
"nduk ibuk sama Doni pulang dulu ya. inget kalau ada apa-apa kasih kabar. jangan disimpen sendiri masalahnya."
"enggeh buk. Niar akan selalu ingat pesan ibuk."
"Tak doain usahamu lancar, kamu dan Zian sehat dan segera dapat jodoh lagi".
"aamiin bu" . berarti doa yang terakhir juga diaminin. memangnya sama siapa? laki-laki yang ia kenal sekarang cuma Rendra.Rendra laki-laki yang sangat baik.
Daniar menghela nafas panjang setelah ibunya dan adiknya pulang. bukan capek selama mereka disitu , tapi karena dia lega setelah menyimpan rahasia perceraian dirinya dan Dhika akhirnya dia bisa jujur pada ibunya.
******
"Niar nanti malam aku jemput ya sama Zian. Aku mau ajak kamu ke rumahku. ada yang ingin bertemu denganmu" ada pesan whatsapp dari Rendra.
"siapa yang mau ketemu mas?"
"adalah pokoknya, aku jemput jam 7 an ya."
"iya mas"
Daniar bingung ada apa Rendra mengajaknya kerumahnya. dia juga bingung tentang hubungannya dengan Rendra seperti apa. yang jelas Rendra begitu perhatian tidak hanya padanya tapi juga pada Zian.
Daniar menyelesaikan semua pekerjaan hari ini lebih cepat. dia melihat anaknya yang sedang tertidur di kasur lipat yang diletakkannya didepan televisi. Daniar menatap anaknya sendu. tidak seharusnya Zian mengalami broken home seperti ini. Daniar memang belum memyekolahkan Zian.kendati anaknya mungkin bisa masuk PAUD terlebih dulu. tapi bagi Daniar tak mau terlalu dini menyekolahkan anaknya.biarlah Zian bermain bersama ibunya dulu.
tok tok tok Paket.
Paket? dalam hati Daniar bertanya-tanya perasaan dia tidak memesan sesuatu.
"maaf ini rumahnya ibu Daniar?"
"iya betul pak? paket apa ya pak?saya seperti nya tidak pesan sesuatu."
"saya tidak tahu bu. ini paket dari bapak Narendra dari PT ABIMANA REGENCY."
"Oh ya pak terimakasih"
Daniar berfikir sejenak tentang Abimana Regency. itu kan salah satu perusahaan properti besar di kota Semarang. Daniar segera membuka paket. dia terkesan dengan gaun pesta muslimah yang sederhana namun elegan.lengkap dengan tas tangannya.
ada selembar kertas yang ada dibawah baju itu.
Kamu sudah membukanya Daniar?
nanti malam dipakai ya. maaf aku tidak bisa mengantarnya sendiri.semoga kamu suka.
Daniar buru-buru mengambil ponselnya yang ada didalam kamar.
"mas makasih bajunya. bagus. aku suka. "
Tak lama ada balasan dari Rendra
"syukurlah kalau kamu suka.nanti malam dipakai ya.
Daniar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Rendra. menurutnya ini terlalu manis.
"mama mama.."
"iya sayang ada apa?"
"mama mau kemana?"
"mama mau pergi ke rumah kak Vino sayang"
"kak Vino? yian mau ikut ya ma."
"iya sayang nanti kamu ikut koq"
"hore.. asiiiiikkk"
******
Pukul 7 malam, Daniar sudah siap dengan gaun berwarna marun dengan jilbab senada. tak lupa membawa tas tangan.
tok tok tok..
"Pasti itu mas Rendra" Daniar tersenyum sambil menggandeng tangan mungil Zian.
"mana Zian.. ?" Zian bersembunyi di balik tubuh Daniar.
"mau ngapain kamu mas?"
"Mau ngambil Zian. Aku akan membawa Zian untuk tinggal bersamaku.
"Apa-apaan kamu mas? darimana kamu tahu aku tinggal disini? hak asuh Zian ada di tanganku. kamu udah menyia-nyiakannya.Jangan ambil anakku mas"
" Ga usah banyak omong kamu Nia, oh cantik sekali kamu malam ini.Bajumu juga terlihat mahal. jadi simpanan om-om kamu?hahaha. udah kekurangan uang kamu Nia sampai Jual diri kamu buat dapetin duit?"
"cukup mas. aku ga mau berdebat sama kamu. kamu udah keterlaluan menghina aku. PERGI KAMU MAS dari sini!!!!!"
"Mana Zian.. Aku mau bawa dia"
"Ga mas ga akan aku serahin Zian ke kamu."
Daniar dan Dhika saling menarik Zian. Daniar memeluk Zian erat. dia menangis. Dhika tak peduli dia terus memaksa Zian.
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Dika.
"siapa kamu?berani-beraninya kamu mencegah saya mengambil anak saya"
"Anda tidak punya hak lagi atas Zian Bung. jadi jangan pernah menginjakkan kaki disini lagi"
"DIAM KAMU! memangnya kamu siapa? bugil!!! tiba-tiba Dhika memukul wajah Rendra. ya laki-laki tadi adalah Rendra yang berniat menjemput Daniar namun malah terjadi insiden yang tidak diinginkan.
"tidak penting siapa saya"
Rendra balas memukul Dhika dan memelintir tangannya. hingga Dhika mengaduh kesakitan .
"Tolong pergilah dari sini bung!!"
"Hari ini kalian bisa lepas. ingat besok-besok aku akan kembali mengambil anakku." Dhika berlalu memasuki mobilnya.
Daniar segera bangkit menggendong Zian yang menangis sesenggukan.
"napa papa malah-malah ma.. yian mau tama mama aja"
"kalian baik-baik saja? apa ada yang terluka Nia?"
"tidak mas. makasih banyak ya mas.mas udah nolongin kita"
"mas, sepertinya mas terluka. duduklah dulu mas. biar aku ambilkan es batu dan obat merah dulu"
"Yian ikut sama om Rendra dulu ya nak"
"Papi... Yian tatut..!" teriak Zian sambil menghampiri ke pelukan Rendra.
"udah jangan nangis lagi ya. ga usah takut lagi. ada Papi disini sayang"
"Sini mas biar aku bersihin dulu lukanya" Daniar membersihkan darah disudut bibir Rendra. Sejenak manik mata mereka bertemu. Rendra menatap Daniar lembut. Daniar buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Kita jadi pergi ke rumah mas?"
"sepertinya lain kali saja Daniar. kondisi kalian tidak memungkinkan. kalian istirahat saja di rumah ya."
"Aku mau telpon ibuku sebentar ya. Biar beliau tidak menunggu kita"
"iya mas"
"Papi jangan pegi ya. Papi disini aja temenin Yian".
Rendra mengangguk dan memeluk Zian dengan erat. Zian bukan putra kandungnya. tapi lihatlah Rendra begitu menyayangi. dengan telaten Rendra meninabobokkan Zian yang mungkin sudah tidak pantas lagi dininabobokkan.
"Aku pamit dulu ya Nia. kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya"
"oh ya seperti nya besok kamu harus mulai cari tempat tinggal baru Nia_, disini sudah tidak aman untuk kalian. Besok aku bantu cari rumah ya"
"Iya mas. makasih banyak ya" maaf sudah merepotkan mas Rendra terus.
"ga apa-apa Nia. aku ga ngerasa direpotkan koq. besok aku bantu beresin barang-barangmu ini ya.
********