Horror Story

Horror Story
7.Arwah



Namaku Desi, aku merupakan anak magang di perusahaan yang terkenal. Semua temanku sangat iri dengan ku karena bisa magang di perusahaan itu. Aku juga tidak menyangka orang sepertiku bisa diterima di perusahaan itu.


Awalnya aku pikir disitu akan menyenangkan, tapi ternyata itu hanya sekedar ekspetasi ku saja karena realitanya aku harus kerja dan juga lembur di hari pertama ku.


"Desi, kau harus menyelesaikan laporan ini" Ucap Bu Sarah seorang atasan yang berada di divisi yang sama denganku


"Tapi Bu, ini kan hari pertama saya bekerja bukankah saya harus melihat-lihat terlebih dahulu?"


"Kau juga sudah lihat kan?! Semua orang di sini sedang sibuk. Oleh karena itu, kau ada di sini untuk membantu. Apakah ada masalah menyuruh anak magang menyusun laporan di hari pertamanya?"


"Ti-tidak"


"Baguslah...Cepat selesaikan"


"Iyaa Bu"


Dan di hari pertama ku bekerja, aku sudah harus ikut lembur bersama pegawai yang lain. Saat sudah pukul 2 malam, akhirnya aku selesai menyusun laporan ku. Aku pun segera pulang sedangkan yang lain sepertinya harus lembur sampai pagi.


Saat pulang aku pun menaiki taksi, jalanan sudah terlihat sepi dan hawa dingin menyelimuti tubuh ku.


"Neng baru pulang kerja ya" Suara pak supir memecah lamunanku


"Ah iya pak"


"Lama banget neng lembur sampe jam segini"


"Hmm ya"


"Jangan terlalu sering pulang malam neng apalagi suka melamun"


"Emangnya kenapa pak?"


"Nanti disandar makhluk halus lho neng"


"Ah..Si bapak sempat-sempatnya bercanda"


"Saya gak bercanda neng, cuma mau bilang hati-hati aja"


"Iya pak"


Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik membahas hal horor, bukannya aku tidak percaya dengan hal yang begituan tapi aku merasa hidupku lebih horor daripada makhluk yang belum pernah kulihat itu.


Aku pikir hanya karena hari pertama makanya akan sesibuk itu tapi ternyata sudah hampir seminggu, aku selalu mengerjakan pekerjaan yang bahkan bukan tugas ku. Dan yang lebih parahnya aku hampir selalu lembur setiap malam. Yang paling sering menyuruh ku melakukan banyak tugas tidak lain adalah Bu Sarah, atasan yang bekerja di divisi yang sama dengan ku.


"Desi, cepat print semua dokumen ini"


"Lho kenapa bukan ibu sendiri yang melakukannya?"


"Bukan seperti itu Bu, hanya saja saya masih menyusun laporan"


"Kau bisa mengerjakan itu nanti! Lebih baik kau print saja ini sekarang! Dokumen ini harus dikumpul saat ini juga!"


"Baik Bu"


"Dan jangan lupa buatkan juga saya kopi"


"Ha?"


"Kau mengerti?!"


"Iyaa Bu"


Aku paling benci dengan Bu Sarah,dia selalu saja menyusahkan ku mentang-mentang dia seorang atasan. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap seperti itu pada ku. Aku pun segera memprint dokumen yang diminta Bu Sarah dan sebelum menyerahkan nya aku juga membuat kopi sesuai perintah nya.


Saat aku selesai melakukan semua tugas Bu Sarah, aku pun segera ke ruangannya. Ketika hendak masuk aku mendengar Bu Sarah berbicara dengan salah satu pegawai.


"Sarah, aku merasa kau mempersulit anak magang itu"


"Benar, aku sengaja melakukannya"


"Kenapa?"


"Dia itu sok cantik, aku benci dengannya baru saja datang dia sudah mendekati laki-laki dari berbagai divisi"


Aku terkejut saat Bu Sarah mengatakan itu, aku tidak menyangka dia melakukan itu padaku karena alasan konyol seperti itu. Padahal aku tidak pernah cari perhatian dengan siapapun tapi memang aku hanya lebih mudah akrab dengan laki-laki ketimbang perempuan.


Entah kenapa hari itu aku merasa sangat lelah apalagi saat aku tahu Bu Sarah sengaja mempersulit ku. Hari ini aku lebih cepat pulang dari biasanya karena sedang tidak enak badan. Awalnya Bu Sarah tidak mengizinkannya tapi karena pegawai lain membantuku berbicara akhirnya aku sudah bisa pulang pukul 10 malam.


Aku pun banyak melamun di sepanjang perjalanan ke rumah, tubuhku sangat lelah. Ketika sampe ke rumah aku langsung berbaring di tempat tidur.


Baru saja aku menutup mata 15 menit terdengar keributan di sebrang jalan rumahku. Sepertinya ada yang kecelakaan. Aku melihat warga berkumpul, polisi, dan eh..Ada Bu Sarah dan juga pegawai kantorku yang lain.


Akupun segera keluar dan masuk ke kerumunan para warga yang berkumpul itu, aku mendekati Bu Sarah dan dia menangis histeris sembari bergumam meminta maaf.


"Siapa yang membuat Bu Sarah sampe menjadi seperti ini?" Tanyaku


Dia tidak merespon pertanyaanku. Akupun terus bertanya tapi dia hanya terus menangis melihat ke arah wanita yang memakai jas kantor itu yang sudah bersimbah darah.


Awalnya aku tidak jelas melihat siapa perempuan itu tapi saat mobil ambulans datang dan membawa korban kecelakaan itu, tubuhku seketika kaku. Aku melihat diriku yang dibawa petugas medis itu.


"Apa yang terjadi? Mengapa aku ada disitu?!" Ujar ku berteriak histeris


Akupun segera memegang Bu Sarah dan orang yang ada di sekitarku, dan tanganku menembus semuanya. Polisi pun menyatakan bahwa aku meninggal karena kecelakaan saat hendak menyeberang jalan. Saat itu aku ingat aku memang ditabrak mobil saat hendak menyebrang karena melamun. Aku tidak menyangka bahwa hanya arwah ku yang sampe ke rumah sedangkan tubuhku sudah meninggal.