
Aku dan Vino menghampiri Daniar dan Zian yang sudah dikeruminin orang..
"permisi-permisi saya kenal dengan orang itu pak".aku mencoba menerobos kepungan orang
"kenapa ini tadi pak?"Aku bertanya pada saksi yang ada disana.
"ini tadi tabrak lari pak. Ibunya tadi mau belok usah reting sih.tapi tiba-tiba ada motor kencang dari belakang. si ibu ini motornya oleng dan menabrak pembatas jalan." Daniar pingsan sambil memeluk Zian anaknya.sedangkan sepertinya Zian tidak apa-apa. Tapi anak itu menangis tersedu-sedu.
"kalau begitu biar saya bawa mereka ke rumah sakit ya pak bu. tolong bantu saya mengangkat ibu ini"
Aku dan orang-orang yang ada disana mengangkat Daniar masuk dalam mobilku. Daniar terluka. kepalanya sedikit berdarah. sedangkan Vini sedang mencoba menenangkan Zian yang masih menangis.
"Tenang Zian insyaallah Mamamu tidak apa-apa. kamu berdoa y nak, smoga mamamu tidak apa-apa"
"Mama mama mama..hua hua..."
Zian bertambah keras nangisnya. aku jadi bingung. Aku segera melajukan mobilku ke rumah sakit terdekat.
Tiba dirumah sakit Daniar langsung dibawa ke IGD. dan ditangani dokter disana. Setelah mengurus keperluan administrasi untuk Daniar, aku menghubungi Bu ratih dan sopirku Pak Burhan untuk datang ke rumah sakit, untuk menjemput Vino dan Zian.berada dirumah sakit terlalu lama tidak baik bagi mereka. kurang lebih setengah jam Pak Burhan dan Bu Ratih datang.
"Pak, Bu tolong bawa Vino dan Zian pulang ya. mereka harus makan dan istirahat."
"Iya Nak Rendra ibu akan bawa mereka pulang ke rumah. siapa yang sakit nak Rendra?" Bu ratih memang terbiasa memanggilku nak. karena beliau juga sudah menganggapku sebagai anak.
" Ibunya anak ini bu, ini Zian dan yang didalam ibunya namanya Daniar. tadi saya menemukan mereka kecelakaan di jalan"
" Semoga ibunya Zian baik-baik saja ya nak" Bu ratih segera menggendong Zian yang tertidur karena kelelahan menangis. mereka berempat segera pulang kerumah.
Sesaat setelah mereka berempat pergi, dokter yang menangani Daniar keluar.
"Keluarga Ibu Daniar?"
"iya saya dok"
"anda suaminya pak?"
"bukan dok, saya hanya orang yang menolong dia waktu tadi kecelakaan"
"Bu Daniar Alhamdulillah tidak apa-apa hanya luka lecet dan memar saja. sekarang bu Daniar sudah siuman. bapak bisa menjenguk ibu Daniar di dalam, silahkan"
"iya dok , Terimakasih banyak" dokter menjabat tanganku , lalu kuberanikan masuk kedalam ruangan Daniar.
waktu aku mendekati ranjang pasien tempat dia berada, dia mengernyitkan dahinya.seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. niatku baik, aku akan menceritakan kejadian yang tadi menimpanya.
"bagaimana keadaanmu Bu Daniar?"
"masih nyeri dibeberapa bagian. maaf kenapa saya bisa disini Pak? bapak kalau tidak salah ayahnya kak Vino kan?"
" maaf tadi saya tidak sengaja melihat bu Daniar kecelakaan dijalan. tabrak lari katanya. waktu itu kamu tidak sadarkan diri.jadi langsung saya bawa kerumah sakit terdekat".
"jadi tadi anda yang mengangkat saya Pak?" tatapannya sangat tajam padaku. aku jadi sungkan kalau begini.
"emm. iya tadi dibantu sama orang-orang yang ada disana"
seperti yang Daniar lakukan kecuali perempuan gila kerja seperti mantan istriku.
"Pak,dimana anak saya?"
suara Daniar membangunkanku dari lamunan.
"eh ya maaf tadi Zian sama Vino saya suruh pulang sama sopir saya.kamu tenang aja Zian baik-baik saja. saya minta Asisten saya dirumah buat jagain mereka."
"tapi zian baik-baik saja kan pak?"
"Alhamdulillah dia baik-baik saja.sekarang kamu harus fokus sama kesembuhanmu dulu saja. untuk motor tadi usah dibawa ke bengkel sama sopir saya. kalau barang daganganmu sudah dibawa kerumah saya.soalnya saya ga tahu rumah bu Daniar dimana"
"Terimakasih banyak Pak, sudah bantu saya."
"sama-sama. dan tolong jangan panggil saya Pak ya. berasa tua sekali saya. dan sepertinya umur kita ga jauh beda. panggil Rendra saja."
"ga sopan kalau panggil nama saja.nanti malah kasih contoh yang jelek buat anak-anak kita. eh maksud saya untuk anak kamu dan anak saya.saya panggil mas Rendra saja.boleh?" Aku tertawa geli melihat Daniar bisa tersenyum. hatiku berdesir melihat wajah ayunya yang membuat hatiku dag dig dug sejak tadi.
"iya boleh saja mbak Daniar."
"eh mas Rendra koq panggil mbak sih?"
"lha biasanya mas kan pasangannya mbak. atau mau saya panggil nok?
"jangan mas kayak masih anak-anak aja aku dipanggil nok."
"emm Niar, boleh kan aku panggil Niar?" Daniar mengangguk. "aku minta maaf atas kejadian dulu waktu didepan sekolah Vino. aku ga bermaksud menyinggung perasaanmu"
"ga apa-apa mas.aku ngerti koq"
"ngomong-ngomong kamu ga hubungi suami kamu? ini tas kamu, tadi saya ambil.biar ga dijarah orang"
"lagi-lagi aku Terimakasih sama mas Rendra. aku ga bisa bayangin kalau ga ada mas Rendra tadi. masalah suami... aku single parent mas. aku udah cerai 1th yang lalu." Daniar mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca.wajahnya berubah sendu. Tapi entah kenapa aku merasa bahagia.
"maaf Niar aku ga bermaksud membuka luka lama kamu."
"enggak koq mas.aku ga apa-apa. maaf mas kalau boleh tahu kapan aku bisa keluar dari sini?aku kangen sekali sama Zian"
"nanti coba tak tanyain ke dokter ya.aku keluar dulu mau ketemu dokter skalian mau sholat. kamu ada request makanan atau apa gitu?nanti aku beliin di luar."
"ga perlu mas. udah cukup makanan dari rumah sakit aja."
"oke kalau begitu.aku keluar dulu ya. kamu istirahat aja dulu."
"iya mas.makasih."
Aku melangkah keluar ruangan dengan hati yang ahh ga taulah apa namanya.berasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Niar mulai sekarang, namamu akan aku selipkan dalam doaku untuk kumintakan langsung pada pemilikmu.Allah SWT.
********