
Alhamdulillah aku sudah dapat kontrakan. aku segera kembali ke rumah mas Dhika untuk mengambil pakaianku dan Zian. Saat ini rasa sedih dan perih sudah tidak aku pedulikan lagi. Aku menggendong Zian yang sudah tertidur, sambil mengendarai motorku. Ada rasa sesak saat aku ingat begini amat ya takdir hidupku. aku mencoba berdamai dengan semua ini. sambil mengendarai motor, airmataku tak henti-hentinya mengalir.
Sampai aku didepan rumah mas Revan, berat sekali kaki ini untuk melangkah ke dalam, tapi aku harus kuat.
"Assalamualaikum," aku berdiri di depan pintu yang tertutup tapi tak terkunci. Aku beranikan untuk melangkah ke dalam, dan betapa kagetnya aku melihat mereka berdua sedang bermesraan. ya Allah keterlaluan sekali mereka. aku mengusap air mataku kasar. mereka kaget menyadari aku yang ada di belakang mereka.
"Bisa ga sih Nia kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk rumah orang. ingat ya Nia, ini bukan lagi rumah kamu. jadi kamu harus punya sopan santun kalau mau masuk ke rumah ini." Mas Dhika dan perempuan itu menatapku tajam
"iya mas maaf." hanya itu yang bisa aku katakan. Aku sedang malas berdebat. aku bergegas mengambil koperku sambil masih menggendong anakku Zian. Mas Dhika tidak ada niatan sedikitpun membantuku. Aku tak peduli.Aku sudah memesan Grab Car untuk membantuku membawa barang-barangku.
"Pak, tolong antarkan barang-barang saya ini ke alamat yang tadi ya"
"iya bu, sesuai titik kan?"
"iya pak, Terimakasih banyak sebelumnya".
kukendarai kembali motorku bersama Zian yang masih ada dalam gendonganku. kurang lebih 45 menit aku berkendara, akhirnya aku tiba dirumah kontrakanku. disana abang Grabnya sudah tiba duluan, dan ada bu Yayuk juga yang menyambut kami. wanita paruh baya itu memberikan kunci padaku.
"semoga betah ya mbak Daniar. semoga ditempat ini mbak bisa memulai semua dari awal dan banyak keberkahan"
"aamiin.. makasih banyak Bu."
Aku memang sudah menceritakan semua pada bu Yayuk.aku juga sudah menunjukkan surat ceraiku. agar nantinya bisa meredam fitnah kalau ada orang yang bertanya tentang statusku.
menjadi janda diusia muda memang tak pernah terbayangkan olehku.
kadang aku juga menyesal, kalau saja aku bekerja mungkin aku punya penghasilan sendiri tanpa meminta suami. dan setidaknya aku tidak direndahkan oleh suamiku. Tapi dalam hati kecil ku, aku tidak bisa meninggalkan Zian.
ku rebahkan tubuh Zian yang begitu polos. lagi-lagi aku menangis.kenapa aku jadi cengeng begini ya? ya Allah semoga hamba kuat dan ikhlas menjalani semua ini.
Aku segera mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat maghrib. ditempat yang baru ini aku akan berusaha mandiri, agar aku tidak direndahkan lagi. aku akan cari pekerjaan yang bisa fleksibel sambil menjaga Zian.
Setelah sholat dan mengaji, aku mengecek tabunganku . masih ada uang untuk beli barang yang bisa membantuku membuka usaha. segera aku buka salah satu marketplace oren yang sangat terkenal itu. aku mencari kulkas untuk membantuku berjualan. aku akan membuat es susu untuk anak-anak sekolah. semoga kulkasnya besok bisa diantar.agar besok aku bisa langsung membuat dan lusa bisa langsung jualan.
******
Matahari bersinar dengan cerah pagi ini. semoga menular dengan hatiku.
Kulkas yang aku pesan akan diantar nanti jam 10 an. setelah menyuapi Zian, aku bergegas membeli peralatan untuk membuat es.
"mama, kenapa kita ada disini? papa dimana ma?"
Ah Zian malah menanyakan papanya lagi. aku bingung harus bagaimana.
"papa dan mama sekarang sudah tidak tinggal bersama lagi sayang. tapi papa udah janji mau jengukin Zian sering-sering". Aku melihat raut kecewa diwajah Zian.
"tenapa ma?tenapa mama sama papa tidak tinggal belcama?Zian kangen papa , ma"
"tenang sayang, nanti papa pasti akan datang jengukin kita"
huaaaa huaaa huk huk..
Zian menangis dan aku bingung bagaimana harus menenangkan anakku.
Berjanjialah nak, kelak kamu akan jadi anak sholeh. jadilah imam yang baik untuk istri dan anakmu. Biar mama saja yang mengalami kepahitan berumah tangga.aku juga menangis memeluk anakku.
mama janji akan membahagiakan kamu nak. dan kita bisa hidup bahagia walau tanpa papa.
Setelah Zian tenang, aku mengajaknya bermain blok kreatif kesukaannya. dia bisa berlama-lama membuat bangunan atau robot sesuai imajinasinya.setidaknya bisa mengalihkan Zian dari pikiran tentang papanya yang entah sedang apa sekarang
"iya sebentar"
" ibu ini benar rumah bu Daniar?"
" iya pak benar."
"ini mau mengantarkan paket bu.".
" iya pak tolong bisa angkatkan kedalam?"
Alhamdulillah kulkas sudah datang. aku berharap bisa membeli freezer , tapi saat ini akupun juga butuh untuk menyimpan kebutuhan rumah. dan aku juga belum tahu nanti jualanku laku apa tidak.jadi kuputuskan membeli yang model kulkas biasa dulu.nanti kalau sudah laris, semoga bisa beli yang khusus freezer.

seharian ini aku habiskan untuk membuat es susu yang kubungkus es mambo. ku buat warna warni agar menarik. aku berencana menjualnya kesekolah sekolah dekat rumah kontrakanku.

*******
keesokan harinya aku semangat bersama Zian pindah dari satu sekolah, ke sekolah lain. Alhamdulilah 100pcs es susu dihari pertama laku keras. begitu seterusnya. hingga bulan ke dua, aku mencoba menawarkan menitipkan dikantin-kantin sekolah. semua merespon dengan baik.walau ada yang menolak.tak jadi masalah buatku. sampai di bulan ketiga, aku bisa membeli freezer dan sehari aku bisa menjual kurang lebih 300bungkus es . kini usahaku sudah hampir 1tahun berjalan. semua aku lakukan tanpa meninggalkan anakku. kalau ada waktu luang aku terus mencari lokasi-lokasi baru untuk memperkenalkan es buatanku.
"Bu, saya mau es susunya yang warna hijau ya."
"iya kak Vino, sebentar ya. ini esnya kak"
iya dia Vino, anak kelas 2 SD yang setiap hari membeli es buatanku.
"Adek Zian lagi ngapain?"
"Lagi maen lobot kak Pino"
Vino dan Zian sudah kenal.dan sering bermain sepulang sekolah sampai Vino dijemput oleh supirnya.
tin tin.. suara klakson mobil mengagetkan kami. Vino terlonjak dan menghampiri mobil Fortuner berwarna putih itu.

Aku terperangah dengan sosok yang keluar dari dalam mobil itu. Laki-laki tinggi tegap, dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, dengan kaca mata hitam menambah ketampanannya. Astaghfirullah. aku menundukkan pandanganku.
"Papi.." Vino menghampiri lelaki itu . oh ternyata itu ayahnya Vino. pantas saja Vino ganteng sekali.ternyata turunan dari ayahnya.
"Halo sayang, eh kamu bawa apa itu? sudah papi bilang jangan jangan sembarangan apalagi yang dijual dipinggir jalan seperti ini. nanti kalau sakit perut gimana?"
"Nggak papa koq pi, Vino udah biasa beli tiap hari dimama Zian, Vino ga pernah sakit perut."
"Astaga Vino, dimana kamu beli minuman kayak gitu? antar papi kesana. mau papi kasih pelajaran itu orang."
"disana pi, jangan pi kasihan mama Zian Pi,"
Aku yang mendengar pembicaraan mereka sedikit tersinggung, aku tidak pernah menggunakan bahan berbahaya.kenapa orang itu bisa menuduh seperti itu. Aku tidak takut.aku akan hadapi.
"Eh mbak.. kalau jualan yang bener donk. jangan jualan dipinggir jalan kayak gini, nanti kalau anak saya sakit perut gimana?"
"Maaf Pak, saya sudah menutup rapat termos es saya. dan saya tidak pernah menggunakan bahan berbahaya pada es saya. bapak bisa tanya ke anak bapak apa pernah sakit perut setelah makan es buatan saya". aku menatap tajam laki-laki itu. dia pun juga demikian. kami beradu argumen. sampai akhirnya dia menyerah dan.berlalu dari hadapanku.
"ahhh.. gimana bisa ketemu orang seperti itu.. "