Housewife

Housewife
PERCERAIAN



DANIAR


SATU TAHUN YANG LALU


"mas, apa mas serius mau ceraiin aku?


" ya kalau kamu ga mau aku poligami ya terpaksa aku ceraiin kamu. lagian Shevi lebih segalanya dari kamu. aku rasa g rugi juga aku nglepasin kamu"


"lalu gimana nanti dengan Zian mas?apa kamu tega sama Zian?"


"Zian bisa ikut sama kamu. aku rela Zian sama kamu Nia, lagian Shevi keberatan kalau ada Zian diantara kami. tenang aja nanti aku transfer buat keperluan Zian sampai dia kuliah. aku akan cukupi kebutuhan Zian."


"Astaghfirullah mas, teganya kamu mas sama aku dan Zian".


"kenapa tidak? makanya jadi perempuan itu yang mandiri, bisa kerja sendiri, cari uang sendiri. kalau ada kejadian seperti ini kamu g akan pusing kalau kamu punya penghasilan sendiri . salah kamu Nia kenapa g mau kerja malah males-malesan dirumah". mas Dhika berlalu dengan tanpa rasa bersalah. aku tak habis pikir dengan sikapnya. sejak awal memang aku tak menyukainya. Ayahku yang menjodohkan kami.


Apa ada yang salah jika setelah punya anak aku lebih memilih untuk tinggal di rumah mengurus suami dan anakku yang masih balita. aku pikir dengan menjadi ibu rumah tangga, aku tidak akan kehilangan moment berharga pertumbuhan anakku. aku lebih bahagia jika mengurusnya dengan tanganku sendiri. walau Day care sudah menjamur. tapi aku tidak bisa meninggalkan anakku di day care . aku tidak percaya pada orang lain untuk mengasuh anakku.


Tapi tidak dengan suami ku, ralat sekarang sudah mau jadi mantan suami.sejak dia mentalakku 2bulan yang lalu.


ya dia tergoda dengan teman kerjanya yang bernama Shevi. aku tidak tahu seperti apa orangnya. tapi yang aku tahu , dia adalah wanita karir yang cerdas dan cantik.itu kata mas Dhika.


Tega ya dia membandingkanku dengan wanita lain didepanku, dan terang-terangan ingin menikah lagi dengan atau tanpa izinku. aku cuma wanita biasa.aku tidak bisa mencari surga dari jalan yang satu itu. dia boleh memakiku sesuka hatinya. tapi satu hal yang aku tidak akan pernah bisa bertahan adalah poligami. walau Rasulullah pun melakukannya.tapi aku tidak bisa menjadi seperti istri-istri Rasul yang rela dipoligami. aku akan cari surga dari arah yang lain. bukan dari poligami.titik.


Aku menangis melihat kepergian mas dhika. rasa sesak dalam hati tidak bisa aku tahan lagi. betapa tidak setelah 5th pernikahan kami, harus berakhir seperti ini. bukankah dulu Mas Dhika sendiri yang menyuruh kalau setelah menikah dan punya anak, aku harus jadi ibu rumah tangga.


Aku turuti maunya dia. tapi kenapa setelah 5th dan setelah mas Dhika kenal dengan perempuan bernama Shevi itu, Mas dhika memojokkan aku seakan akan menjadi ibu rumah tangga adalah suatu kesalahan. yang tidak habis fikir, dia menganggapku pemalas. yang hanya ongkang ongkang kaki dirumah menanti nafkah dari suami.


Kalaupun aku tertidur karena menidurkan Zian apa ya itu salah?


Nasi sudah menjadi bubur. apapun itu akan aku terima dengan lapang dada. Mas Dhika sekarang menyia-nyiakan kami. tak apa. walau aku dan Zian dalam hal ini adalah orang yang teraniyaya, tapi sedikitpun aku tak akan mendoakan keburukan untuk mas Dhika.


Semoga suatu hari nanti hatinya terbuka.


Aku masuk ke dalam kamar. kulihat anakku Zian, terlelap dalam tidurnya. Dia adalah penyemangatku sekarang.


"Kita mulai semua dari awal ya sayang. kita akan berdua mulai sekarang. semoga kelak kamu jadi anak yang hebat" ku elus kepala Zian lembut. kutatap kamar yang sudah kutempati selama 5th ini. banyak kenangan di rumah ini.walau awalnya aku tidak mencintai mas Dhika, perlahan aku mulai mencintainya. tapi setelah cinta itu hadir, dia malah justru menghanguskan cinta itu.


ah sudahlah, sekarang bukan waktunya aku terpuruk. aku harus bangkit. semoga kehidupan diluar sana bisa menerimaku dan berpihak padaku.


Ku kemasi pakaianku dan pakaian Zian. aku hanya membawa pakaian saja. karena aku belum dapat tempat tinggal.besok pagi setelah sidang perceraian kami, aku akan mencari kontrakan. mau balik ke rumah orangtua rasanya sangat malu. apalagi kalau ayah sampai tahu aku dan mas Dhika bercerai. bisa bisa darah tingginya kambuh. cepat atau lambat aku pasti akan memberitahu mereka. tapi tidak sekarang. aku akan memastikan diriku dan Zian baik-baik saja dan hidup layak tanpa mas Dhika terlebih dahulu


****


"Kamu mau bareng ke pengadilan nggak?"


"G usah mas.makasih.aku mau naik motor saja mas."


"oh ya sudah. sampai ketemu dipengadilan."


perih sekali melihat mas dhika seolah sudah tidak peduli padaku.


"Zian, ayo ikut mama sayang"


"Nanti kita juga ketemu sama papa nak."


"iya ma aku mau ikut"


"sayang, maafin mama udah misahin kamu sama papa kamu. tapi mama juga tidak bisa bertahan dan berbagi suami dengan perempuan lain." ucapku dalam hati


Tok tok tok


Ketuk palu terdengar. artinya selesai sudah pernikahanku dan Mas Dhika. dia menatapku dingin. aku masih tersenyum padanya. meski tak dibalas. tak apa setidaknya aku tidak ingin memupuk dendam dan sakit hati dalam hati. aku sudah mengikhlaskan semuanya. proses persidangan selama 2bulan terakhir sangat melelahkan. dan kini aku resmi menjadi janda.


kuhampiri mas Dhika yang datang bersama perempuan cantik nan seksi. siapa lagi kalau bukan Shevi. yang sedang bergelayut manja dengan mas dhika.


"mas, maaf ganggu.. mas aku nitip pakaianku dirumah mas dhika dulu ya. aku mau cari kontrakan dulu.nanti kalau udah dapet, aku ambil y mas"


"iya"


"eh jangan lama-lama ya nyari kontrakannya. aku ga mau aja baju kamu masih nyampah dirumah mas Dhika" ucap Shevi. cantik-cantik tapi pedes omongannya.


"InsyaAllah g kok mb. secepatnya saya akan keluar dari rumah mas Dhika"


"Zian salim dulu sama papa sayang"


"iya ma.. papa tenapa papa ga ikut sama mama dan Zian?


"sayang, papa lagi sibuk. jadi ga bisa ikut sama kita. " aku mencoba membujuk Zian. Mas Dhika hanya diam. seolah sudah tidak peduli lagi sama aku dan Zian. y Allah mas, segitu cintanya kah kamu sama perempuan itu.


"ayo nak , kita pergi"


******


kira-kira sudah 2 jam aku berkeliling lokasi yang ingin aku tuju. aku memang masih dikota yang sama dengan mas Dhika. tapi aku mencoba untuk mencari yang lokasinya jauh dari rumah mas Dhika.


" Zian lapar?" anakku mengangguk, ya Allah aku malah lupa belum memberi makan anakku. aku tidak mau dianggap lalai menjaga anakku.


"aku melajukan motorku ke warung makan sederhana. mulai sekarang aku dan Zian harus terbiasa dengan seadanya. aku berhenti di warteg dan memesan makanan untuk anakku.


"Enak nak?" Zian memakan sayur sop dan telur dadar. lahap sekali makannya. hatiku seakan teriris sakit melihat anakku harus hidup susah bersamaku. tapi aku juga tidak ingin berpisah dengan anakku. walau papanya berkecukupan, tapi aku tidak yakin mereka akan menjaga Zian dengan baik.


" Bu, maaf saya mau tanya apa didaerah sekitar sini ada kontrakan yang kosong?" aku bertanya pada ibu penjual nasi warteg.


" kayaknya ada mbak. dari sini lurus nanti kira2 200meter, kanan jalan ada counter pulsa sebelahnya ada gang masuk aja. nanti disitu mbak tanya aja kontrakan bu yayuk."


"iya bu nanti saya coba kesana. terimakasih banyak bu." aku tersenyum lega. semoga rumah itu jodohku.


setelah Zian selesai makan, aku buru-buru ke rumah ibu yayuk.


Akhirnya aku ketemu juga rumah bu yayuk, dan beliau mengatakan kalau rumah yang dikontrakan masih kosong.Alhamdulillah , dan harga sewanya juga cocok. aku bisa menyewanya untuk satu tahun ke depan. barakallah Alhamdulillah .


********