How To Get You

How To Get You
Episode 4



Muthia melihat seorang Ibu memakai jilbab orange sedang duduk di hadapan meja pelayanan kantor. Dia tampak sedang asyik menandatangani berkas putih aplikasi pengajuan kredit. Di depannya, seorang lelaki berambut keriting dengan tubuh kurus dan mengenakan seragam merah Fast Kredit dengan logo kuning biru di bagian dadanya, sedang menunjuk ke beberapa bagian form aplikasi kredit.


Dia baru saja sampai dan memarkirkan motornya kemudian berjalan memasuki kantor. Jam memang baru menunjukan pukul 4 sore, sengaja dia datang ke kantor lebih cepat satu jam sebelum jam pulang karena punya janji dengan konsumennya. Dia juga hanya ingin duduk saja di ruang tunggu kantor yang biasa digunakan para konsumen untuk menunggu giliran pembayaran kredit. Setidaknya ruang tunggu itu adem karena AC, sedang diluar cuaca begitu panas.


Sebenarnya Muthia hanya ingin melewati saja mereka berdua, mengambil air di pantry dan kembali lagi ke ruang tunggu. Matanya melihat sekilas ke arah Ibu itu dan merasa mengenalinya, namun tak pernah sampai ke pikirannya di mana pernah melihat wanita itu. Langkah Muthia sudah hampir terlewati ketika lengannya disentuh dengan pelan.


“Mba Muthia,” panggil Ibu itu dengan ramah. Langkah Muthia terhenti. Berbalik dan memandangi Ibu itu dengan tersenyum ramah.


“Akhirnya Mba datang juga,” lanjut Ibu itu. “Tadi saya sudah berniat menunggu Mba, tapi kata Mas ini, Mba gak bisa datang. Jadi dia mau bantu. Katanya proses kreditnya sama saja, sama dia atau sama mba.”


Muthia tertegun namun bibirnya tetap mengembangkan senyum. Kemudian pandangannya dialihkannya kepada lelaki yang berada di depannya. Memandangnya dengan sorot mata tajam. Rahangnya terkatup rapat. Lelaki di depannya berusaha untuk menghindari pandangannya dari Muthia. Berpura-pura sibuk dengan kertas yang berada di tangannya. Sebelum dia kembali mengarahkan pandangannya kembali kepada Ibu itu, dia sempat melihat lelaki yang lebih muda empat tahun di depannya itu mencoret sesuatu.


“Iya Bu. Pengajuan kredit Ibu masih tetap diproses kok, tidak masalah siapa yang mengurusnya.” Suara Muthia terdengar lembut, begitu berbeda dengan hatinya yang bergemuruh. “Ibu jadi ngambil iPhone 7-nya?”


“Syukurlah.” Ibu itu terdengar lega. Tidak memahami situasi janggal yang sedang terjadi. “Iya, jadi. Masnya sudah saya kasih tau angsuran bulanan yang sudah Mba Muthia hitungkan.”


“Oke, Ibu lanjut ya, saya masuk dulu. Haus.”


Ibu itu tertawa renyah dan mempersilahkan Muthia berlalu.


Langkah Muthia cepat menuju ke arah pantry. Dia langsung membuka lemari es, mengambil botol minuman warna hijau yang bertuliskan namanya. Menegak isinya dengan beberapa kali teguk.


Lebih dari separuh isi botol minuman yang berukuran 600 ml itu telah berpindah ke perutnya. Diletakannya dengan kasar botol itu di atas meja. Tangan kanannya tegak di atas meja, sedang tangan kirinya mengacak pinggang. Dia sedang berusaha menenangkan amarahnya. Kemarahan benar-benar terpancar dari sorot matanya. Nafasnya memburu dengan dada yang turun naik dengan cepat.


Muthia mendengar suara langkah kaki berirama di lorong. Segera dia keluar dari pantry dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Berdiri di tengah-tengah lorong dan mendapati Randi terdiam memandangnya.


Hentakan kaki Muthia berat dan kasar. Dia maju dengan dorongan amarah yang mengitari auranya. Matanya melotot tajam. Tak membiarkan pandangannya lepas sedikitpun dari Randi.


Ah, mungkin hawa kebencian itu membuat Randi mengkerut. Tubuhnya kini sudah tersandar ke dinding dengan Muthia yang berada di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa senti saja lagi, bahkan dia dapat merasa dengusan nafas Muthia menyapa dagunya.


“Aku hanya membantumu, Mut.” Randi mengangkat tangannya yang memegang kertas aplikasi kredit. Membuatnya terlihat oleh mata Muthia. “Di situ tertulis marketingnya namamu.”


Muthi yang ingin menyemburkan amarahnya, menahan diri dan merebut kertas dari tangan Randi. Matanya menelusuri setiap tulisan yang ada hingga pandangannya terhenti di sudut kanan bawah. Di kolom nama marketing tertulis namanya, Muthiara Anggraini. Tapi tunggu, sebelum namanya tertulis, sudah ada coretan tebal di atas dua kata. Goretannya begitu rapat dan penuh penekanan dalam.


“Awas kalau kamu berani ngambil konsumenku lagi.” Muthia menghentakan dengan kasar kertas di tangannya ke dada Randi. “Nggak perduli sekalah apa aku lawan laki-laki, aku pasti menghajarmu,” geram Muthia.


Muthia meninggalkan Randi dengan sudut mata penuh kebencian. Tatapannya masih memancarkan ancaman sebelum akhirnya dia berbalik dan menuju ke ruang administrasi.


Muthia tidak menyadari, ada tatapan milik Angkasa yang sedang mengamati kejadian tadi. Dia tadi berencana hendak keluar, tapi diurungkannya dan berhenti di ujung tangga terakhir saat mendapati Muthia menghimpit tubuh Randi yang tampak gugup.


Wanita itu selalu saja terlihat menyemburkan kemarahan. Tapi wajahnya semakin menarik bahkan saat tak ada senyum di bibirnya yang hari ini terpoles warna salem


Baru tiga hari Angkasa di sini dan Muthia selalu menggebrak harinya dengan cara tidak terduga. Kemarahannya membuatnya semakin penasaran.


Oh, God, wanita itu …