
“Yaelah Mut, kok bisa aplikasi sampai kucel begini, ganti!” Juni mengembalikan kertas aplikasi yang diserahkan Muthia ke mejanya. “Mana ada coretan tebal gini lagi.”
Muthia menyandarkan tubuhnya dengan bertopang pada bahu kirinya.
“Itu aplikasi Randi, tadi dia ngambil konsumenku dengan rayuan busuknya!” tukas Muthia. Dia sedang berusaha mengontrol kemarahannya yang masih tersisa. “Untung saja ketahuan, kalau nggak, namanya yang tertera di sana.”
“Jadi coretan ini seharusnya nama Rendi?”
“Sudah gak bisa dibaca kan, itu. Tapi aku yakin itu nama dia.”
“Kamu ngelabrak dia, ya?” Juni menggerakan sedikit posisi duduknya. Tubuhnya kini sepenuhnya menghadap Muthia dengan punggung tegak penuh antusias.
Muthia mengangguk. Dengan masih berusaha menguasai kegeramannya, dia menceritakan dengan detail semua yang terjadi. Nada suaranya benar-benar kesal. Terkadang dia terlihat mendelik ke arah Juni sambil terus berbicara dengan nada jengkel. Matanya yang memang besar saat melotot dengan saraf yang menegang begitu, seperti membuat bola matanya mau keluar. Belum lagi hari ini dia mengulaskan eyeshadow dengan tema smookey, makin membuat dia lebih mengerikan.
Juni sendiri pendengar yang baik. Dia tidak memotong sedikitpun perkataan Muthia ataupun balik bertanya seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang penasaran. Tapi mulutnya tidak terhindar dari berkata, “oh” panjang ataupun berdecak gemas. Di akhir cerita Muthia, gantian dia yang bergumam tidak jelas sambil membalikan tubuhnya kembali menghadap komputer.
“Jun, ini sudah waktunya mau pulang.” Muthia tidak percaya. Setelah apa yang diceritakannya, Juni masih memintanya mengganti aplikasi miliknya—bukan milik Randy yang diberikannya. “Rumah Ibu itu jauh, Jun. Kamu lihat, alamatnya di Teluk Bayur. Perlu 45 menit baru sampai ke sana.”
Muthia menyodorkan kertas aplikasi ke hadapan Juni. Menunjukan bagian yang bertuliskan alamat pemohon kredit.
Juni mengangguk, “Aku tau, karena itu kamu mesti buru-buru.” Dia menoleh pada Muthia dengan tersenyum lebar. “Aku tungguin kamu di sini, sekalian input data.”
Muthia mau protes, tapi begitu mendengar Juni mau menunggunya, dia hanya cemberut. Menghentakan kakinya sekali dan berbalik pergi. Ketika berjalan keluar, dia berpapasan dengan Angkasa yang berjalan dengan tangan dimasukan ke kantong celananya. Dia tersenyum lebar, membuat Muthia sejenak terpana. Benar-benar hanya sesaat, karena langkahnya tidak terhenti. Dan dia hanya mengangguk membalasnya.
Melewati Angkasa, tidak kuasa mata Muthia terpejam sejenak. Hidungnya mencuat, menikmati aroma maskulin yang menyebar di sepanjang lorong. Wangi yang terhirup olehnya seakan menggelitik tenggorokannya, melekat hingga membuat otaknya menebak-nebak merk dan paduan aromanya. Bahkan, hingga dia menyalakan motornya, Muthia tidak bisa mengalihkan konsentrasinya dari parfum yang terekam dipikirannya.
Mata Muthi memperhatikan lorong tempat dia berpapasan dengan Angkasa tadi, mengingat jelas sosok Angkasa yang tersenyum padanya. Apa, dia tersenyum? Kenapa aku baru sadar … Dengan menghembus nafas berat, Muthia kembali memikirkan pekerjaannya. Dia harus bergegas.