
NARENDRA
Aku selalu ketat pada anakku Vino , bukannya aku mengekang dia. Tapi Setiap orangtua pasti tidak ingin anaknya kenapa-napa. Termasuk membatasi dia beli jajan dipinggir jalan.sebersih apapun penjualnya.tetap saja yang dijajakan dipinggir jalan itu akan terkena debu juga.
Aku takut sekali kalau Vino sampai sakit karena makan makanan sembarangan.seperti kali ini, entah kenapa hari ini aku ingin sekali menjemput putraku sekolah. padahal biasanya hanya sopirku yang ku suruh untuk menjemput.
Aku melihat anakku membawa es entah es apa itu. dan segera kutegur dia untuk tidak makan sembarangan. namun dia bilang sering sekali minum es itu dan tidak apa-apa.
Aku kaget setengah mati mendengar penuturan putraku. bisa-bisanya dia sering minum es itu selama ini tanpa aku tahu.
Aku saat itu emosi sekali kuhampiri penjual es yang dibeli anakku tadi.
Sejenak aku menatap perempuan berjilbab itu. dia masih muda dan membawa anaknya sambil berjualan. perempuan secantik itu tidak gengsi jualan panas-panasan kayak gini. Tapi aku harus menegurnya.
"Eh mbak.. kalau jualan yang bener donk. jangan jualan dipinggir jalan kayak gini, nanti kalau anak saya sakit perut gimana?"
"Maaf Pak, saya sudah menutup rapat termos es saya. dan saya tidak pernah menggunakan bahan berbahaya pada es saya. bapak bisa tanya ke anak bapak apa pernah sakit perut setelah makan es buatan saya". Dia menatapku tajam.seolah tak terima dengan perkataanku. y jelas aku marah, memangnya kalau anakku sakit, dia yang mau membayar biaya pengobatan anakku. Aku beradu argumen dengan perempuan itu, kata Vino memanggilnya mama Zian entah namanya atau nama anaknya aku ga mau tahu. malu aku berdebat didepan sekolah, lalu aku mengalah dan segera menuju kantor guru dan menemui wali kelas anakku.
"Assalamualaikum.. permisi bu." seorang wanita paruh baya mengampiriku. Dia bu Fatimah wali kelas anakku.
"Waalaikumsalam.. Pak Rendra mari silahkan duduk pak"
Aku melangkah ke tempat duduk yang dipersilahkan Bu Fatimah untukku.
"Maaf bu Fatimah, saya kesini karena ada keperluan terkait anak saya. Bisakah ibu untuk melarang anak saya kalau dia jajan diluar sekolah? saya tidak mau terjadi apa-apa denga anak saya bu. tadi dia beli es susu didepan sekolah. dan itu tidak bersih bu." Bu Fatimah mendengarkan dengan seksama.
"Es susu yang di jual Bu Daniar ya Pak? InsyaAllah aman Pak. saya juga sering membeli untuk cucu saya. dan Alhamdulillah tidak pernah sakit. Saya kenal Bu Daniar dia sudah lama jualan disini pak. Tapi kalau memang Bapak berkehendak seperti itu, akan saya lakukan pada Vino."
"Maaf bu seaman apapun kalau dijual dipinggir jalan seperti itu bisa jadi tidak aman Bu. terima kasih ibu mau membantu saya menjaga Vino selama disekolah. kalau begitu saya pamit dulu Bu.sekali lagi saya ucapkan terimakasih"
"sama-sama Pak Rendra"
Aku bergegas menuju mobilku. disana Vino sudah menunggu di dalam. memang tadi kusuruh dia menunggu saja didalam mobil.
Aku melakukan mobilku didepan sekolah kulihat perempuan itu masih disana.,dia menatap ke arah mobilku dengan tatapan tidak suka. apa yang aku lakukan keterlaluan?Dia perempuan hebat , sambil jualan dan mengurus anak. tidak seperti mantan istriku yang gila kerja.sampai lupa akan tugasnya mengurus suami dan anak. akhirnya setelah tak sanggup mengahadapi sikapnya , setahun lalu aku menceraikannya. kalau aku menikah lagi aku ingin punya istri yang hanya jadi ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak. Tapi dimana aku mencari perempuan seperti itu dizaman sekarang?
Setengah jam kemudian aku tiba dirumah kesayanganku.
ku rebahkan tubuhku di kasur king size milikku. penat sekali rasanya hari ini. weekend seperti ini harusnya dihabiskan bersama istri dan anak-anak.
Tiba-tiba aku teringat pada Daniar perempuan penjual es dihalaman sekolah anakku. dia berpeluh keringat tapi tidak mengurangi keanggunan wajahnya yang sayu. kenapa dia rela berjalan panas-panasan begitu? dimana suaminya? kalau aku jadi suaminya tidak akan kuizinkan istriku bekerja seperti itu. aku menepuk jidat pelan. ngapain juga mikirin si Daniar itu. aku memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.
******
seminggu berlalu dan setiap hari aku menelpon bu Fatimah untuk memastikan anakku tidak jajan sembarangan lagi. dan syukurlah Vino patuh.
Seperti biasa hari sabtu aku menjemput anakku disekolah. sejak bertemu Daniar, aku jadi selalu menyempatkan hari sabtuku untuk menjemput Vino. benar ingin menjemput atau karena masih penasaran sosok Daniar? entahlah. yang aku tahu aku selalu kepikiran perempuan itu setelah kejadian sabtu kemaren.
Masih 10menit lagi, Vino pulang, tapi mobilku sudah bertengger didepan sekolah. aku melihat Daniar bersama pedagang lain menunggu kepulangan anak sekolah. Sesekali aku melihatnya tersenyum. dan begitu telaten mengurus anaknya.untung saja dia bawa payung pelangi besar sehingga tidak terlalu panas.tapi tetap saja cuaca terik seperti ini tidak baik untuk Anaknya.
"Assalamualaikum papi".. ketukan Vino membuat aku sadar dari lamunanku.
"ahh iya nak, ayo Vin cepat masuk".
"iya pi, ayo jalan Pi"
"Bentar Vin,10 menit lagi ya"
Vino mengiyakan saja lalu mengambil gadgetnya dan bermain game. aku sadar memberikan Vino gadget bukan solusi yang tepat untuk perkembangannya. dampak negatif Kebiasaan anak yang asik dengan gadget akan berpengaruh terhadap kemampuan otak dalam menangkap informasi. Salah satunya yaitu ketika anak mendapat pelajaran dikelas cenderung sulit untuk memahami apa yang sudah disampaikan guru. Selain itu, anak juga cenderung malas untuk belajar dan membaca buku akibat dari kecenderungan untuk bermain gadget sehingga prestasi akademik menurun.
Tapi Sebisa mungkin Vino tetap kubatasi penggunaan gadget. hanya setiap akhir pekan selama 2jam sehari saja. tidak lebih dari itu. syukurlah Vino anak yang penurut. dia sudah terbiasa hidup tanpa sosok maminya. Hanya Bu Ratih yang bisa aku andalkan ketika di rumah.
Eh.. koq Daniar tiba-tiba sudah tidak ada? kemana dia?Aku segera melajukan mobilku.barangkali aku bisa menemukan jejaknya dan tahu rumahnya. aku tersenyum dalam hati.
brakkk...
ketika sampai diujung jalan aku mendengar suara tabrakan. Vino sampai terlonjak.
"Papi ada kecelakaan Pi, sepertinya aku tahu orang itu. Ah itu Mama Zian Pi, ayo kita tolongin Pi."
iya betul itu Daniar. aku sangat khawatir. apalagi dia sedang membawa anaknya. semoga tidak apa-apa. aku segera menepikan mobilku dan menghampirinya.
********