Housewife

Housewife
SEMAKIN KAGUM



AUTHOR POV


Dua hari sudah Daniar berada dirumah sakit. dan selama itu pula Rendra selalu menemaninya. Dia begitu perhatian pada Daniar. setiap pagi Zian akan diajak kerumah sakit. Daniar sangat senang melihat Zian dalam keadaan baik-baik saja.


"Mas Rendra... Emang ga apa-apa ninggalin kerjaannya? udah 2hari lho mas Rendra disini. emang ga dimarahi tuh sama bosnya?"


"Ga apa-apa Niar, Aku ambil cuti.nanti sore kamu kan pulang.jadi besok aku bisa kerja lagi."


"oh gitu ya?maaf y mas aku dan Zian jadi ngrepotin mas Rendra."


"Udah ga usah dipikirin yang penting kamu sembuh dulu." ucap Rendra sambil menemani Zian bermain robot-robotan. siapapun pasti mengira mereka adalah keluarga kecil yang bahagia.


"Om, yian mau maen lobot-lobotan tama mama ya om"


"eh maen sama om aja. mama biar istirahat dulu ya. nanti om beliin robot lagi mau nggak?" Daniar tersenyum melihat Zian dan Rendra yang begitu akrab. sesaat dia ingat mantan suaminya yang sejak mereka bercerai tidak pernah sekalipun mencari tahu keberadaan Zian apalagi mengajak Zian bermain. syukurlah dia dipertemukan dengan lelaki seperti Rendra yang begitu telaten menemani Zian. Rendra adalah seorang ayah yang sangat melindungi anaknya. dia jadi ingat bagaimana Rendra marah-marah waktu vino makan es susu buatan nya.


Dalam hati Daniar tersenyum, awalnya dia mengira laki-laki ini sangat dingin dan arogan. tapi setelah mengenalnya ternyata Dia adalah laki-laki yang hangat dan sayang pada anak. Tapi tunggu kenapa Daniar baru menyadari apa Mas Rendra tidak dimarahi istrinya kalau menemani dia dirumah sakit begini. meninggalkan pekerjaannya lagi.


"Mas Rendra" yang dipanggil menoleh kearah Daniar.


"iya, kenapa Niar?"


"maaf mas ibunya kak Vino apa tidak marah kalau mas menemaniku disini?" Rendra nampak berfikir dan mulai bercerita.


"Maminya Vino tidak akan marah Niar. bahkan dia tidak akan peduli pada kami. Kami sudah bercerai 2th lalu. dia perempuan yang gila kerja. sampai aku dan Vino tidak pernah diurusi sama dia. semua pekerjaan rumah dipegang asisten rumah tangga. Dia tidak pernah mau tahu tentang urusan rumah tangga. pergi pagi,pulang malam. Padahal semua kebutuhan bisa aku penuhi. Tapi dia pada akhirnya memilih meninggalkan kami."


"maaf mas Rendra, aku tidak bermaksud menyinggung hati mas Rendra.aku cuma ga enak aja kalau mas terlalu sering disini sedangkan ada istri yang menunggu dirumah."


"ga apa-apa Daniar. nasib kita sama kan?" Rendra tersenyum. dan dibalas oleh Daniar.


"manusia itu memang selalu merasa kurang ya mas.mantan suamiku punya istri yang berada dirumah malah menginginkan istri yang bekerja diluar. sedangkan mas rendra punya istri wanita karir malah ingin istrinya dirumah.sungguh lucu"


"Ya begitulah fitrah manusia Daniar. em.. ngomong-ngomong kenapa kamu tidak bekerja kantoran saja? malah memilih jualan panas-panas an ?"


"Aku ingin cari uang tanpa harus meninggalkan Zian mas. Sekarang aku cuma punya Zian disini. Sebisa mungkin aku menjaganya dengan baik. Dan dengan berjualan aku bisa membawa Zian ikut serta"


"Tapi apa tidak kasihan Zian kamu ajak panas-panasan begitu Niar?"


"Sebenarnya kasihan mas. tapi mau gimana lagi, sekarang aku juga harus cari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kami."


"Apa mantan suamimu tidak mingirim uang untuk Zian?"


"Sejak perceraian setahun lalu kami sudah tidak ada komunikasi. dan sepertinya dia juga sudah melupakan kewajibannya pada Zian"


" Padahal seorang suami harusnya masih punya kewajiban menafkahi anak walau sudah bercerai. karena tidak ada yang namanya mantan anak." Daniar menyimak kata-kata Rendra , dalam hati dia semakin kagum dengan laki-laki ini. tapi buru-buru dia mengalihkan pandangan.


"iya mas Rendra betul"


"Zian, om mau bantuin mama kamu rapiin baju ya. hari ini mama udah boleh pulang lho."


"holeee... mama pulang, Zian bisa bobok tama mama agi. holee.."


Daniar dan Rendra terkekeh melihat tingkah Zian. Sejenak manik mata mereka bertemu, Daniar buru-buru mengalihkan pandangan. sedangkan Rendra nampak salah tingkah.


****


"makasih banyak mas Rendra atas bantuannya. mana dibayarin juga biaya rumah sakitnya. jadi enak saya."


"Mas rendra bisa aja. lagian mas juga yang maksa. Aku ditempatin diruang VIP, mana punya uang aku buat bayar rumah sakit."


"Ga masalah Daniar. sesama umat islam harus saling membantu. besok kamu mau jualan?.


"iya mas, mau gimana lagi, aku kan harus jualan. buat beli susunya Zian."


"ya sudah kalau begitu. yang penting ga usah terlalu diforsir tenaganya. kalau udah capek ya pulang."


"iya-iya" Hati Daniar berdesir hangat, seorang Rendra sedikit mengisi kekosongan hatinya.entah bagaimana dia menganggap hubungan mereka. yang jelas saat ini Rendra adalah sahabat baiknya. yang menemani dia saat keadaan susah kemaren.


********


Satu bulan berlalu setelah kejadian itu. Setiap hari Rendra tidak pernah absen menelfon atau sekedar chat WA saja. perhatian Rendra membuat Daniar bahagia. setidaknya sekarang ada tempatnya untuk berbagi wala hanya sekedar menanyakan kabar atau sedang apa. Tapi Rendra jarang sekali kerumah Daniar. Semua dilakukan Rendra untuk menjaga kehormatan Daniar yang seorang janda.


Hanya sesekali diakhir pekan Rendra akan mengajak Zian pergi bersama dengan Vino tanpa Daniar. Rendra faham , karena mereka bukan muhrim apalagi status mereka yang sama sama sedang tidak terikat pernikahan membuat mereka menjaga jarak.


sama seperti hari ini . hari minggu yang cerah.


"Niar, nanti aku mau ajak Zian keluar ya. "sapa Rendra diujung telfon.


"mau kemana mas?


"mau tak ajak ke TRANS STUDIO"


"Iya boleh mas. apa g repot mas bawa 2 anak?"


"ga lah. Vino kan udah gedhe. malah udah bisa jagain Zian juga sekarang."


"iya udah nanti aku nitip Zian ya mas."


Rendra membawa Zian dalam gendongan. kehadiran Rendra membuat anak itu bisa mendapatkan sosok ayah yang tidak dia dapatkan selama ini. waktu masih bersama Dhika pun, dia tidak pernah mengajak Zian jalan-jalan. hanya sibuk dengan urusan kerjanya.


Tapi sosok Rendra yang sibuk masih bisa menyempatkab waktu diakhir pekan untuk anaknya. bahkan sekarang Zianpun tak luput dari perhatiannya.


"Salim dulu sama mama sayang, Vini juga salim sama tante Daniar" ucap Rendra.


"iya pi"


"papi Yian mau ikut ama papi ya"


"eh Zian koq manggilnya papi?" tegur Daniar


"udah biarin aja Niar, syukur-syukur kalau bisa beneran jadi Papinya"


"ehh..koq.. " wajah Daniar memerah , hatinya berdesir mendengar penutupan Rendra..


"eh koq merah gitu wajahnya?"


"ihhh mas Rendra.udah sana buruan pergi keburu siang lho" gerutu Daniar


"hahahaha" Rendra tertawa sambil membuka pintu mobil dan melaju meninggalkan Daniar yang masih terpaku.


******"