
Hidup adalah skenario Allah,manusia hanya menjalani apa yang sudah menjadi takdirnya. ada suka, ada duka semua harus dilalui dengan sabar dan ikhlas. sejatinya ujian yang kita terima adalah cara Allah untuk menjadikan kita lebih kuat dari sebelumnya.
Begitupun hidup Daniar. diawal tahun pertama menjadi janda berat sekali menata hidupnya. apalagi baginya yang tidak terbiasa bekerja. harus berfikir keras menghidupi dirinya dan anak semata wayangnya.
Usaha Daniar selama 2 bulan terakhir mulai berkembang. sekarang dia sudah tidak jualan di sekolah lagi. dia sekarang hanya menitip titipkan saja di sekolah-sekolah. ada 2 orang pekerja yang membantu dia.
semua juga atas saran Rendra yang menasehati dia untuk tidak sering membawa Zian panas-panasan.
Drrrt Drrt....
ponsel Daniar berbunyi. Melihat nama yang terpampang dilayar membuat dia cemas .
mau tak mau dia harus mengangkatnya.
📞
"Nduk, kamu dimana?ini ibuk udah didepan rumahmu lho nduk.
Tapi kata rewangmu, kamu udah ga disini lagi. kamu dimana nduk?"
"Iya buk, Nia sekarang sudah tidak tinggal disana lagi. nanti Nia ceritakan. Nia sekarang ngontrak didaerah sampangan buk.ibuk sama siapa ke semarang?"
"sama adekmu Doni Nduk."
"buk bilang keDoni saya kirim lokasi ke hp dia ya buk.dia ngerti koq"
"ya wis ibuk tak ketempatmu sekarang"
"nggeh buk hati-hati nggeh"
(iya bu hati-ya)
*******
kira-kira 45 menit ibunya Daniar dan Adiknya tiba dirumah kontrakannya.
"Assalamualaikum buk" ke jemput ibuku didepan rumah dan mencium punggung tangannya.begitu pula Doni mencium tanganku.
"waalaikumsam, nduk ada apa sebenarnya dengan rumah tanggamu?"
"silahkan masuk dulu buk." ibu Daniar pun mengikuti Daniar memasuki rumah kontrakan sederhana.
"Zian mana nduk?"
"lagi tidur buk. ibuk kalau mau cuci kaki dulu , kamar mandinya ada disebelah kanan paling ujung ya bu"
Setelah ibu dan Doni membersihkan diri, Daniar mengajak mereka makan siang terlebih dahulu, stelah dirasa waktu yang tepat, Daniar pun menceritakan semua yang sudah terjadi pada rumah tangganya bersama Dhika.
"kenapa mbak ga crita dari dulu sama kita?" ucap Doni yang tampak prihatin dengan rumah tangga kakaknya.
"mbak cuma ga mau nambah beban bapak sama ibuk dek"
"tapi ga seharusnya kamu nanggung beban itu sendiri nduk"
"iya pangestune mawon buk. Niar mau membuka lembaran baru dengan Zian. usaha Nia Alhamdulillah sudah lumayan.sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari hari kami."
"mas Dhika sangat keterlaluan ya mb. pengen tak hajar itu orang"
"hush ga boleh gitu dek. itu masalah mbak sama mas Dhika. dan sekarang sudah selesai. mbak ga mau berurusan lagi sama mas Dhika."
"mbak ini terlalu baik sama orang, jadi akhirnya dimanfaatin aja"
"udahlah dek. semua sudah berlalu, mbak juga ga mau hidup mbak berputar-putar dimasa lalu saja. mbak harus bangkit dari kegagalan mbak. kamu jadi laki-laki juga harus jadi laki-laki bertanggung jawab dan jangan sampai menyakiti hati seorang istri nantinya ."
"nggeh mbakyu Insyaallah"
"kamu ga pengen pulang aja ke kudus nduk bantu bapakmu ngurusin usaha jenangnya." tanya ibu Daniar.
"enggak buk, Niar mau disini saja. Niar udah punya banyak pelanggan disini. Niar juga udah punya 2 karyawan yang bantu Niar disini buk.jadi kasihan mereka semua kalau Niar tiba-tiba Pergi dari sini"
"Ya sudah kalau begitu ibuk ga bisa maksa kamu nduk. yang penting kamu bahagia.dan jangan sungkan-sungkan hubungi ibuk kalau kamu butuh bantuan kami"
"enggeh buk"
tok tok tok
"Assalamualaikum"..
"siapa itu nduk?"
"bentar bu saya bukakan pintunya."
"Eh Pak Burhan?"
"Bu Daniar ini saya disuruh pak Rendra membawa Vino kesini, dari tadi dia minta maen kesini bu"
"iya Pak ga apa-apa koq. Vino sini sayang ayo masuk. " Vino mencium punggung tangan Daniar dan masuk kedalam rumah,Pak Burhan pun segera pulang.
"mama Nia , dek Zian mana?" iya sekarang Vino juga memanggil Daniar mama.
"Lagi tidur sayang, bentar lagi juga bangun. Vino udah maem belum?
Vino menggeleng. "mau mama suapin?"Vino mengangguk dengan mata berbinar. Anak ini merasa kehadiran Daniar mampu membuatnya kembali merasakan memiliki seorang ibu.
"Siapa itu Nia?"Tanya ibunya Daniar
"em eh ini Vino buk anaknya mas Rendra.
"Rendra?siapa dia?"
" Mas Rendra orang yang pernah nolongin Nia waktu kecelakaan beberapa waktu lalu."
"kamu kecelakaan? ya Allah nduk koq g ngabarin bapak ibu?".
"ga apa-apa koq bu cuma luka lecet aja. ibu sama Doni istirahat saja dulu, Nia mau nyuapin Vino dulu buk."
"sedekat itu kamu sama Rendra? atau kamu ada hubungan lebih sama dia?"
"sejauh ini hanya sebatas teman saja bu"
********
"Assalamualaikum.. "
"waalaikumsalam" Daniar membuka pintu dan menemukan sosok Rendra disana. dia kaget dengan kehadiran Rendra. dia pikir Pak Burhan yang akan menjemput Vino.
"Niar, aku mau jemput Vino. maaf ya udah ngrepotin kamu."
"enggak ngrepotin koq mas, silahkan masuk mas Vino ada didalam lagi main sama Zian." Rendra tampak terkejut tak biasanya Niar mengijinkan dia masuk kedalam rumahnya. ini sesuatu sekali pikirnya.
"Papi.." Vino dan Zian berlari menghampiri ke pelukan Rendra. Ibu Daniar dan Doni yang sedang duduk di depan TV tampak terkejut dengan kehadiran pria tampan yang sedang dipeluk Zian.
"oh mungkin itu yang namanya Rendra?" batin ibunya Daniar.
"Halo sayang gimana seneng maen sama kakak Vino?"
"deneng papi, yian mau maen ama kakak Vino teyus boleh?
"Boleh donk sayang."
"Vino udah makan nak?"
"udah Pi , Vino seneng kalau disni disuapin sama mama Daniar terus"
"huh dasar anak.manja" mereka terkekeh bersama. layaknya pemandangan seorang ayah yang pulang kerja disambut anak-anaknya.
Daniar tersenyum melihat pemandangan didepan matanya itu.
"eh ada siapa ini? Zian sama siapa itu nak?" kata ibunya Daniar.
"ini Papi lendla eyang, papinya Yian sama Kak ino" jawab Zian dengan bahasa cadelnya.
"Ibu, saya Rendra papinya Vino. saya temannya Daniar bu?" ucap Rendra sambil mencium punggung tangan Bu Wati ibunya Daniar.
"oh ya nak Rendra, ini Doni adiknya Daniar." Donipun mengulurkan tangan pada Rendra. "silahkan duduk nak Rendra" mereka pun berbincang bincang sambil minum teh hangat. tak terasa sudah pukul stengah 9 malam, Vino dan Zian pun sudah tertidur didepan televisi.
"Bu, saya pamit pulang dulu. mungkin kapan-kapan saya akan mampir ke kudus ketempat ibu".
"iya nak Rendra dengan senang hati ibu akan sangat senang nak Rendra bjsa ke kudus nanti bisa ketemu bapaknya Daniar juga."
"iya bu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam"
kepergian Rendra menimbulkan banyak pertanyaan pada Daniar.
"mau ngapain mas Rendra kekudus?" jangan-jangan mau... ah bodo lah. paling juga mau jalan-jalan aja." batin Daniar.
********