. 


Bukan karena rasa cintanya berkurang. Tapi karena dia sudah tak sanggup bertarung dan meyakinkan dirinya sendiri kalau semua itu bohong.